Berjuang sendiri dalam sebuah hubungan, seringkali menjadi upaya yang melelahkan. Pada akhirnya, seseorang tidak bisa memaksakan untuk perbaikan hubungan yang terputus bila satu sama lain belum siap. Siap dalam artian, mau untuk saling mendampingi secara emosional dan menyelesaikan perkara hingga terasa seimbang. Ada paradoks yang aku perhatikan dari pengalaman hidup ku. Kebanyakan upaya yang aku inisiasi secara jujur, menghadapkan aku pada seseorang yang mau untuk melakukan perbaikan tetapi tidak mau untuk saling mendampingi secara emosional. Pemahaman perbaikan tanpa pendampingan, tampaknya seperti upaya yang dilakukan setengah-setengah.
Pengalaman ini menjadikan sebuah perdebatan batin yang mendalam. Pernah aku berspekulasi bahwa ketidakmampuan untuk perbaikan hubungan ada kaitannya dengan kolonialitas. Logika kolonial tidak hanya bekerja pada tingkat institusi politik atau perbatasan teritorial, melainkan juga merayap secara halus ke dalam ruang paling intim dari kehidupan kita sehari-hari: hubungan interpersonal. Melihat betapa dalamnya logika kolonial menjajah ruang emosional kita, transisi menuju pemulihan hubungan yang sejati menuntut sebuah proses unlearning, yaitu membongkar kembali pengetahuan opresif yang telah kita internalisasi sejak kecili.
Namun sebelum percakapan ini menjadi lebih jauh, aku berhenti pada sebuah ringkasan salindia foto yang ku peroleh dari Instagram Bunny Michaelii.
Aku terjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai berikut:
- Hubungan adalah proyek penyembuhan kolaboratif. Jika kamu tidak siap untuk melakukan percakapan yang sulit, ini tidak akan berhasil bagi kita...
- Hubungan adalah proyek penyembuhan kolaboratif. Jika kamu tidak bersedia berpartisipasi dalam melakukan introspeksi diri sehingga kita berdua dapat berbagi apa yang telah kita pelajari tentang diri kita sendiri, maka hubungan ini tidak akan bisa berkembang.
- Hubungan itu seperti organisme hidup. Jika kita tidak menyiraminya bersama-sama, ia akan mati.
- Tidak ada yang lebih buruk daripada merasa harus menjadi versi diri kamu di masa lalu agar dicintai dan diterima oleh orang-orang yang menjalin hubungan dengan Anda.
- Kamu pantas mendapatkan hubungan yang tumbuh bersama mu.
Salindia-salindia tersebut mengundang aku untuk melakukan jeda. Dari sekian banyak upaya perbaikan hubungan yang aku lakukan, ada beberapa yang berhasil dan justru menjadi hubungan yang tak tergoyahkan sekarang. Sebagai pengingat, hubungan yang ku bahas di sini bisa jadi pertemanan atau romantis.
Rekonsiliasi didefinisikan sebagai proses individu dan kolektif yang berkelanjutan untuk membangun serta memelihara hubungan yang saling menghormati, yang membutuhkan komitmen jangka panjang dari semua pihak yang terdampakiii.
Aku berhenti sejenak sekali lagi dan menghela nafas.
Gak semua hubungan layak atau aman diperbaiki. Sekuat apa pun harapan yang ditumpu pada masa depan yang mungkin terjadi, kita perlu memahami bahwa ada hubungan yang sebaiknya dibiarkan begitu saja. Perbaikan hubungan tidak akan berjalan jika salah satu pihak terus memprioritaskan kontrol, agresi, dan dominasi di atas rasa empati, asuhan, dan tanggung jawabiv.
Giri, dalam jurnalnya, mengingatkan aku sesuatu yang penting. Menolak kehadiran seseorang atau pengaruh luar yang terus-menerus merusak adalah tindakan yang sah, karena keberadaan yang berkepanjangan tanpa batas dari pihak yang beracun terbukti membawa dampak burukv.
Aku diajarkan oleh lingkungan ku bahwa bagaimana pun yang terjadi, hubungan dengan seseorang jangan lah sampai terputus. Namun dalam perjalanan hidup ku, nilai itu tidak realistis untuk hidup yang berkelanjutan. Beberapa orang yang ku perhatikan menunjukkan sikap yang sudah berbaikan, tetapi relasi yang ada bukanlah perbaikan. Namun ada perhelatan yang menunjukkan bahwa relasi antara beberapa orang kini baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Meskipun yang sebenarnya justru penetapan batasan dan tidak ada perbaikan maupun rekonsiliasi yang terjadi.
Tuntutan moral untuk selalu memaafkan dan dilarang memutus hubungan saat konflik terus berulang terasa tidak masuk akal. Itu adalah bentuk penundukan emosional yang justru melanggengkan kekerasan.
Menyelamatkan diri dari relasi yang manipulatif bukanlah tanda bahwa kita menolak pengampunan, melainkan pengakuan jujur bahwa sebuah hubungan tidak dapat dihidupkan sendirian. Hubungan adalah organisme hidup yang membutuhkan komitmen bersama untuk saling menyembuhkan. Ketika tidak ada kesiapan emosional dari pihak lain untuk berproses secara seimbang, membiarkan hubungan tersebut selesai adalah keputusan yang adil. Batasan yang tegas bukan bentuk pemutusan rasa peduli, melainkan pondasi agar kita dapat membangun relasi yang benar-benar sehat dan memanusiakan di masa depan.
Aku mulai mengurangi penggunaan kecerdasan buatan dan menulis dengan lebih lambat. Dukung aku dengan mentraktir aku melalui tautan teer.id/kalaupadi.
iPradip Raj Giri, “Unlearning Love: Defying Colonial Knowledge in Bell Hooks’s All About Love: New Visions,” Tribhuvan University Journal 39, no. 2 (2024): 218–32, https://doi.org/10.3126/tuj.v39i2.73006.
ii“Bunny Michael di Instagram: ‘Love is mutual support of inner growth 🩷 I recorded my new pod ep in the bathroom of my hotel room btw love you,’” Instagram, 4 Agustus 2026, https://www.instagram.com/bunnymichael/p/DboY9efgeU3/.
iiiSebenarnya definisi ini mengambil rekonsiliasi dalam konteks ekologi sebagai berikut: proses yang menciptakan hubungan yang menyembuhkan dan mewujudkan transisi yang adil bagi semua pihak yang terlibat. Memulihkan keseimbangan kita dan menegaskan komitmen kita terhadap keadilan adalah cara kita mendekolonisasi dan merehumanisasi. Hartman Deetz, “Restoring Relationships with Lands and Returning Stewardship to Indigenous Hands | Cultural Survival,” Organization Website, Cultural Survival, Cultural Survival, 23 Januari 2024, https://www.culturalsurvival.org/news/restoring-relationships-lands-and-returning-stewardship-indigenous-hands.
ivNilai kepedulian dan cinta cenderung didevaluasi dalam sistem patriarki, di mana ekspresi emosional dari pihak subordinat kerap dicap sebagai bukti ketidakberdayaan. Giri, “Unlearning Love,” 220.
vGiri, “Unlearning Love,” 226.


Posting Komentar