Ini adalah sebuah catatan meditasi gerak yang dilakukan bersama Ibu Marintan Sirait dalam National Dharma Festival yang diadakan Minggu, 16 Juni 2026 di Nara Park, Ciumbuleuit, Bandung.
Saat kaki ku menapak di tanah. Berjalan pelan, sebagaimana ibu Marintan Sirait mengarahkan kami dalam meditasi gerak. Saya mengosongkan pikiran saya. Menyaksikan bagaimana tubuh bereaksi kepada bumi yang aku pijaki. Helaan nafas yang lembut. Jalan yang sesekali tidak teratur, meskipun diarahkan untuk tumit lebih dulu.
“Tidak usah menjadi sempurna,” ku katakan pada diriku sendiri.
![]() |
| Refleksi bersama Ibu Marintan Sirait |
Perjalanan yang panjang sudah berlalu. Aku sudah cukup merasa lelah. Perjalanan dari titik nol ini membawa aku pada sebuah kemelut yang mendalam. Aku kembali miskin. Belum bisa kembali melakukan kebiasaan nongkrong di kafe seperti sebelumnya. Belum ada lowongan pekerjaan yang cukup ajeg untuk menerima diriku.
Di langkah-langkah berikutnya, aku mengingat. Untuk tiba di tempat ini, meskipun terlambat, aku melalui perjalanan sepeda yang panjang menaiki dataran tinggi. Saat tiba di tanjakan, aku mulai mendorong sepeda ku sampai ke puncak tempat kegiatan. Aku menghela nafas. Di saat yang bersamaan, aku sebenarnya tidak mau datang. Namun aku penasaran, juga ingin berbagi rasa syukur dengan melakukan meditasi ini bersama.
Pikiran-pikiran ini berjalan juga, tetapi tubuh ku pasrah dalam meditasi gerak. Seakan benang-benang pikiran itu diputus satu per satu. Tubuh menenun kesadaran ku pada apa yang di hadapan. Selama ini terus-terusan memperhatikan orang lain. Aku diingatkan bahwa tubuh ku kini berpijak pada tanah sebuah kota yang aku kira menolak kehadiran diriku. Dengan pengucilan diri yang ku lakukan cukup lama, dengan relasi-relasi orang dan komunitas yang terputus, juga yang terhubung kembali, dengan tubuh ku di masa lalu yang terasa sudah hancur berkeping-keping oleh ragam perlakuan yang ku terima.
Tubuh ku ingat ragam peristiwa itu. Tubuh sebagai arsip menunjukkan aku tentang repositori dinamis yang mencatat, menyimpan, dan mewariskan pengalaman hidup, trauma sejarah, serta resistensii.
Mungkin selama ini aku keliru dalam memahami bahwa kota ini menolak ku. Yang ku butuhkan adalah teman, komunitas dan pekerjaan yang bermakna. Meskipun aku belum menemukan pekerjaan yang sepenuhnya layak. Setidaknya, aku mengerjakan sesuatu yang buat aku riang gembira dan terus-terusan penasaran.
Keseluruhan laku meditasi ini mengingatkan ku tentang ucapan dosen saya soal membangun kembali hubungan di hadapan kolonialitas. Membangun kembali hubungan antara manusia dan non-manusia merupakan salah satu projek dekolonial dan metafisik paling mendasar dalam menghadapi krisis ekologis global saat iniii. Kita diingatkan untuk mendengarkan kembali suara-suara dari bawah yang memperjuangkan kekerabatan (kinship) erat antara manusia dan alam, seperti hubungan spiritual dengan sungai, hewan, dan tanah di tengah kerusakan lingkungan akibat kapitalisme ekstraktifiii.
Sehingga pada akhirnya, aku diingatkan lagi bahwa kita (manusia dan non manusia) punya hak untuk menentukan nasib diri sendiriiv. Kita hadir karena saling membentuk.
Tulisan ini dibuat dengan intervensi AI minimum. Untuk mendukung karya-karya saya ke depannya, berikan donasi mu ke teer.id/kalaupadi.
i“Dalam organisasi biologis-fisik-mentalnya, tubuh bersifat tunggal, ia dibentuk secara epigenetik. Namun, sebagai arsip pengalaman dan tempat penyimpanan pengalaman tersebut, tubuh menjadi terdepersonalisasi. Gender, ras, seksualitas bukan sekadar karakteristik individu tetapi selalu merupakan karakteristik fisik (dan juga psikologis) yang dimiliki bersama. Dilihat secara sosial, tubuh-tubuh bertemu satu sama lain, dan terisolasi dalam praktiknya secara politis. Dengan demikian, kesamaan atau komunitas antar tubuh menjadi lemah, bahkan rapuh.” Hanne Loreck, “Archives of the Body: Overview,” Repository, Archives of the Body, Hamburg University of Fine Arts, diakses 17 Agustus 2026, https://archives-of-the-body.hfbk.net/overview.
iiDeni Miharja dan Iis Badriatul Munawaroh, “Relational Human–Nature Ethics in Indigenous Ritual Practice: The Selametan Ubar Pare among the Baduy Community in Indonesia,” Religious: Jurnal Studi Agama-Agama Dan Lintas Budaya 9, no. 3 (2025): 217, https://doi.org/10.15575/rjsalb.v9i3.40702; Agung Nugroho Reformis Santono dkk., “Sacred Sustainability as a Post-Development Ethos: Recontextualizing Seyyed Hossein Nasr’s Metaphysics for Indonesia’s Ecological Crisis,” Journal of Critical Ecology 3, no. 1 (2026): 20, https://doi.org/10.61511/jcreco.v3i1.2808.
iiiGde Ngurah Reza Rizaldy, “Religion, Decolonization, and the Planetary Community: Voices from the Indonesian Archipelago: By Whitney A. Bauman, Samsul Maarif, and Jonathan Davis, eds.,” Indonesian Journal of Theology 14, no. 1 (2026): 168–70, https://doi.org/10.46567/ijt.v14i1.848.
ivsebagaimana dijelaskan oleh Costas M. Constantinou dkk., “Reimagining Self-Determination: Relational, Decolonial, and Intersectional Perspectives,” Political Geography 118 (April 2025): 3, https://doi.org/10.1016/j.polgeo.2024.103112.



Posting Komentar