Di awal-awal tahun saya hidup dengan psikosis berat, saya belum menyadari kekakuan pikir yang membuat saya terpaku bahwa ada seseorang yang bertanggung jawab atas rasa sakit yang saya alami saat itu. Sepanjang awal masa hidup saya hingga di usia awal 20-an, saya belajar untuk senantiasa melindungi diri dari perasaan sakit. Seperti yang dijelaskan dalam video yang saya sematkan di awal artikel ini, keyakinan untuk melindungi diri dari rasa sakit membuat saya sensitif pada tanda-tanda non verbal dan secara otomatis menafsirkan peristiwa sebagai ancaman.
Ada cara belajar yang keliru serta trauma dan emosi yang belum selesai saat itu. Pekerjaan rumah yang ternyata sebegitu banyaknya saya kerjakan dengan tekun satu per satu. Senantiasa menguji dan merekam emosi dan pemikiran saya, wawasan hadir setiap waktu. Kesempatan itu tidak datang dua kali.
Kemudian emosi bisa dikenali, alur penyembuhan trauma mulai terbiasa, dan kebiasaan terbangun. Butuh waktu dalam belajar merawat jiwa sendiri. Ada waktu untuk persiapan, menangani kemunculan atau pemicu, hingga merencakan kebiasaan baru.
Percakapan dengan teman mengenai perlindungan diri secara tidak sadar yang bertujuan melindungi pengalaman rasa sakit, sudah berlangsung cukup lama. Dengan sumber daya dan dukungan yang layak dan tepat, diri bisa berkembang. Selang beberapa tahun berlalu hingga saya mengenal, memahami, dan menerima peristiwa yang lalu.
Orang yang terpaut itu bukanlah yang bertanggung jawab atas rasa sakit yang saya alami. Melainkan diri saya yang bertanggungjawab dan berupaya merawat jiwa saya sendiri. Ambil waktu untuk rawat diri dan bertumbuh. Serta berterima kasih atas kesempatan untuk tumbuh dan berkesadaran.
ini adalah tulisan Kalaupadi bertema Renungan. Dukung Kalaupadi dengan beri jajan di nihbuatjajan.com/kalaupadi.
Posting Komentar