tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Doa untuk Resiliensi

Dari segala serba harap yang tak terpenuhi. Diri terjatuh lagi dalam relung kesendirian. Membatasi hal-hal yang masuk ke tubuh dan berduka. Kenapa aku mesti hidup dalam kronologi waktu ini? Kenapa aku harus melalui penderitaan ini?

Gulungan layar membuka potongan-potongan video dan kisah. Terpaku pada pandangan tentang “tak apa-apa untuk merayakan dan mengakui diri sebagai korban. Izinkan diri untuk benar-benar merasakan emosi yang selama ini dihindari.” Saking mati rasanya, tidak tahu emosi ini mau diapakan selain diajak duduk dan bermalam. Berlanjut di dini hari keesokan harinya. Saya menyambut emosi itu dan bertegur sapa. “Padahal saya sudah bikin batasan, kenapa kamu masih bisa terus masuk?”

Itulah emosi orang yang tidak sengaja terserap. Kegundahan yang tidak selesai di diri sendiri akan membuat diri secara tidak sadar melakukan kekerasan pada sesama, bahkan di saat diri punya keistimewaan untuk membela yang tertindas. Namun malah, diri yang jadi penindas di saat diri berperan membela. Pelabelan dan harapan yang tidak realistis, saya berbisik pada diri sendiri “saya mau hidup dan kerja layak dan inklusif. Kenapa memperjuangkannya begitu sulit?”

Tampaknya orang jadi tidak peduli karena mereka belum selesai dengan pergumulan pribadi, dengan keluarga mereka, dengan komunitas mereka. Keamanan dibangun dari persepsi semu yang dibuat oleh keyakinan yang kaku hasil dari trauma. Berkali-kali terus merasakan dan menemukan aspek ini melelahkan karena itu adalah tanggung jawab mereka, bukan saya. Berkali-kali terus mengingatkan diri untuk melepas karena itu bukan emosi milik saya. Menjadi berwelas asih pada tingkatan ini dipelajari melalui penderitaan karena saya kurang memahami bagaimana emosi bekerja dan saya terpaksa untuk belajar semua proses ini.

Saya belajar alternatif lain untuk menjangkau kembali hal-hal yang sempat saya tinggalkan karena pernah dijegal langkahnya. Ada jalan, dan ada harapan. Kembali merebahkan tubuh dan ingatkan. Saatnya istirahat dan berhenti. Mari kita catat apa saja yang sudah terjadi di dalam kehidupan ini. Hal baru apa yang datang, apa yang bisa dipelajari, dan apa yang bisa dilakukan ke depannya.

Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sedia hadir mendukung. Mari berhenti mengikuti orang-orang atau kelompok yang tidak perlu. Mari duduk di sini dan dengarkan dari dalam.

Ternyata emosi selalu jadi perkara yang sulit buat saya. Orang berusaha melindungi dirinya dari kenyataan yang tidak bisa diterima. Aku masih terus berdoa dan berupaya untuk bisa bermakna di kronologi waktu ini. Setelah banyak hal yang direnggut, aku merasa tak punya apa-apa, ku bertanya tentang hal baik apa yang ada di dalam. 

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer