Dalam percakapan antara saya dan teman-teman saya, saya pernah beberapa kali menyebutkan tentang dinamika penindasan. Itu bisa saya sadari setelah mengerti tentang trauma dan bagaimana itu membentuk keseharian dan budaya kita. Budaya kekerasan berasal dari pola kaku di anggota komunitas yang belum selesai, sehingga menciptakan dinamika kekerasan yang memperbanyak trauma baru. Rasanya sakit banget untuk membayangkan dan juga sedih melihat bagaimana budaya kekerasan bisa lestari dan bahkan diwariskan ke beberapa generasi berikutnya.
Mari kita merenung bersama tentang pernyataan dinamika penindasan. Ini sebenarnya sebuah kegiatan lanjutan, tetapi masih bisa saya bagikan dan renungkan bersama. Kutipan ini saya ambil dari Pedoman Fasilitator Hidup Tanpa Kekerasan – Menciptakan Budaya Damai (Nadine C Hoover dkk., 2020). Kita bisa merenungkan bersama tentang bagaimana dinamika penindasan berjalan di kehidupan kita masing-masing.
Dinamika Penindasan
Trauma muncul ketika kita tidak bisa beradaptasi, dan menjadi kewalahan oleh rasa sakit, kehilangan, ketakutan, ketidakadilan, atau pemutusan, terutama ketika tertangkap sendirian tanpa perhatian yang baik dari orang lain.
Saat kita masih kecil dan lemah, orang dewasa kadang-kadang menggunakan kekuatan yang tidak perlu atau tidak adil atau tidak peduli atau tidak responsif ketika kita membutuhkan cinta dan perhatian. Tidak siap dan tidak mampu membela diri kita sendiri, kita terluka atau merasa sendirian.
Tanpa perhatian yang baik di saat seperti itu kita mungkin memutuskan, "Yah, ku rasa untuk bertahan hidup, aku harus ..."
Keputusan seperti itu yang dibuat sebagai seorang anak dapat menjadi pola yang kaku seperti orang dewasa, yang kita mainkan kembali dalam hubungan interpersonal dan struktur sosial.
Perlakuan yang meremehkan, keras, atau tidak adil mungkin mengingatkan kembali ketika kita disakiti atau diabaikan di masa lalu, dan mengatur ulang keputusan dan pola kaku tentang ketidakmampuan, ketidakberdayaan, atau pemutusan hubungan.
Kita mungkin berusaha untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi di masa lalu, dan karenanya menjadi kaku. Tidak dapat memenuhi kebutuhan kaku, kita tidak pernah merasa puas di masa sekarang atau percaya akan masa depan.
Ketika kita bertindak berdasarkan keputusan yang kaku, pola kegundahan, atau kebutuhan kaku, kita kehilangan kontak dengan nurani, dan juga dengan kedewasaan, kebaikan, kekuatan batin, dan kemampuan kita, dan menghidupkan kembali luka masa lalu melalui peran korban, penyelamat, atau pelaku:
- Sebagai korban, kita dapat menginternalisasi ketidakadilan, percaya hukuman yang dijatuhkan, merendahkan diri, atau bahkan sabotase diri mencoba mengendalikan kapan serangan akan terjadi, secara efektif menindas diri kita sendiri.
- Sebagai penyelamat, kita dapat mengalihkan peran korban ke orang lain, bahkan keluarga atau teman, terus-menerus menyelamatkan orang lain tanpa menantang penyebab yang mendasar.
- Sebagai pelaku, kita dapat menggunakan kekuasaan atas orang lain, melarikan diri dari peran korban dengan menjadi pelaku atau dengan mengambil kendali atas orang lain.
Mereka mungkin memiliki nilai bertahan hidup sementara, tetapi tidak memiliki fungsi yang baik ketika tertanam dalam kebiasaan yang membentuk kepribadian, budaya, dan institusi dari generasi ke generasi, terlepas dari niat terbaik.
Masyarakat modern memanfaatkan pola-pola yang menindas ini untuk eksploitasi, menugaskan posisi-posisi kekuasaan yang tidak perlu dan tidak adil kepada sebagian orang di atas yang lain, dipuji sebagai pencapaian. Ini mendorong kita untuk bercita-cita dan memperebutkan posisi-posisi yang menindas, tidak menghindarkan siapa pun terluka atau menyakiti orang lain dalam siklus penindasan antargenerasi.
Untuk menangkal pola kegundahan yang tertanam, kita:
- Menanamkan penyembuhan melalui perhatian yang baik, pengaliran emosi, dan memori yang diproses ulang.
- Belajar dari dan bertindak dalam solidaritas dengan orang-orang yang tertindas atau berbeda dari diri kita sendiri.
- Menantang pola-pola yang tertanam dalam diri kita saat kita berbicara dan mengambil tindakan melawan ketidakadilan dan penindasan dan berdiri dan mengambil tindakan untuk perdamaian dan keadilan, cinta dan hati nurani.
Refleksi
Pola-pola ini mengingatkan saya tentang budaya kekerasan di sekolah. Saya ingat saat di sekolah, ada budaya kekerasan di organisasi sekolah. Kekerasan itu disisipkan dalam pendidikan kaderisasi siswa. Sehingga ada anggapan bahwa jika mau jadi ketua organisasi maka mesti siap menerima hukuman dan kekerasan dari senior. Pola ini terus diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Bahkan sudah terjadi selama lebih dari sepuluh tahun.Kesadaran dan keprihatinan atas budaya tersebut muncul ketika saya mempertanyakan apakah perlu seseorang yang mau belajar manajemen dan organisasi sekolah mesti bersedia untuk mendapatkan kekerasan dari senior dan teman seangkatan? Apa benar kekerasan seperti penamparan, hukuman, cacian verbal diperlukan untuk membangun mental kuat? Apa itu benar-benar perlu dan berdampak baik dalam kehidupan?
Lewat beberapa tahun setelah kejadian kekerasan terjadi padaku, kemudian saya dapat kabar bahwa budaya penamparan dihentikan. Namun tidak untuk cacian verbal dan drama psikologis. Saya sendiri gemas ingin intervensi dan membangun model kaderisasi yang non kekerasan, bahwa saya sudah belajar membangun resiliensi itu bisa dengan tanpa kekerasan. Belakangan ini pun ada beberapa alumni seangkatan dan beberapa angkatan di bawah saya melaporkan bahwa pendidikan kekerasan dalam kaderisasi organisasi sekolah berdampak buruk pada kesehatan mental mereka. Ada teman yang saya rujuk ke Psikolog untuk pemulihan, beberapa minta diafirmasi dan menyampaikan pengakuan padaku bahwa apa yang saya suarakan tentang menghentikan pendidikan kekerasan di sekolah itu benar.
Namun, kondisinya kini, saya sudah tidak ada daya untuk sekolah tersebut. Saya perhatikan pun, budaya kekerasan dan pengakuan dari pendidikan kekerasan sepertinya punya candu tersendiri. Anak-anak saat ini membanggakan pendidikan kekerasan di organisasi sekolah untuk menyesalinya di kemudian hari. Saya berdoa dan berharap ada sekelompok orang yang sama-sama peduli dan menyuarakan perubahan di sekolahnya masing-masing. Orang-orang mungkin gelap mata setelah lihat prestasi dan pengakuan tanpa tahu bahwa untuk mendapatkan prestasi tersebut, ada kekerasan pada anak terjadi.
Begitulah refleksi yang saya bagikan di postingan ini. Memahami dinamika penindasan akan lebih mudah dipahami setelah kita belajar dan mengerjakan emosi dan trauma pribadi. Merupakan proses yang panjang bagi seseorang untuk tiba di ranah menyadari dinamika penindasan. Postingan ini merupakan spoiler bagi kamu yang baru memulai mengerjakan trauma dan emosi pribadi.
Ini merupakan postingan renungan dan pendidikan Kalaupadi. Kamu boleh membagikan refleksi kamu di kolom komentar. Kamu juga boleh mengirimkan permintaan artikel atau topik untuk diposkan di blog Kalaupadi, caranya tinggal isi buku tamu yang ada di halaman ini atau kirim surel ke halokala@proton.me. Kamu juga bisa mendukung Kalaupadi dengan beri saya uang jajan di nihbuatjajan.com/kalaupadi atau melalui widget nihbuatjajan yang tertera di kanan bawah laman blog ini.
Referensi
Nadine C Hoover, Alma (Kins) Aparece, Subhash Chandra, Chris Hunter, Park Jungjoo, Petrus, Nanik, & Rosie Remmerswaal. (2020). Panduan Fasilitator Menciptakan Budaya Damai dan Keadilan yang Lestari: Sebuah gerakan cinta dan hati nurani. Friends Peace Teams.
Posting Komentar