tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Lemah Cai, Tanah Air Tempat Kita Berpulang

Apa yang kamu bayangkan tentang tanah air? Saya ingat saat lagu-lagu nasional senantiasa diajarkan dan dinyanyikan di sekolah. Kata tanah air disebutkan berulangkali. Saya anak SMK waktu itu menghayati kebanggaan dan nasionalisme dalam diri, menyanyikan lagu dengan saksama dan penuh rasa syukur. Perasaan itu masih terasa hingga saat ini, terngiang dan terekam dalam ingatan. Lalu, saya memikirkan makna pribadi dari tanah air. Saya tahu bahwa itu merujuk kepada tanah kelahiran saya, yang awalnya saya rasa tidak nyaman karena diskriminasi dan ketidakadilan. Namun, makna yang muncul adalah saya hidup di tanah ini dan saya mau terlibat sebagai warga negara. Kepemimpinan warga negara yang bermakna muncul menjadi perhatian. Betapa indahnya konsep yang muncul pada saat ini. 

Saya berkesempatan berbincang dengan kakek saya. Kakek berkata, “meskipun tanah kelahiran saya adalah tanah bekas peperangan dan konflik ekstremis, saya senantiasa merindukan kesenangan dan kenyamanan rumah saya. Meskipun kenangan suasana malam senantiasa mencekam. Saya tetap kembali. Karena itu adalah lemah Cai, Tanah Air. Tempat saya Berpulang.”

Saya berhenti sejenak setelah mendengarkan pernyataan kakek. Saya berpikir tentang apa makna saya hidup di dunia? Juga tentang tanah dan air, yang membolehkan dirinya untuk dipijak dan dihidupi oleh ku... Aku kagum dan  takjub. Kenangan-kenangan makna dan pendidikan hadir. Saya mencari makna di balik hadiah yang saya dapatkan dari kakek. Ke mana saya Berpulang? Saya tidak tahu pasti akan ke mana tetapi aku nyaman berada di tempat aku berada sekarang. 

Saya mencari dengan kueri “Naha urang kudu ngajaga lemah cai” di mesin pencari. Jawaban menarik saya temukan di  laman https://brainly.co.id/tugas/11466760 sebagai berikut:
Lemah cai, umpama dina basa Indonesia sarua hartina jeung "tanah air". Lemah hartina nyaeta taneuh. Dina jawaban anu geus aya, waktu ditanya "naha urang kudu ngajaga lemah cai?" aya anu nyangka yen pananya teh ngeunaan "naha kunaon urang kudu ngajaga cai". Padahal anu dimaksud nyaeta ngajaga lemah cai, tanah kelahiran atawa nagara. Urang kudu ngajaga lemah cai nyaeta supaya lemah cai urang henteu aya anu ngarebut. Umpama henteu ku urang, rek saha anu daek ngajaga lemah cai urang.

Lemah cai, umpamanya dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan “tanah air”. Lemah artinya tanah. Dalam jawaban yang sudah ada, saat ditanya “kenapa kita harus menjaga tanah air?” Ada yang menyangka bahwa pertanyaannya tentang “kenapa kita harus menjaga air?” Padahal yang dimaksud adalah menjaga tanah air, tanah kelahiran atau negara. Kita harus menjaga tanah air supaya tidak ada yang merebut. Jika tidak oleh kita, siapa yang mau menjaga tanah air kita?
 
Kemudian ada  pertanyaan ” kumaha carana urang kudu ngajaga lemah cai?” yang jawabannya:
Carana urang kudu ngajaga lemah cai teh nyaeta ku ngajaga sacara fisik jeung ngajaga sacara non-fisik. Ngajaga sacara fisik nyaeta ku ngajaga kakayaan jeung kaamanan fisik nagara saperti ku cara jadi anggota tentara jeung sajabana ti eta. Sedengkeun anu dimaksud ngajaga lemah cai sacara non-fisik nyaeta ku ngamumule seni jeung budayana, jeung sajabana ti eta.

Cara kita harus menjaga tanah air adalah dengan menjaga secara fisik dan menjaga secara non fisik. Menjaga secara fisik yaitu menjaga kekayaan dan keamanan fisik negara seperti menjadi anggota tentara dan selain dari itu. Sedangkan yang dimaksud dengan menjaga tanah Air secara non fisik adalah dengan melestarikan seni dan budayanya, serta hal-hal selain itu. 

Menarik untuk mengetahui pertanyaan seperti itu muncul dan diberikan kepada teman-teman di sekolah dasar. Lewat situs itu pun, mungkin anak-anak akan mengambil jawaban yang sama dengan yang telah saya terjemahkan di atas.

Hal menarik berikutnya adalah menjaga secara fisik dan non fisik. Saya teringat tentang kampanye keberlanjutan yang sedang menggema dimana-mana. Ternyata itu memang menjadi salah satu cara untuk menjaga tanah air. 

Kembali soal tanah air dalam percakapan kakek. Yang saya dapatkan dari pernyataan kakek saya adalah tanah air menjadi tempat Berpulang seberapa jauhnya kita pergi. Lagu Jalan Pulang oleh Yura Yunita pun terngiang. 
Kamu bisa dengarkan lagunya di https://youtu.be/XUDZCDXNLDc.

Saya rasa lagu Jalan Pulang mewakili apa yang kakek saya rasa tentang tanah air. Saya jadi memikirkan bagaimana saya hidup berikutnya. Lalu bertanya tentang dimana saya akan Berpulang. Seperti yang sudah saya tuliskan di paragraf sebelumnya, saya nyaman berada di tempat saya sekarang. Ternyata ada lanjutan untuk pernyataan saya itu... Kini saya berjalan menuju sebuah tujuan. 

Membayangkan bagaimana perjalanan hidup kakek dan nenek, lalu tentang hadiah welas asih dari nenek, kemudian soal apa yang saya kerjakan dalam laku upadi... 

Saya berlaku untuk tanah air saya, tetapi yang lebih penting bagi saya sekarang adalah perjalanan yang saya lalui sekarang. Yang kakek saya ceritakan adalah bagian akhir dari cerita hidupnya. Sementara saya masih dalam perjalanan menuju sebuah tujuan. 

Ini adalah panggilan untuk berpijak, menajamkan kearifan, dan melanjutkan upaya. 

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer