tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Belajar Status Perkembangan Identitas Marcia


Saya dapat tilikan baru. Saya mau belajar tentang tahapan perkembangan identitas. Saya membaca jurnal penelitian berjudul “Identity Development From Adolescence to Adulthood: An Extension of Theory and a Review of Research” oleh Waterman (1982). Saya mengundang pembaca Kalaupadi untuk sama-sama membaca beberapa kutipan menarik yang telah saya terjemahkan di bawah.

Perkembangan Identitas?

diambil dari freepik.com

Instrumen asesmen yang telah dikembangkan biasanya berfokus pada beberapa kombinasi dari aspek identitas berikut ini: (a) definisi diri yang jelas; (b) adanya komitmen mengenai tujuan, nilai, dan keyakinan; (c) adanya kegiatan yang diarahkan pada pelaksanaan komitmen; (d) pertimbangan berbagai alternatif identitas; (e) tingkat penerimaan diri; (f) rasa keunikan pribadi; dan (g) keyakinan akan masa depan pribadi seseorang.

Marcia (1966) membangun sebuah wawancara semi-terstruktur yang digunakan untuk menilai kejelasan identitas pribadi dan proses perkembangannya. Sistem klasifikasi yang digunakan terdiri dari empat status identitas ego: (a) pencapaian identitas, (b) moratorium, (c) penyitaan, dan (d) difusi identitas. Status ini didefinisikan dalam dua dimensi: krisis dan komitmen. "Krisis" mengacu pada periode perjuangan atau pertanyaan aktif dalam mencapai aspek identitas pribadi seperti pilihan kejuruan dan keyakinan ideologis. "Komitmen" melibatkan pengambilan keputusan yang tegas dan tak tergoyahkan di bidang-bidang tersebut dan terlibat dalam kegiatan implementasi yang tepat.

Pencapai identitas adalah seseorang yang telah melewati masa krisis dan telah mengembangkan komitmen yang relatif kuat. Istilah moratorium digunakan untuk merujuk pada seseorang yang saat ini berada dalam keadaan krisis dan secara aktif mencari di antara alternatif dalam upaya untuk sampai pada suatu pilihan. Seseorang diklasifikasikan sebagai penyitaan jika dia tidak pernah mengalami krisis tetapi tetap berkomitmen pada tujuan, nilai, atau keyakinan tertentu. Komitmen yang dibuat oleh penyitaan umumnya mencerminkan keinginan orang tua atau figur otoritas lainnya. Kategori difusi identitas meliputi individu yang tidak memiliki komitmen yang kuat dan tidak secara aktif berusaha untuk membentuknya. Mereka mungkin tidak pernah berada dalam krisis, atau mereka mungkin memiliki periode bertanya-tanya dan tidak mampu menyelesaikannya, kemudian muncul tanpa mengambil keputusan.

Lalu setelah asyik membaca, saya jadi tertarik untuk belajar teori status identitas Marcia. Saya belajar dari Learning Theories (Identity Status Theory (Marcia) - Learning Theories, 2020) dengan penjelasannya yang sederhana.

Teori Status Identitas (Marcia)

Menyempurnakan dan memperluas karya Erik Erikson, James Marcia muncul dengan empat Status Identitas perkembangan identitas psikologis. Ide utamanya adalah bahwa rasa identitas seseorang sangat ditentukan oleh pilihan dan komitmen yang dibuat terkait dengan ciri-ciri pribadi dan sosial tertentu.

Konsep Kunci

Berdasarkan karya inovatif Erik Erikson tentang perkembangan identitas dan psikososial pada 1960-an, psikolog perkembangan Kanada James Marcia menyempurnakan dan memperluas model Erikson, terutama berfokus pada perkembangan remaja. Menanggapi gagasan Erikson tentang krisis identitas, Marcia mengemukakan bahwa tahap remaja tidak terdiri dari resolusi identitas atau kebingungan identitas, melainkan sejauh mana seseorang telah mengeksplorasi dan berkomitmen pada identitas dalam berbagai domain kehidupan dari panggilan, agama, pilihan relasional, peran gender, dan sebagainya. Teori pencapaian identitas Marcia berpendapat bahwa dua bagian berbeda membentuk identitas remaja: krisis (yaitu saat nilai dan pilihan seseorang dievaluasi ulang) dan komitmen. Dia mendefinisikan krisis sebagai masa pergolakan di mana nilai-nilai atau pilihan lama diperiksa ulang. Hasil akhir dari krisis mengarah pada komitmen yang dibuat untuk peran atau nilai tertentu.

Status identitas perkembangan identitas psikologis

Setelah mengembangkan wawancara semi-terstruktur untuk penelitian identitas, Marcia mengusulkan Status Identitas perkembangan identitas psikologis:

  1. Difusi Identitas – status di mana remaja tidak memiliki rasa memiliki pilihan; dia belum membuat (juga tidak mencoba/mau membuat) komitmen
  2. Membuka Identitas – status di mana remaja tampaknya bersedia berkomitmen pada beberapa peran, nilai, atau tujuan yang relevan untuk masa depan. Remaja pada tahap ini belum mengalami krisis identitas. Mereka cenderung menyesuaikan diri dengan harapan orang lain mengenai masa depan mereka (misalnya membiarkan orang tua menentukan arah karir) Dengan demikian, orang-orang ini belum mengeksplorasi berbagai pilihan.
  3. Moratorium Identitas – status dimana remaja saat ini berada dalam krisis, menjajaki berbagai komitmen dan siap untuk menentukan pilihan, namun belum membuat komitmen terhadap pilihan tersebut.
  4. Pencapaian Identitas – status di mana remaja telah mengalami krisis identitas dan telah membuat komitmen terhadap rasa identitas (yaitu peran atau nilai tertentu) yang telah dipilihnya.

Perhatikan bahwa status di atas bukanlah tahapan dan sebaiknya tidak dilihat sebagai proses berurutan.




Proses Pembentukan Identitas

Gagasan intinya adalah bahwa rasa identitas seseorang sangat ditentukan oleh pilihan dan komitmen yang dibuat terkait dengan ciri-ciri pribadi dan sosial tertentu. Pekerjaan yang dilakukan dalam paradigma ini mempertimbangkan seberapa banyak seseorang telah membuat pilihan tertentu, dan seberapa besar dia menunjukkan komitmen terhadap pilihan tersebut. Identitas melibatkan adopsi 1) orientasi seksual, 2) seperangkat nilai dan cita-cita, dan 3) arahan kejuruan. Identitas yang berkembang dengan baik memberikan rasa kekuatan, kelemahan, dan keunikan individu seseorang. Seseorang dengan identitas yang kurang berkembang tidak mampu mendefinisikan kekuatan dan kelemahan pribadinya, dan tidak memiliki rasa diri yang diartikulasikan dengan baik.

Untuk lebih memahami proses pembentukan identitas, Marcia melakukan wawancara dengan anak muda. Dia bertanya apakah peserta dalam studinya (1) telah menetapkan komitmen terhadap pekerjaan dan ideologi dan (2) pernah mengalami, atau sedang mengalami, periode pengambilan keputusan (krisis identitas remaja). Marcia mengembangkan kerangka berpikir tentang identitas dalam konteks empat status identitas.

Wawasan

Belakangan ini saya memperhatikan setiap identitas yang saya miliki. Ternyata semuanya terbentuk melalui krisis dan komitmen sehingga saya berada dalam pencapaian identitas. Saya terpikirkan soal perkembangan identitas karena saya mau belajar tentang interseksionalitas dan posisionalitas. Merupakan langkah awal dan penting untuk mengenali status perkembangan identitas yang dimiliki. Ini mendukung saya untuk bisa memanfaatkan hak istimewa dan memperoleh keterampilan berempati pada orang dengan identitas tertindas. Sekilas rasanya agak njelimet di otak. Namun, setelah mengerti tentang krisis dan komitmen, saya semakin mengenali bagaimana ini mempengaruhi hidup dan keseharian seseorang.

Referensi

Identity Status Theory (Marcia)—Learning Theories. (2020, Januari 23). https://learning-theories.com/identity-status-theory-marcia.html

Waterman, A. S. (1982). Identity development from adolescence to adulthood: An extension of theory and a review of research. Developmental Psychology, 18(3), 341–358. https://doi.org/10.1037/0012-1649.18.3.341

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer