Saat saya hendak berkegiatan di pagi hari, saya berhenti sejenak. Melakukan kegiatan diam dan berhenti. Memperhatikan nafas, dan mengalirkannya keluar. Menghayati indra saya dan apa yang saya rasakan di diri saya sendiri. Kemudian bertanya pada diri sendiri, hari ini mau lakukan apa?
| diambil dari freepik.com |
Saya berharap bisa mengingat kegiatan yang akan saya lakukan hari ini, tetapi tidak. Saya mengingat peristiwa di masa lalu. Saya memperhatikan bagaimana saya merasakan ketidakamanan dalam peristiwa di masa lalu. Saya mengeluhkan, kenapa saya tidak bisa bertahan? Saya ingat wawasan kemarin bahwa saya berhenti karena saya mendapatkan perlakuan yang tidak tepat dan karenanya tidak merasa aman. Tepat bagi saya untuk mengambil tindakan itu dan merawat diri saya.
yang saya ingat...
Saya melalui napak tilas, mengupayakan penyembuhan fisik dan mental saya, mengurai peristiwa stigma dan diskriminasi yang terjadi sepanjang hidup, hingga menerima diri saya yang hidup dengan disabilitas di usia dewasa. Lalu, apalagi yang perlu saya lakukan saat kenangan itu muncul kembali?
Saya mengilhami bahwa perasaan dan kenangan muncul mengantarkan wawasan baru dalam hidup. Namun, tubuh saya hanya bisa memberikan petunjuknya melalui perasaan dan kenangan. Seperti paket yang diterima dari kurir, saya perlu membuka kemasan paketnya supaya saya bisa tahu apa isinya. Di dunia fisik, kita cukup mengambil gunting atau pisau dan membuka paketnya. Dan di dunia batin, kita perlu alat kesadaran untuk membongkar paket tersebut.
Tulisan yang ada di paket dunia nyata, bisa kita baca oleh mata. Karena kita sudah mengenali simbol-simbol huruf dan suku kata. Di dalam dunia batin, tulisan paket tersebut kita baca melalui tafsiran. Kita menghubungkan makna dan gagasan yang ada sebelumnya di dalam diri kita dengan perasaan dan kenangan yang muncul. Butuh waktu dan usaha, memang. Saya perlu merawat emosinya dulu, kemudian mencatatnya. Menghubungi teman di saat membutuhkan. Pendengar dan pendamping yang baik bisa mempercepat uraian emosi. Di saat berpijak, kita bisa catat emosi yang sudah dialami, kemudian memperhatikan konten kenangan.
Serpihan-serpihan kenangan itu memiliki tema, itulah yang dicatat pertama. Kemudian perhatikan detail peristiwa dan ikuti gagasan apa yang muncul dari diri sendiri. Gagasan itu yang memandu kita dalam memperoleh makna dari kenangan. Setelah makna terkumpul, kita bisa mulai memunculkan gagasan-gagasan lainnya dari diri sendiri dan mencari sumber daya pengetahuan. Proses ini merupakan sintesis informasi yang kita peroleh dari perasaan, kenangan, dan gagasan yang dimiliki oleh diri sendiri.
saya belajar...
Ada beberapa pertanyaan yang akan muncul dari diri sendiri. Saya catat dan cari tahu jawabannya. Mesin pencari adalah kemudahan yang kita miliki. Jika ada teman yang punya keahlian relevan, mereka akan sangat membantu juga. Mencari profesional juga merupakan langkah yang bisa dilakukan. Pencarian sumber daya menunjukkan bahwa kita mendapatkan kesempatan belajar.
Pelajaran yang saya dapatkan hari ini adalah keamanan. Saya ambil dan terjemahkan dari makalah karya Schneier (2008):
Keamanan adalah perasaan dan kenyataan. Realitas keamanan bersifat matematis, berdasarkan kemungkinan risiko yang berbeda dan keefektifan penanggulangan yang berbeda.
Tetapi keamanan juga merupakan perasaan, tidak didasarkan pada probabilitas dan perhitungan matematis, tetapi pada reaksi psikologis Anda terhadap risiko dan penanggulangan. Anda bisa aman meskipun Anda tidak merasa aman. Dan Anda bisa merasa aman meskipun sebenarnya tidak. Perasaan dan realitas keamanan tentu terkait satu sama lain, tetapi keduanya pasti tidak sama satu sama lain. Kami mungkin akan lebih baik jika kami memiliki dua kata berbeda untuk mereka.
Ternyata kita punya keterampilan alamiah untuk belajar hal baru. Kenangan dan perasaan muncul mengingatkan kita bahwa ada keterampilan diri yang belum tercapai pada waktu dulu. Setelah mengetahui apa yang dibutuhkan, kita termotivasi untuk mencari tahu jawabannya.
saya peroleh wawasan...
Mengenai keamanan, ini adalah tema yang muncul berulang sejak November 2022. Saya pernah mempermasalahkan tentang keamanan psikologis. Ada pertanyaan tentang apakah ketidakamanan yang saya rasakan dulu itu karena cara saya menafsirkan peristiwa atau karena ada hal yang membuat saya merasa tidak aman? Jawaban dari gagasan yang sudah saya bangun adalah ada pola kaku yang memang membuat saya merasa tidak aman, sekaligus memang ada juga perlakuan tidak tepat dari orang lain yang membuat saya merasa tidak aman.
Untuk membangun perasaan aman dalam diri saya, saya sudah melakukan napak tilas untuk mengurai pengalaman dan dinamika kekerasan yang saya alami karena kondisi disabilitas saya. Pada saat kecil, saya menemukannya sekarang bahwa, saya tidak punya keterampilan komunikasi dan regulasi emosi yang memadai. Orang tua saya berasumsi bahwa saya harus sama dengan anak yang lain sehingga berpikir bahwa saya akan belajar itu secara alamiah. Namun ternyata tidak, saya kesulitan dan tidak mendapatkan dukungan kebutuhan khusus. Inilah yang membuat masa kecil saya penuh trauma, dan pola kekerasannya terus berlangsung hingga usia dewasa.
Setelah memahami apa yang terjadi di masa lalu, saya mengambil langkah keadilan untuk memeriksakan diri saya. Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan, saya mengklaim identitas saya sebagai orang dengan disabilitas intelektual, autisme dan ADHD. Tindakan ini membangun perasaan keamanan pada diri saya bahwa ada keterampilan-keterampilan dasar yang perlu didukung. Saya menjadi aktif mengkomunikasikan kondisi dan kebutuhan saya. Tindakan advokasi diri sendiri adalah keterampilan yang saya butuhkan sejak masa kecil, itulah salah satu wawasan yang saya dapatkan dari proses panjang. Dari proses ini juga saya mulai bisa mengampuni orang-orang yang menyebabkan kesusahan dalam kehidupan saya.
Di saat saya menuliskan postingan ini, saya dituntun untuk mulai memperhatikan parameter apa saja yang diperlukan untuk memperoleh perasaan aman. Bagaimana protokol keamanan yang tepat untuk diri saya sendiri? Bagaimana cara saya mendapatkan kebutuhan saya dengan memastikan keamanan saya? Dan seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, pertanyaan-pertanyaan itu yang memotivasi saya untuk penasaran dan belajar. Kesempatan Belajar hadir setiap hari.
Bagaimana dengan kamu? Apa kamu siap belajar hari ini?
Daftar Pustaka
Schneier, B. (2008). The psychology of security. International conference on cryptology in Africa, 50–79.
Posting Komentar