tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Partisipasi dan Kolaborasi di Pesta Sastra Bandung 2022

Minggu (9 Oktober 2022) kemarin, saya tampil membaca puisi di Pesta Sastra Bandung. Diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kota Bandung, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Komisariat Bandung, dan Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi. Diadakan di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi, Kota Bandung.

Saya membaca rampai puisi yang saya tulis bersama Lacahya dan Reksi Adiwiguna. Puisi tersebut adalah bagian dari kumpulan puisi yang ditulis Reksi untuk merayakan hubungan romantisnya dengan seseorang. Namun sayangnya, cinta Reksi kandas. Dari percakapan terakhir antara saya, Reksi, dan Lacahya, kami mendorong Reksi untuk melanjutkah kehidupan cintanya lewat puisi. “Sekarang saatnya menghormati karya mu sebagai perjalanan cinta mu tidak lagi soal satu orang yang kandas,” kata Lacahya.

Puisi yang kami tulis tidak mengikuti kaidah puisi yang populer. Melainkan dengan cara embodied poetry. Kami tidak mencari dan memilih kata, apalagi mempertimbangkan estetikanya. Yang kami bentuk bersama adalah rangkaian kata-kata yang muncul secara intuitif dan dirasakan secara alamiah di badan.

Keterbatasan kata-kata adalah bahasa tersendiri. Awalnya saya mengira bahwa tulisan kami itu acak-acakan. Namun hadirin merespons bahwa struktur yang diberikan padat dan rapi. Ini di luar ekspektasi saya. Saya menilai proses yang kami kembangkan sebagai tidak teratur, memang metodenya seperti itu. Hasilnya, ternyata baik dan cukup jelas bagi hadirin.

Saya juga menyebutkan mengenai keterwakilan saya sebagai orang dengan autisme dan ADHD. Ini penting bagi saya untuk menunjukkan inklusivitas sastra di Bandung yang didominasi oleh orang dan bentuk puisi khas neurotipikal. Saya sendiri menyenangi frasa dan kata berulang, mengingat kebiasaan ekolalia yang masih  bertahan hingga usia dewasa, dan saya rasakan adanya keindahan khas dari kata-kata dan frasa berulang. Saya menyadari juga bahwa perkembangan bahasa saya pun berbeda. Saya punya bahasa ucap dan tulis yang berbeda. Saya rasa berkomunikasi lewat teks lebih mudah daripada berbicara langsung dengan orang. Adanya teknologi telah mengakomodasi kebutuhan komunikasi saya.

Pemuda kini, menyukai bentuk sastra yang lebih mudah dicerna di media sosial. Ini menjadi corak karya berpuisi saya, Reksi, Lacahya, dan juga Putri Khansa. Saya bercerita bagaimana kami menciptakan puisi yang secara visual nyaman dilihat dan lebih mudah dibaca dalam format postingan salindia foto Instagram. Ini cara berekspresi di masa disrupsi.

Saya pun berbagi tentang pengalaman berkesan saya saat membaca puisi-puisi Putri Khansa. Sosok dan puisinya beresonansi dengan pengalaman saya di alam fantasi.

Spirit dan Perwujudan Pesta Sastra Bandung

Bandung punya kekhasan dalam bersastra. Yang saya ingat dari pidato pak Ari tentang Sastra di Bandung, telah terjadi beberapa lompatan era dalam sastra di Bandung. Sastra di Bandung lebih terbuka dan dinamis. Tidak bermula dari sesuatu yang struktural, melainkan sebagai aliran deras yang penuh kreativitas. Ini adalah spirit sastra Bandung yang saya rasakan dan hayati, semakin jelas setelah saya mengikuti pesta Sastra Bandung.

Semangat Sastra di Bandung adalah wujud ekspresi dari kesadaran kolektif orang Bandung. Itulah yang saya hayati. Pesta Sastra Bandung adalah inklusif, kolaboratif, dan partisipatif. Rasanya jauh berbeda dengan suasana dan semangat sastra di kota lainnya. Ini adalah perwujudan yang khas milik masyarakat kota Bandung.

Saya senang bisa menyaksikan dan menghayati spirit Sastra di Bandung. Saya menemukan bahwa ini adalah sesuatu yang akhirnya bisa mewujud di tahun ini. Saya pribadi, selama ini, menantikan adanya spirit Sastra di Bandung yang berkobar seperti mulai tahun ini.

Ini adalah kali pertama, acaranya bisa kolaborasi dan partisipasi. Karena sebelumnya, skene Satsra Bandung dipenuhi oleh generasi tua dan partisipasi pemuda menjadi kurang bermakna. Corak partisipasi bermakna sudah hadir di Sastra Bandung.

Membuncah sekali dengan kegembiraan, bisa menyaksikan Pesta Sastra Bandung. Saya berharap dan berdoa semoga spirit ini bisa bertahan dan berkembang di masa-masa berikutnya. Di saat banyak pemuda kurang diapresiasi, ini adalah langkah awal bahwa Sastra di Bandung adalah untuk semua orang, tidak lagi hanya untuk orang tuanya saja.

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer