tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Jalan Panjang Pengampunan (dan Cara untuk Mengampuni Seseorang)

Pergumulan panjang mengatasi trauma bagi saya adalah sebuah perjalanan panjang. Saya sebelumnya meyakini bahwa penyembuhan trauma diperlukan untuk bisa melanjutkan kehidupan. Namun nyatanya tidak, pengampunan diperlukan supaya diri terbebas dari belenggu kenangan dan bayang-bayang orang yang terlibat dalam peristiwa di masa lalu.

Ini bukanlah salah diri sendiri atas lamanya waktu untuk mengampuni. Butuh waktu untuk diri berkembang sehingga keterampilan tersebut bisa dipelajari. Juga kesabaran, ketekunan, dan ketabahan.

Sebelum melanjutkan, saya ingat bahwa kekerasan membuat seseorang kehilangan hampir semua kosa kata yang disimpan di otak (Hoover, 2018). Menyisakan kata-kata negatif, orang hanya bisa berpikir negatif tentang dirinya dan orang lain. Serta dari yang saya hayati pribadi, perkembangan bisa mundur akibat kekerasan.

Orang umumnya bilang jika orang lain melakukan kekerasan, ya dimaafkan saja dan biarkan berlalu. Orang umumnya bilang juga untuk memaafkan orang lain. Sumber-sumber agama menyebutkan untuk memaafkan tanpa menjelaskan bagaimana prosesnya. Dan sebelumnya, saat saya mengucapkan bahwa saya memaafkan seseorang, ada bahan bakar kebencian dan api abadi yang membara di dalam. Pengampunan tidak sekedar berkata, saya bergumul mencari tahu bagaimana caranya.

Mengenali trauma

Ada dua definisi trauma yang diajukan oleh Nadine Hoover (2018):

  • Ancaman yang dibayangkan melebihi kemampuan untuk menyesuaikan.
  • Kehancuran atau kekacauan daya berpikir gang terjadi ketika seseorang tidak merasa sanggup menghadapi ancaman (melawan atau melarikan diri), serta menanamkan pola kegundahan.

Trauma mengganggu perawatan diri dan keramahan yang baik. Ketika kita memiliterisasi masyarakat, komunitas menjadi lebih kejam dan media membombardir dengan cerita-cerita kekerasan, meningkatkan trauma primer dan sekunder. Kita mulai menunjukkan gejala trauma dan menganggapnya sebagai tanda-tanda kegagalan pribadi. Keputusasaan dan penyangkalan diri menghambat perawatan diri kita. Di atas berita dan peristiwa yang menyakitkan, kita menghukum diri kita sendiri. Kita tidak dapat mengingatnya. berkonsentrasi atau membuat keputusan. Kita kehilangan kontak dengan hati nurani kita yang terintegrasi. Tetapi ketika kita membaca gejala trauma yang tertulis di dinding, kita melihat bahwa setiap orang mengalami gejala-gejala ini ketika kewalahan. – Nadine Hoover (2018)

Dari pengalaman saya, tubuh punya cara alami untuk mengunci emosi di badan saat diri tidak punya sumber daya yang cukup untuk menghadapi peristiwa kehidupan. Kehancuran disertai emosi yang terkunci mewujudkan pola-pola kaku yang berdampak pada fungsi keseharian seseorang. Ini mewujudkan frustrasi dan kesulitan-kesulitan baru di masa mendatang. Emosi yang terjebak di dalam punya pesan pada diri sendiri bahwa ada keterampilan baru yang perlu dipelajari dan/atau ada urusan dengan seseorang yang perlu diselesaikan nanti.

Menyembuhkan diri dari trauma melibatkan kegiatan mengingat kembali cerita trauma dan mengalirkan emosinya. Saat emosi sudah dialirkan, itu seperti membuang semua bahan bakar yang ada untuk kendaraan pola kaku. Saat peristiwa hidup baru menyambut kemudian, kendaraan pola kaku ini kehabisan bahan bakar dan kita bisa menciptakan kendaraan pola kemudahan. Seseorang mendapatkan kesempatan untuk berhenti dan belajar keterampilan hidup yang baru.

Pengampunan dan bayang-bayang menghantui

Yang saya temukan baru mengenai trauma adalah tentang pengampunan. Seseorang bisa melanjutkan kegiatan seperti biasa setelah penyembuhan trauma. Namun, kadang ada bayang-bayang yang menghantui. Ketika diri merasa sudah beres-beres saja, ternyata pola kaku masih hadir dengan bentuk keyakinan yang mempengaruhi pengambilan keputusan di masa mendatang.

Itu bisa jadi dendam kesumat, misi hidup yang kaku, dan sebagainya. Perhatian seseorang tertuju pada satu tujuan dan tidak ada alternatif lain. Pandangan yang semakin lama semakin sempit ini memunculkan kegundahan. Bahkan mendorong seseorang untuk mengupayakan segalanya bahkan menggunakan kekerasan untuk tujuan sempit yang ia dambakan.

Dalam bentuk lain, narasi tentang orang-orang yang terlibat dalam trauma terus berputar dan bermain tanpa henti. Diri seakan dibelenggu dalam kerangkeng. Orang-orang yang dianggap ancaman menjelma jadi monster di dalam diri, menyekap seseorang selama-lamanya di dalam kekosongan. Trauma muncul kembali ke permukaan dan jebakan-jebakan keyakinan berusaha membuat kita nyaman dengan asumsi dunia yang kurang sesuai.

Lebih lanjut bagi saya, urusan-urusan trauma yang ternyata belum selesai telah membuat saya kesulitan untuk mengambil keputusan yang tepat untuk diri saya. Saya merasakan bahwa apa yang saya pilih bukanlah untuk diri saya melainkan untuk kesakitan saya. Saya tidak menyadari itu pada awalnya sampai trauma itu muncul kembali ke permukaan. Saya sudah melakukan pengaliran emosi, juga sudah berusaha mempelajari pola baru melalui praktik pendidikan non kekerasan. Upaya itu belum cukup bagi saya, dan saya tidak mengerti apa yang bisa saya lakukan untuk kegundahan ini.

Jalan pengampunan dan cara mengampuni seseorang

Saya mencari kanal media dan menemukan sebuah video yang bagus dari kanal TEDx. Montana (2017) menjelaskan pengalaman pribadinya saat mengampuni seseorang. Itu bermula saat dia memutuskan berhenti dari pekerjaan dan menulis naskah drama tentang pembunuhan keluarganya. Ia membutuhkan penutup hubungan dengan seseorang yang sedikit dia kenal, yakni orang yang membunuh keluarganya.

Sama halnya dengan yang terjadi pada Sarah, saya mengikat semua pelaku dalam kekekalan dalam narasi di pikiran saya. Itu seperti membiarkan mereka terbang bebas dan diperhatikan oleh diri saya. Sementara saya sadar bahwa yang saya perlukan adalah terbebas dari belenggu ini dan hidup secara penuh.

Ternyata, yang bisa dilakukan adalah dengan mengampuni. Seseorang tidak mengampuni si pelaku atas perbuatan ataupun peristiwanya. Melainkan mengampuni si pelaku atas perasaan yang muncul akibat tindakan si pelaku.

Waktu itu, saya bergeming. Saya sadar bahwa saya sudah memendam trauma itu sampai hampir seumur hidup saya. Ada trauma lain yang saya sudah pegang selama 11 tahun lamanya. Semakin banyak traumanya, dan diri saya semakin banyak terbebani. Dan itu semua muncul secara tidak sadar sebagai harapan saya tentang kehidupan yang saya jalani dan membuat saya terjatuh dalam perasaan kegagalan yang mendalam.

Mengetahui bahwa saya sudah mengunjungi kembali trauma berulang kali, juga emosinya yang sudah banyak dikeluarkan, saya memberanikan diri untuk mengerjakan pengampunan. Saya melakukannya mirip seperti yang dilakukan oleh Sarah. Saya menuliskan surat pengampunan dan mengirimkannya pada si pelaku. Saya memulai dari satu trauma dan pelakunya, ke trauma berikutnya.

Sekilas, saya ingat diskusi saya dengan Bu Asih dari Umah Ramah mengenai jalan keadilan. Ini adalah jalan keadilan yang saya tempuh atas ketidakadilan yang saya alami di masa lalu. Saya mau bebas dari banyak belenggu yang menjebak diri saya.

Kurang lebih, isinya adalah seperti ini:

“Halo. Saya mau menyampaikan sesuatu bahwa saya akhirnya memutuskan untuk mengampuni kamu atas perasaan... Ini menetap di diri saya dalam waktu cukup lama dan saya ingin melanjutkan kehidupan saya. Saya ucapkan terima kasih karena telah hadir dalam kehidupan saya dan mendoakan semoga kamu bahagia dengan pilihan dan kehidupan kamu sekarang. Saya doakan kamu kesehatan dan keamanan, serta kesempatan untuk bisa menyembuhkan diri mu dari kegundahan kamu serta belajar hidup tanpa kekerasan di masa mendatang.”

Saya juga mengirimkan pesan lewat cerita Instagram kepada pelaku ujaran kebencian yang menyerang saya lewat DM Instagram dan komentar di blog ini.

Setelah melakukannya satu per satu, saya merasakan kelegaan dan penerimaan. Saya belajar bahwa si pelaku juga manusia dan punya keterbatasan, baik dalam pengetahuan dan juga mentalnya. Saya menyadari juga bahwa si pelaku juga punya penderitaan sehingga kekerasan yang ia lakukan pada saya terjadi. Ini seperti api hebat yang menyucikan jiwa, seperti lagunya Sam Smith – Burning.

Pembebasan ini terlalu indah untuk saya rasakan. Saya berhasil melakukannya. Tak menyangka bahwa kehidupan saya berikutnya terasa dipenuhi berkat.

Wawasan baru berikutnya adalah pengampunan adalah keterampilan terkait perkembangan. Untuk mencapai tahap ini, saya perlu mengenali emosi, mengalirkan emosi, merawat emosi, mengkomunikasikan emosi dan kebutuhan, cerita trauma, menyembuhkan trauma, hingga akhirnya tiba di pengampunan. Itu adalah tahapan perkembangan yang saya alami dan hayati. Perkembangan ini bisa tertunda hingga usia dewasa. Yang saya perhatikan, usia tidak menjamin kalau seseorang telah menguasai keterampilan psikologis hingga pengampunan.

tahapan perolehan keterampilan psikologis yang saya alami dan hayati

Yang awalnya saya kira, pengampunan itu sekedar menemui si pelaku kemudian mengucapkan permintaan maaf dan berjabat tangan. Ternyata saya belum bisa seperti itu. Prosesnya perlu usaha langsung untuk mengenali emosi apa yang muncul di diri sendiri akibat tindakan yang dilakukan si pelaku. Dan di akhir berkata, “saya mengampuni mu atas perasaan yang saya alami akibat tindakan dirimu.”

Yang saya lakukan adalah pengampunan atas peristiwa lampau. Ada beberapa kondisi di saat si pelaku sudah berada di luar jangkauan, yang saya lakukan adalah mengucapkan itu kepada diri sendiri atau di sebuah catatan kecil. Itu melegakan bagi saya.

Setelah memperoleh keterampilan mengampuni, rasanya saya tidak bisa melakukan kekerasan kepada orang karena saya mengerti penderitaan yang dialami seseorang. Saat saya marah, saya beritahu orangnya bahwa saya marah dan apa yang saya butuhkan. Saya tidak bisa lagi melampiaskan dalam bentuk agresi, rasanya bahan bakar untuk melakukan itu langsung terbakar habis lewat tindakan saya untuk menggunakan kata-kata kepada orang lain.

Saya bersyukur dan terharu bisa membagikan ini kepada kamu. Semoga kemajuan ini menjadi motivasi bagi teman-teman untuk senantiasa bertumbuh. Juga ingat bahwa “luka, luka, hilanglah luka... kamu terlalu berharga untuk luka.” – Tulus, Diri

Referensi

Hoover, N. C. (2018). Creating Cultures of Peace: A Movement of Love and Conscience. Conscience Studio.

Montana, S. (2017). The Real Risk of Forgiveness–And Why It’s Worth It | Sarah Montana | TEDxLincolnSquare. TEDx Talks. https://www.youtube.com/watch?v=mEK2pIiZ2I0

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer