Pagi ini bangun dengan perasaan takut. Aku mimpi ketemu seseorang yang membuatkan trauma pekerjaan. Aku ingat perasaan nya saat aku tidak dilibatkan dalam rapat tim dan tiba-tiba diberikan kesepakatan yang tidak aku setujui. Aku dipaksa untuk mengikuti aturan yang mereka buat. Aku dibuat tidak berdaya dan diperalat dalam proyek tersebut. Sehingga akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Dalam mimpi tersebut, aku melihat orang itu. Aku merasa sangat marah. Aku terbangun dengan perasaan marah. Tampaknya ada emosi yang belum keluar, terfiksasi dalam tubuh ku. Mimpi telah mengingatkan aku untuk ingat emosi dan mengalirkannya.
Trauma pekerjaan itu ada dan nyata. Setelah peristiwa itu, aku merasa tidak punya kuasa atau daya berkegiatan. Rasanya ingin bermain-main saja lah. Saya menyadarinya waktu itu dan memutuskan untuk sabatikal selama 3 bulan. Aku fokus untuk bermain dan mengurangi agenda-agenda pelatihan. Emosi besar ini perlu diurai. Kontak ku dengan orang itu pun aku putus. Aku fokus pada penyembuhan diriku sendiri.
Orang yang gak paham bilang aku baper dan harusnya bisa dapat pekerjaan baru. Mereka gak mampu memahami apa yang aku alami. Saya bersyukur memang ada orang yang bisa memahami kondisi ku dan mendukung aku. Aku sudah melakukan perawatan diri terbaik yang bisa aku lakukan.
Peristiwa di akhir tahun lalu, mengingatkan aku bahwa trauma itu terwujud dalam diriku. Bentuknya adalah kerja berlebih. Dalam ulasan kerja tiga bulanan, kami menemukan bahwa aku bekerja berlebihan karena kehendak sendiri. Sehingga aku diminta untuk bekerja cukup 150 jam per bulan. Hargai kemajuan kecil dan yang telah dicapai dalam batasan waktu kerja tersebut. Aku cenderung melakukan yang terbaik hingga lembur dan mengabaikan kebutuhan tidur ku. Aku menjadi rentan soal trauma dan menderita kelelahan. Itu adalah pertanda bahwa ada trauma yang terwujud dalam diriku.
Ternyata perasaan emosi yang sangat besar itulah yang mendorong aku kerja berlebih. Aku telah diingatkan oleh mimpi bahwa ada emosi yang belum terurai. Merasakannya cukup berat karena aku dididik dalam asuhan yang melarang aku mengekspresikan amarah. Pengasuh ku telah melakukan ketidakadilan. Dan saat aku menunjukan kesadaran adanya ketidakadilan, mereka marah merasa terancam dan berusaha untuk mematikan emosi marah dalam diriku. Saat merasa marah, yang dirasakan di tubuh adalah lemas, kepala pening, aku ingat kembali bagaimana bapak menyiksa aku saat aku marah. Itu adalah pengasuhan yang sakit jiwa.
Aku sesekali menguap saat menuliskan ini. Ternyata aku jadi ingat kembali trauma yang terjadi sebelumnya. Aku mengenali pola bagaimana trauma ini saling terhubung satu sama lain. Trauma lebih awal yang tidak tertangani akan mengundang trauma-trauma berikutnya. Hanya sekedar mengingatkan bahwa ada trauma sebelumnya yang ternyata belum selesai. Ini adalah wawasan yang baru bagi ku.
Aku merasa semakin mengantuk menulis ini.
Aku juga mengenali bahwa dorongan untuk berlatih bela diri datang dari trauma ini. Aku dulu merasa tidak berdaya. Aku tidak bisa melawan. Kini aku sudah aman dengan memutuskan hubungan dengan keluarga dan membatasi kontak komunikasi. Dengan keluarga, aku aman hanya dengan komunikasi via WhatsApp. Jika tatap muka, pola-pola penindasan orang tua - anak akan terjadi secara gak sadar. Karena orang tua belum menyelesaikan trauma-trauma mereka. Anak-anak menderita trauma dan aku sendirian yang aktif mengurai dan menyembuhkan diri dari trauma.
Aku merasakan adanya keperluan untuk terus mendalami bela diri. Itu adalah bentuk pemberdayaan diri. Karena saat kecil, aku tidak punya kesempatan untuk benar-benar membela dan berakhir jadi tidak berdaya selama 25 tahun aku tinggal bersama mereka. Kesakitan-kesakitan ini hadir dan aku berupaya untuk mengurai dan menyembuhkan nya.
Semakin hari aku menyentuh kembali trauma, semakin kenal dan paham tentang apa yang terjadi pada diriku sendiri. Wawasan ini didapat secara perlahan-lahan. Karena jika langsung semuanya, bisa mendatangkan penderitaan. Karena tubuh ini punya batasan dalam menerima dan memproses kesakitan jiwa. Saat beban yang dialami berlebih, bisa menyebabkan katatonia. Mengingat kondisi ku dulu pada tahun 2016 lalu.
Ini akan berlalu...
Posting Komentar