Pertama, adanya dorongan dan paksaan untuk masuk sekolah favorit. Tak peduli dengan kualitas sebenarnya dari sekolah tersebut maupun kondisi di rumah yang mendukung pendidikan anak di rumah. Ini hadir dalam bentuk penyelamatan diri, rasanya mau mati. Memaksa anak untuk bisa sekolah di sekolah yang katanya bagus supaya kelak anak tidak mengalami kemiskinan lagi. Ini adalah keyakinan yang sangat merusak mental.
Kedua, kondisi disabilitas yang diabaikan. Dipaksa untuk mengejar nilai dan ranking kelas tanpa sadar kondisi anak yang berkebutuhan khusus. Ada perlakuan-perlakuan tidak pantas terjadi di sekolah pada anak dan anak disalahkan ketika tidak dapat mencapai standar ranking yang diharapkan orang tua. Anak tumbuh besar fisiknya saja, mentalnya berusaha selamat sehingga tidak tumbuh, kebutuhan khusus karena anak ADHD tidak terpenuhi, keterampilan emosional tidak didukung. Rasanya seperti tidak ada jalan keluar karena tuntutan "nama baik".
Pilihan terbaik pada saat itu adalah sekolah rumah / homeschooling, dikarenakan tidak ada sekolah inklusi. Tidak ada akses informasi dan sumberdaya untuk menyelenggarakan sekolah rumah sendiri. Ini menjadi trauma juga karena gak ada dukungan.
Trauma pribadi pengasuh mewujud dalam sebuah keyakinan bahwa "semuanya harus bisa diatasi sendiri". Ketika frustrasi dan tidak bisa koping, anak-anak di rumah jadi samsak fisik dan emosional. Lingkaran setan ini terus terjadi pada keseharian dan merusak mental anak.
Menolak untuk mencari bantuan ketika butuh bantuan adalah bentuk trauma.
Ketika ini disadari, rasanya memang menyakitkan. Ditambah kondisi ku saat ini lebih memungkinkan untuk melakukan pemulihan perkembangan (developmental Recovery) akibat kerusakan dan kemunduran mental yang ku alami akibat kekerasan yang terus-menerus terjadi sejak kanak-kanak hingga usia dewasa.
Pemulihan itu mungkin dilakukan, dengan ketekunan dan kesiapan untuk mengurai dan memperbaiki kerusakan-kerusakan.
Posting Komentar