“Memproses ini semua, melelahkan.”
Aku menyaksikan diriku sendiri runtuh dan kehilangan kendali. Duka dan amarah terpendam meletus keluar. Ini adalah bencana psikis. Aku tidak bisa melakukan pekerjaan dan kegiatan secara produktif. Hari-hari dipenuhi rasa sepi dan kehilangan akan seseorang. Seseorang yang ku butuhkan, untuk mendukung dan mendampingi. Semakin dalam diselami hingga menemukan kenangan trauma. Memang, ketika dulu ku runtuh, aku emang sendirian dan tak ada seorang pun yang mendukung dan mendampingi ku. Merasa menjadi seorang pecundang dan aku benar-benar mewujudkannya secara nyata pada diri ku sendiri dan realita di hadapan ku. Nilai dan keyakinan pun runtuh, termasuk hal-hal yang bisa dikatakan sebagai beracun pun runtuh, syukurnya.
Aku berusaha bangun dari reruntuhan diriku sendiri. Aku mengeluh karena proses ini menyakitkan dan aku merasa dikunci dalam sebuah kerangkeng. Aku berusaha mencari jalan keluar dan perlahan berupaya kembali berpijak.Untuk ku sendiri, kegiatan makan-makan adalah upaya yang efektif. Sekembalinya aku pada pijakan, aku mulai menulis postingan blog ini. Berharap menumpahkan proses mental yang sudah ku lalui selama beberapa minggu ke belakang. Dengan perasaan kesepian dan kerinduan yang seakan membunuh ku.
Yang dilalui tak semudah yang dikira…
Proses duka dan amarah yang berlangsung, berkutat pada sebuah kebiasaan baru yaitu gaya hidup no life atau populernya disebut nolep. Aku kehilangan gairah hidup. Dasar emosinya adalah marah. Aku sadar bahwa ada ketidakadilan yang ku alami lewat tubuh ku sendiri. Sehingga nolep menjadi alternatif untuk keadilan, bagi tubuh ku. Ketika pola nolep terbentuk, aku berhenti dan sadari gejala diri sendiri. Aku mengenali emosi yang sedang ku alami. Kemudian setelah jelas emosinya, aku mulai mendapatkan gambaran dan sekelebat ingatan yang menjadi pembentuk suasana hati ku pada saat itu.
Yang awalnya sekelebat ingatan, kemudian tubuh ku ingat peristiwa traumanya secara penuh. Aku berusaha untuk mendengarkan dan menyaksikan dengan saksama. Mengizinkan dirinya (tubuh sendiri) untuk mengalami kenangan tersebut. Dengan kesadaran baru, aku mendapatkan wawasan dan kearifan baru untuk peristiwa hidup ke depannya. Pendekatan ini hadir pada ku setelah aku memahami bahwa wacana trauma adalah tentang belajar pola-pola yang gak sesuai dalam hidup, mewujud dalam pola keseharian, hingga gunungan masalah terbentuk untuk mengevaluasi proses belajar kita (yang salah satunya bisa dari trauma). Kegagalan untuk belajar membuat seseorang selalu terjebak pada masalah yang sama atau senantiasa berkutat dan merasa kesusahan ketika menghindari suatu pemicu. Peristiwa ini biasa aku sebut sebagai “menekan tombol seseorang”.
Dalam pengalaman ku, tombol ku tertekan. Sehingga aku memunculkan pola gaya hidup nolep. Menyaksikan dan mendapatkan wawasan dari trauma adalah suatu pekerjaan yang melelahkan. Emosi yang terpendam di tubuh mengalir keluar dan kadang diri merasa terputus dari ruang dan waktu. Ketika itu terjadi, diri memerlukan pijakan untuk kembali sadar.
Bagiku, tidak ada satu cara ajeg yang cocok untuk segera kembali berpijak. Di satu kesempatan, menari jadi cara yang baik. Di kesempatan lain, makan-makan melahap semua ketidakpastian yang aku alami. Kadang-kadang, sekedar jumpa seseorang yang tepat benar-benar melepaskan beban dan menarik kesadaran untuk berpijak. Ada satu upaya yang paling tepat untuk kembali berpijak dalam satu kesempatan. Artinya, aku mengembangkan pendekatan kreatif pada diri sendiri tentang upaya untuk berpijak. Cara paling mudah untuk mengenali upaya pijakan yang tepat adalah dengan mendengarkan hati nurani dan ikuti dorongan kekuatan perubahan.
Terlepas dari perlakuan orang lain yang gak layak dan gak pantas untuk ku, aku perlu memperhatikan diri ku sendiri. Terutama pada pola-pola yang ku pelajari setelah peristiwa itu terjadi. Langkah-langkah dasar adalah dengan mengalirkan emosi, menyentuh kembali permasalahan, dan mendapatkan wawasan. Langkah sederhana itu yang membangun ketahanan terhadap trauma, supaya diri terhindar dari belajar pola-pola trauma.
Di postingan ini pula, saya mengabarkan pada pembaca yang budiman bahwa saya berencana untuk hijrah ke Pati mulai Januari 2022 mendatang. Usaha dalam membangun sebuah yayasan di Bandung tampaknya menjadi sebuah bencana buatku. Karenanya, aku terpaksa mengundurkan diri dan melakukan sabatikal. Awalnya sabatikal ini belum ku tentukan kapan berakhir. Setelah aku mendapatkan undangan dari Friends Peace Teams Indonesia, aku menerima tawaran mereka dan memutuskan akhir masa sabatikal ku menjadi Desember 2021. Pertimbangan lainnya tentang kenapa aku menerima tawaran mereka adalah karena mereka menjamin adanya keberagaman dan inklusi serta lingkungan terinformasi trauma. Dua hal itu adalah hal esensial untuk ku bekerja, mengingat identitas pribadi serta kondisi mental sebagai penyintas trauma kompleks yang membuat ku lebih rentan mendapatkan kekerasan dan mengalami kehancuran mental.
Tema wawasan yang ku dapatkan kebanyakan adalah penyangkalan kenangan trauma. Aku tidak menyangka bahwa peristiwa semacam itu bisa terjadi padaku. Persahabatan dan bahkan kerjasama yang berjalan selama bertahun-tahun bisa pecah karena tindak korupsi dan kekerasan yang terjadi ke depannya. Aku terjebak pada kondisi tidak berdaya dan tidak dilibatkan. Wawasan mengenai kondisi ini adalah aku masuk dalam zona tanpa batasan. Yang artinya aku memasuki zona bekerja yang sebenarnya aku tidak perlu masuk ke dalamnya. Nah karena aku tidak menyadari zona tanpa batasan itu, aku terlempar dari zona yang sudah terbentuk batasannya. Ini juga ada kesalahan dari si pelaku karena tidak mampu mengenali dan menegakkan batasan dengan jelas. Dalam situasi begini, aku dirugikan dan mendapatkan trauma.
Proses setelahnya adalah menemukan pola trauma sebelumnya yang menjebak aku pada situasi serupa. Puncaknya adalah diurainya nilai bahwa aku perlu bersaing dengan orang lain. Aku belajar menyadari bahwa orang punya proses dan perjalanan masing-masing. Karena itu, aku belajar untuk menghargai perjalanan dan hidup ku sendiri.
Beberapa hari ke belakang, aku binge watching YouTube. Mulai kembali nolep, kemudian berusaha merayakan progress ini dengan makan-makan bakso. hehehe. Setelahnya aku kembali berpijak dan bisa menulis postingan ini dan melanjutkan pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai.
Posting Komentar