Siklus ketidaknyamanan. Aku merasa terjebak dalam siklus itu, melakukan kegiatan sirkular dan berharap bahwa ada seseorang yang akan menarik aku keluar dari situasi ini. Aku merekonstruksi peristiwa traumatis masa lalu yang terjadi pada pengasuh ku sebelum aku lahir. Dan ini terjadi lagi. Semakin jelas terlihat polanya, dan aku ingin itu berhenti.
Langkah pertama adalah temukan kebutuhan diri. Apa yang sebenarnya diriku butuhkan, baik fisik maupun emosional. Ketika diri tidak punya sumber daya yang diperlukan, catat kepada siapa dan bagaimana meminta pertolongan. Dalam hal komunikasi, perlu paham dulu sebelumnya tentang kebutuhan. Supaya apa yang diminta pada teman adalah tepat sasaran.
Aku berputar dalam lingkaran dan akhirnya berhenti. Aku paham bahwa aku terjebak dalam sebuah siklus. Aku berusaha mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi padaku dan apa yang aku butuhkan. Itu dilakukan supaya siklus ini berakhir. Aku perlu belajar pola baru sehingga aku punya kehidupan yang lebih produktif.
| child walking on bridge photo – Free Mount lassen Image on Unsplash |
Ketika kekerasan menimpa aku waktu kecil, pengasuh ku tidak memberikan aku perlakuan yang tepat. Aku membutuhkan penjelasan tentang apa yang terjadi dan kenyamanan untuk bantu alirkan emosi yang terperangkap di tubuh ku. Waktu itu, aku dibiarkan dan dimarahi atas emosi yang membengkak di dada ini, dada sesak dan amarah ditabung kepada jiwa anaknya.
Yang aku lakukan sekarang adalah membangun kerangka berpikir untuk membantu aku menafsirkan situasi kehidupan yang aku alami. Aku merasa seperti mengasuh diriku sendiri. Aku merasa di dalam diriku ada seorang anak yang kurang terawat dengan baik oleh orang tuanya. Tampaknya jiwa ku menciptakan sebuah mekanisme yang mengizinkan aku untuk mengasuh diriku sendiri. Reparenting, istilahnya. Karena kegagalan orang tua ku dulu dalam menyediakan sumber daya yang aku perlukan ketika aku kecil. Aku berakhir belajar dan menyediakannya untuk diriku sendiri.
Bahkan dalam proses belajar ini. Aku berkomunikasi dengan orang tua ku. Aku menyadari bahwa mereka sama halnya seperti aku. Ada anak yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Itu sebabnya, ketidakmampuan itu, diwariskan dan dialirkan kepada anak-anaknya. Aku tidak mau seperti pengasuh ku yang abai dan teledor dengan membiarkan kekerasan terjadi di rumah sehingga puncaknya aku menjadi psikosis berat. Dalam proses rekonsiliasi, aku sendiri yang akhirnya mengajarkan kepada orang tua tentang batasan dan bagaimana seseorang bisa membangun ketahanan mental dari situ. Karena dulu pernah kejadian manipulasi dari para tetangga yang buat orang tua ku melakukan kekerasan pada ku karena waktu itu aku belum bisa mengerjakan tugas akhir skripsi.
Memang ada keyakinan yang bikin gak nyaman aku, tertanam di diri orang tua aku. Bahwa mereka yang beri makan, maka kekerasan yang diberikan pun mesti diterima. Aku menjawab bahwa aku tidak pantas menerima perlakuan yang seperti itu. Bahkan atas nama cinta dan sayang anak sekalipun. Sesuatu yang selalu aku ungkapkan dari kecil "kalau (orang tua) udah salah ya salah."
Rekonsiliasi sudah diupayakan, kilas balik trauma masih terjadi, dan akhirnya aku memutuskan untuk melepaskan diri dari budaya keluarga. Ini untuk kesejahteraan psikologis ku. Relasi ku dengan pengasuh sudah hancur berantakan. Dan cara yang terbaik untuk bisa memaafkan nya adalah dengan belajar untuk berhenti membenci pengasuh sendiri. Tak ada lagi kewajiban dan kontrol yang diberikan kepadaku. Dan tak ada pula tuntutan atau harapan orang tua yang harus ku penuhi. Terutama setelah kehancuran mental yang sebegitu banyaknya sehingga aku kesulitan melanjutkan kehidupan. Batasan dibuat supaya kilas balik trauma bisa dicegah, interaksi yang penuh kekerasan bisa dicegah pula, dan diri sendiri bisa berkembang untuk bisa mandiri.
Kadang-kadang suka berpikir "peristiwa buruk apa yang dialami leluhur aku sehingga traumanya diwariskan sampai sejauh ini?" Leluhurku cukup abai, mungkin fokus untuk bertahan hidup. Ditambah gak punya sumber daya dan keterampilan yang sadar trauma buat penyembuhan trauma. Sehingga ya diwariskan saja dan tidak diproses oleh keturunan-keturunannya. Dan sekarang, berhenti di aku untuk sadar dan paham. Aku belajar untuk mengatasi trauma-trauma itu. Terutama yang terpenting sekarang adalah untuk bisa melanjutkan kehidupan. Akibat kehancuran mental hebat yang disebabkan oleh pengasuh dan lingkungan ku, aku kehilangan sebagian besar keterampilan hidup: fungsi fisik, mental dan emosional, serta keterampilan dasar lainnya.
Kadang-kadang merasa tidak mampu lanjutkan kehidupan dan butuh dukungan. Aku cari dukungan dan cerita pada pendamping yang baik. Tak hanya dukungan emosional. Sepertinya butuh berada di sebuah shelter dimana kebutuhan dasar bisa dipenuhi sementara aku membangun keterampilan dasar kehidupan. Trauma terhebat terjadi pada usia 5 tahun dan dampaknya fatal pada kehidupan aku yang sekarang. Kapasitas mental yang terluka, kadang-kadang membuat diri tidak bisa melakukan apa-apa, seperti lag di komputer, kemudian layar biru. Memulai kembali dari awal, dan coba tata lagi. Artinya pekerjaan bisa terjeda, jadwal dan tenggat waktu harus disesuaikan lagi, dan teman-teman perlu diberitahukan tentang kerentanan mental ini.
So, itu semua yang ku tulis pada postingan ini mengenai bagaimana aku hidup dan berkembang setelah kehancuran mental hebat.
Posting Komentar