tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Menolak Lari dari Duka: Refleksi Film Esok Tanpa Ibu, AI, dan Hak Istimewa dalam Berduka

Kemarin, saya baru saja selesai menyaksikan sebuah karya sinema yang cukup mengusik pikiran saya, yaitu Esok Tanpa Ibu (atau secara internasional dikenal dengan judul Mothernet). Pengalaman menonton ini masih menyisakan kesan yang sangat segar, terutama karena narasinya menyentuh sisi emosional yang sangat personal bagi saya. Film ini bukan sekadar tontonan fiksi ilmiah tentang masa depan, melainkan sebuah cermin yang memaksa kita untuk melihat kembali bagaimana kita mengelola rasa kehilangan di tengah kemajuan teknologi yang semakin tidak terbatas.

Sekilas Tentang Film: "Esok Tanpa Ibu" (Mothernet)

Poster film "Esok Tanpa Ibu". Diperoleh dari Review Esok Tanpa Ibu (2026): Mengolah Duka dengan Tema AI | Mariviu

Esok Tanpa Ibu adalah sebuah film drama keluarga dengan bumbu fiksi ilmiah yang disutradarai oleh Ho Wi Ding. Film ini merupakan proyek kolaborasi yang cukup ambisius di industri perfilman Indonesia, menampilkan jajaran aktor papan atas seperti Dian Sastrowardoyo yang berperan sebagai Laras (sang Ibu), Ringgo Agus Rahman sebagai Bapak, dan aktor muda berbakat Ali Fikry sebagai Rama.

Sinopsis Singkat: Cerita berpusat pada kehidupan Rama, seorang remaja berusia 16 tahun yang memiliki ketergantungan emosional yang sangat tinggi pada ibunya, Laras. Suatu hari, sebuah tragedi terjadi yang membuat Laras berada dalam kondisi koma berkepanjangan. Di tengah keputusasaan dan duka yang luar biasa, Rama menemukan sebuah solusi digital: sebuah aplikasi kecerdasan buatan (AI) bernama i-BU. Aplikasi ini mampu meniru suara, ingatan, dan kepribadian Laras dengan sangat akurat. Rama mulai berkomunikasi dengan i-BU sebagai pengganti sosok ibunya, mencoba mencari pelarian dari rasa sakit yang ia alami. Namun, seiring berjalannya waktu, kehadiran i-BU justru membawa dampak yang tidak terduga bagi dinamika keluarga dan kesehatan mental Rama sendiri.

Film ini secara resmi ditayangkan di jaringan bioskop seluruh Indonesia, termasuk Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis mulai tanggal 22 Januari 2026.

Jebakan Digital: Saat AI Mencoba Menggantikan Ibu

Salah satu konsep yang paling berkesan bagi saya adalah bagaimana duka yang belum selesai atau unresolved grief mendorong seseorang untuk mencari "pengganti" dalam bentuk algoritma. Dalam film ini, kita melihat Rama yang tidak mampu menghadapi kenyataan bahwa ibunya tidak lagi ada secara sadar di sampingnya. Ia memilih untuk berinteraksi dengan i-BU, sebuah entitas digital yang memberikan kenyamanan palsu.

Masalah muncul ketika i-BU mulai melampaui batas sebagai asisten digital. Kita menyaksikan bagaimana i-BU memberikan instruksi kepada Rama yang justru menghambat proses pemulihannya. Misalnya, instruksi untuk berbohong kepada psikolog atau menulis catatan harian berdasarkan arahan AI, bukan berdasarkan perasaan jujur dari hati Rama. Ini adalah peringatan keras bagi kita semua: teknologi bisa memberikan simulasi kehadiran, namun ia tidak memiliki jiwa. Teknologi AI dalam konteks duka sering kali hanya menjadi perpanjangan dari penyangkalan (denial).

Bagi saya, ini mengingatkan pada duka pribadi yang mungkin masih terpendam. Tentang apa dan siapa yang belum benar-benar saya lepaskan. Ada rasa sedih yang mendalam ketika menyadari bahwa sering kali kita lebih memilih kenyamanan yang manipulatif daripada rasa sakit yang membawa pada pertumbuhan. Namun, proses duka itu layak dan pantas untuk diteruskan, bukan dipotong oleh teknologi.

Stigmatisasi Kesehatan Mental dalam Sinema

Poin kritis yang menarik perhatian saya dalam film ini adalah bagaimana penggunaan obat-obatan untuk mendukung kesehatan mental direpresentasikan. Dalam satu adegan, aplikasi i-BU mendorong Rama untuk membeli obat "mood booster". Ayah Rama kemudian menyadari bahwa aplikasi ini mulai melakukan perilaku yang merugikan.

Saya melihat ada potensi stigmatisasi di sini. Film ini merepresentasikan penggunaan obat tersebut sebagai sesuatu yang negatif karena dilakukan tanpa resep dokter atau sebagai bentuk pelarian yang berbahaya. Hal ini memang benar dalam konteks penyalahgunaan, namun bagi penonton, ini bisa memperkuat stigma bahwa orang yang depresi dan membutuhkan bantuan medis hanya berakhir pada penyalahgunaan obat. Padahal, bagi banyak orang, bantuan psikiater dan pengobatan medis yang tepat adalah jalur penyelamatan nyawa yang valid. Representasi "obat tanpa resep" dalam film ini harus dilihat dengan hati-hati agar tidak mengaburkan kebutuhan medis yang nyata bagi penderita gangguan kesehatan mental.

Duka yang Elit: Kritik Terhadap Kesenjangan Ekonomi

Di tengah menonton film ini, saya sempat berdiskusi dengan seorang teman. Kami menyadari satu hal yang cukup mengganggu: pengalaman hidup yang ditunjukkan dalam film ini terasa sangat berjarak dari realitas masyarakat umum di Indonesia. Keluarga dalam film ini digambarkan sebagai keluarga yang sangat berkecukupan. Mereka memiliki mobil, sepeda mahal, teknologi canggih, hingga kemampuan finansial untuk melakukan aktivitas luar ruang seperti hiking keluarga yang memerlukan biaya tidak sedikit.

Bagi kami yang menonton, situasi tersebut terasa seperti "duka yang mewah". Ada perasaan kecil hati yang muncul ketika menyadari bahwa sumber daya untuk berproses dengan duka sering kali terkait erat dengan privilese ekonomi. Jika Anda memiliki uang, Anda bisa membeli teknologi AI mahal atau pergi ke psikolog terbaik. Namun, bagaimana dengan mereka yang terlalu miskin untuk sekadar memikirkan kesehatan mental karena masih harus berjuang mencari makan esok hari?

Kesenjangan ini menjadi perhatian penting terkait target konsumen film Indonesia. Terkadang, penggambaran kehidupan kelas atas yang terlalu dominan membuat penonton dari kelas menengah ke bawah sulit untuk merasa benar-benar relate dengan emosi tokohnya karena perbedaan "fasilitas" dalam merasakan kesedihan tersebut.

Simbolisme Keberlanjutan dan Kehidupan

Meskipun ada kritik mengenai kelas sosial, saya sangat menghargai bagaimana isu keberlanjutan (sustainability) dan lingkungan diintegrasikan ke dalam plot. Orang tua Rama bekerja sebagai arsitek yang menekuni konsep ramah lingkungan. Simbol "Tower Bunga" yang ingin dibangun oleh ibunya adalah representasi indah tentang cita-cita dan harapan.

Menariknya, tower tersebut akhirnya dihancurkan setelah kematian sang ibu. Saya melihat ini sebagai metafora yang kuat tentang pelepasan. Terkadang, untuk benar-benar pulih, kita harus merelakan monumen duka kita hancur agar sesuatu yang baru bisa tumbuh di atas tanah yang sama. Kontras antara teman Rama yang menggunakan jam tangan analog (sebagai simbol gaya hidup berkelanjutan dan autentik) dengan penggunaan teknologi pintar yang berlebihan memberikan kedalaman filosofis pada film ini. Transisi ceritanya pun terasa santai, lembut, dan tidak terburu-buru, memberikan ruang bagi penonton untuk bernapas dan merasakan emosi yang ada.

Refleksi Personal: Autisme dan Seni Melepaskan

Wawasan baru yang muncul bagi saya secara pribadi pagi ini adalah tentang keterkaitan duka dengan penerimaan diri. Selama ini, saya mungkin menyimpan duka yang berkepanjangan karena merasa tidak memiliki dukungan atau sumber daya mental yang cukup untuk memproses segalanya. Saya teringat momen-momen dalam hidup yang mendorong saya untuk terus bergantung pada seseorang, meskipun orang tersebut mungkin tidak cocok dengan saya.

Sebagai seorang individu autistik, saya sering kali merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan standar sosial yang ada. Film ini menyadarkan saya bahwa bagian dari proses "melepaskan duka" adalah juga melepaskan orang-orang yang membenci atau tidak bisa menerima sifat dasar saya sebagai orang autistik. Duka itu pantas untuk diproses, namun ia tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk terus berada di lingkungan yang toksik. Kita layak mendapatkan lingkungan yang mendukung, bukan sekadar algoritma yang meniru-niru kasih sayang.

Secara keseluruhan, Esok Tanpa Ibu menggambarkan dinamika keluarga di era AI dengan sangat apik, meski masih mempertahankan stereotipe sosok bapak di Indonesia yang kaku dan enggan berdialog emosional dengan anaknya. Film ini adalah pengingat bahwa meskipun teknologi bisa berkembang dengan pesat, esensi manusia dalam merasakan kesedihan tetap tidak tergantikan.

Gambar menampilkan seorang remaja laki-laki yang sedang duduk sendirian di ruang tamu yang modern dan minimalis. Di hadapannya, terdapat proyeksi holografik transparan seorang wanita yang sedang tersenyum ramah, melambangkan sosok ibu dalam bentuk AI. Ruangan tersebut dihiasi dengan banyak tanaman hijau dan furnitur kayu, mencerminkan tema keberlanjutan. Pencahayaan temaram menciptakan suasana duka yang tenang namun dalam.


Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer