tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Menulis Tubuh, Membaca Tradisi: Urgensi Poetika dalam Mendekolonisasi Studi Agama

Sebuah buku terbuka yang halaman-halamannya bertransformasi menjadi tubuh manusia yang terbuat dari tinta dan air. Kata-kata tampak mengalir dari kulit seperti keringat yang bercahaya. Palet warnanya bersifat membumi dengan aksen merah tua dan nila, menggunakan gaya ekspresif.

Dunia akademik sering kali terasa seperti ruang yang hampa udara, di mana objektivitas yang kaku dijunjung tinggi sebagai satu-satunya standar kebenaran. Dalam studi agama, tradisi ini sangat kuat. Mahasiswa dan peneliti dituntut untuk menulis dengan gaya yang dingin, berjarak, dan sepenuhnya teoretis. Namun, bagi saya, cara menulis seperti itu justru sering kali membunuh kebenaran yang paling hakiki: pengalaman manusia yang hidup di dalam tubuh. Melalui performative writing dan poetika, saya mencoba meruntuhkan tembok-tembok kaku tersebut untuk menyuarakan apa yang selama ini terpendam.

Sebagai pengajar untuk topik "Body as Medium", saya melihat bahwa tubuh bukan sekadar objek studi, melainkan subjek yang merasakan, menderita, dan merayakan spiritualitas. Menulis yang melibatkan emosi dan pengalaman tubuh memungkinkan kita untuk menangkap dinamika terdalam dari sebuah tradisi yang tidak mungkin terpotret oleh angka statistik atau teori-teori formal. Poetika membantu kita untuk masuk ke dalam wilayah "rasa", di mana agama bukan lagi sekadar teks, melainkan getaran yang dialami oleh daging dan darah. Ini adalah cara untuk menunjukkan bagian-bagian terdalam dari dinamika yang dialami dan disaksikan secara langsung.

Urgensi dari metode penulisan ini juga berkaitan erat dengan agenda dekolonisasi riset. Selama berabad-abad, pondasi keilmuan dibangun di atas landasan kolonialitas yang sangat patriarkal, berpusat pada laki-laki, dan berfokus pada mereka yang non-disabilitas. Jarang sekali kita mendengar suara atau kontribusi dari orang autis atau penyandang disabilitas mental dalam studi agama yang didasarkan pada sudut pandang mereka sendiri. Perspektif mereka sering dianggap "tidak ilmiah" karena terlalu personal atau tidak memenuhi standar logika formal yang hegemonik. Dengan menulis secara performatif, kita memberikan ruang bagi suara-suara yang selama ini dianggap tidak sah untuk hadir di meja akademik.

Tantangan dalam menerapkan gaya penulisan puitis dan personal ini di lingkungan akademik tradisional sangatlah besar. Penolakan sering kali datang dalam bentuk komentar bahwa tulisan semacam itu "kurang metodologis" atau "terlalu emosional". Namun, kita harus menyadari bahwa label "ilmiah" itu sendiri sering kali merupakan alat kontrol kolonial untuk meminggirkan pengetahuan-pengetahuan alternatif. Menulis secara personal adalah tindakan politik. Ini adalah upaya untuk merebut kembali narasi kita sendiri dari tangan-tangan yang selama ini mengobjekkan kita.

Bagi individu neurodivergen, menulis dengan cara ini juga merupakan bentuk akomodasi diri. Pikiran kita yang tidak linear dan penuh dengan citraan sensorik lebih mudah terartikulasi melalui bahasa poetika daripada melalui struktur esai akademik yang membosankan. Melalui puisi dan narasi personal, kita bisa menjelaskan kompleksitas hubungan kita dengan Tuhan, tradisi, dan masyarakat dengan cara yang jauh lebih jujur.

Mendekolonisasi studi agama berarti mengakui bahwa kebenaran itu plural dan bisa ditemukan dalam beragam bentuk ekspresi. Tubuh kita adalah medium pertama di mana wahyu dan tradisi itu mendarat. Oleh karena itu, menuliskan pengalaman tubuh adalah cara kita membaca tradisi dengan lebih adil. Kita perlu lebih banyak cendekiawan yang berani "bertelanjang" dalam tulisannya, menunjukkan kerentanan mereka, dan menolak untuk menjadi sekadar pengamat yang dingin. Hanya dengan cara inilah, studi agama bisa menjadi ilmu yang benar-benar membebaskan dan menghargai martabat manusia dalam segala keberagamannya.

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer