Konsep self-care atau perawatan diri belakangan ini telah menjadi tren global yang sangat masif. Dari iklan produk kecantikan hingga aplikasi meditasi berbayar, kita terus dibombardir dengan pesan bahwa kesehatan mental adalah tanggung jawab individu sepenuhnya. Namun, jika kita melihat lebih dalam dari perspektif aktivisme di Global South, konsep self-care ala Barat ini sering kali terasa hambar, elitis, dan gagal menyentuh akar permasalahan. Kesejahteraan bukan sekadar masalah "perasaan", melainkan masalah keadilan sistemik.
Salah satu kritik utama terhadap self-care individualis adalah ketimpangan akses yang sangat nyata. Sering kali, hanya mereka yang memiliki hak istimewa secara ekonomi yang bisa melakukan praktik-praktik tersebut—seperti pergi berlibur, membeli makanan sehat yang mahal, atau membayar sesi terapi pribadi. Ketimpangan ini menciptakan jurang yang lebar dalam gerakan aktivisme. Bagaimana kita bisa bicara tentang "perawatan diri" kepada seorang aktivis akar rumput yang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya atau yang hidup di bawah ancaman kekerasan struktural setiap hari? Self-care dalam bentuk komoditas hanya memperkuat narasi bahwa kesehatan mental adalah barang mewah.
Luka sistemik yang dialami oleh komunitas marginal tidak bisa disembuhkan hanya dengan meditasi mandiri di dalam kamar. Luka tersebut bersifat kolektif, maka penyembuhannya pun harus bersifat kolektif. Konsep communal care atau kepedulian kolektif menawarkan pendekatan yang berbeda. Ini bukan soal merawat diri sendiri agar bisa bekerja lebih keras lagi (yang sering kali merupakan tuntutan kapitalisme), melainkan soal bagaimana kita saling menjaga dan memastikan tidak ada satu pun anggota komunitas yang tertinggal dalam perjuangan.
Membangun resiliensi kolektif adalah tindakan dekolonial yang nyata. Dekolonisasi kesejahteraan berarti kita menolak definisi kesuksesan hidup yang hanya berpusat pada pencapaian individu. Sebaliknya, kita berakar kembali pada nilai-nilai lokal seperti gotong royong, pembangunan sumber daya bersama, dan solidaritas organik. Resiliensi kolektif melibatkan pembangunan sistem pendukung di mana setiap orang merasa memiliki jaring pengaman saat mereka jatuh. Ini bisa berupa berbagi akses informasi, dukungan finansial bersama, hingga penyediaan ruang aman untuk memproses trauma kolektif.
Bagi kita yang bergerak di bidang isu-isu sensitif seperti perdamaian, disabilitas, atau hak asasi manusia, tekanan sosial dan politik bisa sangat menghancurkan. Tanpa dukungan kolektif, resiliensi kita akan cepat aus. Kesejahteraan harus dilihat sebagai tanggung jawab bersama. Kita perlu menciptakan ekosistem di mana setiap individu merasa dihargai martabatnya, apa pun kondisi mental atau fisiknya. Tindakan sesederhana mendengarkan tanpa menghakimi atau membantu pekerjaan teknis kawan yang sedang mengalami burnout adalah bentuk nyata dari kepedulian kolektif.
Tujuannya bukan sekadar untuk "bertahan hidup", tetapi untuk tumbuh bersama dalam martabat. Kita harus menggugat narasi yang mengatakan bahwa jika kita gagal menjaga kesehatan mental, itu adalah kesalahan kita sendiri. Tidak, sering kali itu adalah kegagalan sistem yang menindas kita. Dengan beralih dari self-care menuju communal care, kita sedang membangun kekuatan baru yang tidak mudah dipatahkan oleh tekanan eksternal. Mari kita bangun kembali resiliensi kita dari bawah, dari akar rumput, dan dari hati yang saling terhubung. Kesejahteraan adalah hak bagi semua, bukan hanya bagi mereka yang mampu membelinya.
Posting Komentar