Pendahuluan: Luka Masa Lalu dan Harapan di Tahun 2026
Dunia profesional sering kali membanggakan diri sebagai tempat yang menghargai produktivitas dan inovasi. Namun, bagi banyak orang autistik, gerbang dunia kerja sering kali terasa sangat tertutup rapat. Jika kita melihat kembali pada periode tahun 2022 hingga 2024, banyak dari kita mengalami kenyataan pahit bahwa kejujuran mengenai identitas diri sebagai individu neurodivergen sering kali berujung pada penolakan sistemik. Diskriminasi ini tidak selalu berbentuk pengusiran secara kasar, melainkan hadir dalam bentuk standar "siap kerja" yang kaku dan tidak memberikan ruang bagi keberagaman cara berpikir.
Memasuki tahun 2026 ini, kita mulai melihat adanya pergeseran wacana global. Banyak perusahaan mulai mengadopsi slogan inklusivitas. Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah inklusivitas tersebut hanya sekadar hiasan di poster rekrutmen, atau sudah menyentuh akar infrastruktur mental perusahaan? Tulisan ini adalah refleksi atas perjalanan dari trauma diskriminasi menuju sebuah kesadaran proaktif untuk mengubah sistem yang selama ini melumpuhkan potensi manusia.
Menggugat Definisi "Siap Kerja" yang Ableist
Istilah "siap kerja" saat ini perlu kita gugat secara mendasar. Dalam banyak konteks, standar ini sebenarnya hanyalah instrumen dari ableisme yang tersembunyi. Ableisme adalah sebuah sistem keyakinan yang menganggap bahwa tubuh dan pikiran non-disabilitas adalah satu-satunya standar yang unggul dan valid. Ketika sebuah perusahaan menetapkan syarat bahwa pekerja harus bisa bekerja di bawah tekanan tinggi dengan tenggat waktu yang sangat kaku, mereka sebenarnya sedang melakukan penyaringan terhadap orang-orang yang memiliki ritme kerja berbeda.
Bagi individu autistik dan mereka yang memiliki disabilitas mental lainnya, kompetensi intelektual sering kali tidak berbanding lurus dengan kemampuan untuk menahan stres dalam lingkungan yang tidak ramah secara sensorik. Kita sering kali memiliki kapasitas untuk menyelesaikan tugas yang kompleks dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi, namun kapasitas tersebut sering kali lumpuh seketika saat kita dipaksa bekerja dalam kubikel yang bising atau di bawah instruksi yang penuh dengan ambiguitas sosial. Oleh karena itu, definisi "siap kerja" harus diubah dari kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan sistem yang kaku menjadi kemampuan sistem untuk menyediakan infrastruktur bagi keragaman cara kerja.
Tantangan Budaya Birokrasi dan Senioritas di Indonesia
Di Indonesia, hambatan bagi pekerja autistik memiliki dimensi tambahan yang berkaitan dengan budaya birokrasi dan norma sosial. Budaya "sungkan" dan kewajiban untuk selalu mengikuti kemauan senior secara mutlak sering kali menjadi tembok besar yang sulit ditembus. Bagi orang autistik, komunikasi yang bersifat tidak langsung atau penuh dengan kode-kode sosial tertentu sangat sulit untuk diproses dengan cepat.
Ketidakmampuan atau ketidakinginan untuk mengikuti ritual sosial yang sebenarnya tidak relevan dengan pekerjaan sering kali disalahartikan sebagai perilaku yang tidak sopan atau tidak kooperatif. Hal ini memicu sebuah keprihatinan yang mendalam: mengapa diskriminasi yang berbasis pada ketidaktahuan ini terus dipelihara dalam waktu yang lama? Banyak pemberi kerja merasa bahwa memberikan akomodasi khusus adalah sebuah beban operasional. Padahal, jika kita telaah lebih dalam, memberikan instruksi tertulis yang jelas atau menyediakan lingkungan yang minim distraksi adalah bentuk investasi efisiensi yang akan menguntungkan semua pihak dalam jangka panjang.
Belajar dari Komitmen Global dan Desain Universal
Kita dapat mengambil pelajaran berharga dari perkembangan di Australia. Negara tersebut telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mendorong inklusivitas melalui penerapan desain universal untuk pekerja autistik. Mereka memahami sebuah prinsip dasar: bahwa membangun tempat kerja yang ramah bagi orang autistik sebenarnya adalah membangun tempat kerja yang ramah bagi semua orang.
Prinsip desain universal mengajarkan bahwa ketika kita mempermudah akses bagi kelompok yang paling rentan, kita sebenarnya mempermudah akses bagi semua orang. Sebagai contoh, instruksi kerja yang terdokumentasi dengan baik tidak hanya membantu pekerja autistik untuk menghindari kebingungan sensorik. Hal tersebut juga sangat membantu pekerja non-autistik agar memiliki panduan yang akurat sehingga kesalahan kerja dapat diminimalisir. Inilah yang disebut dengan produktivitas yang inklusif, bukan produktivitas yang didorong oleh rasa takut atau kepatuhan buta pada aturan yang usang.
AuDHD dan Dilema Tenggat Waktu: Sebuah Refleksi Personal
Sebagai seseorang yang mengidentifikasi diri sebagai AuDHD (gabungan antara Autisme dan ADHD), saya sering kali merasa bahwa tenggat waktu yang bersifat sangat kaku adalah musuh terbesar dalam produktivitas. Penggunaan istilah seperti "deadline kaku" terkadang terasa sangat membebani hingga mampu melumpuhkan fungsi eksekutif otak. Ada risiko nyata untuk merasa kewalahan (overwhelmed) ketika tuntutan pekerjaan datang bertubi-tubi tanpa adanya fleksibilitas untuk menyesuaikan ritme energi harian.
Namun, di sisi lain, saya juga menyadari bahwa dalam situasi kerja yang sangat terdukung, potensi kita dapat meledak dengan cara yang positif. Ketika seorang atasan bersedia memberikan umpan balik berkala yang konstruktif dan memahami isyarat sosial (social cues) yang kita butuhkan, pekerjaan yang awalnya terlihat mustahil justru bisa diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih lengkap dibandingkan standar rata-rata. Kuncinya terletak pada komunikasi yang terbuka dan jujur mengenai kebutuhan akomodasi tanpa rasa takut akan dihakimi.
Langkah Proaktif: Mengomunikasikan Kebutuhan Akomodasi
Salah satu titik balik dalam karir saya adalah ketika saya mulai melepaskan rasa pesimisme yang mendalam dan beralih ke tindakan yang proaktif. Alih-alih menunggu perusahaan untuk berubah, saya mulai secara aktif mengomunikasikan kebutuhan akomodasi saya sejak awal proses kerja. Hal ini biasanya saya lakukan melalui tulisan formal yang disampaikan kepada atasan atau klien.
Dalam pengalaman saya bekerja di agensi konsultan, saya menemukan bahwa keterbukaan ini justru membuahkan hasil yang mengejutkan. Ternyata, ada agensi yang bersedia menerima identitas saya tanpa komplain dan dengan senang hati menyesuaikan cara mereka memberikan instruksi. Klien pun sering kali merasa lebih nyaman karena mereka mendapatkan kepastian mengenai proses kerja yang transparan. Ini membuktikan bahwa posisi kita sebagai pekerja autistik bukanlah sebuah kekurangan yang harus disembunyikan, melainkan sebuah profil profesional unik yang memerlukan pengaturan lingkungan yang tepat.
Menuju Masa Depan Ekosistem Kerja yang Inklusif
Untuk membangun ekosistem kerja yang benar-benar manusiawi di tahun 2026, diperlukan langkah-langkah konkret dari para pemangku kepentingan:
Redefinisi Evaluasi Kinerja: Penilaian produktivitas sebaiknya difokuskan pada hasil karya (output) yang nyata, bukan pada lamanya jam duduk di kantor atau kemampuan bersosialisasi di waktu istirahat.
Standardisasi Komunikasi Tertulis: Perusahaan harus membiasakan pemberian instruksi melalui media tertulis untuk menjamin akurasi dan mengurangi beban kognitif pekerja neurodivergen.
Fleksibilitas Ruang dan Waktu: Memberikan izin bagi pekerja untuk mengatur lingkungan kerja mereka sendiri, termasuk penggunaan alat bantu seperti headphone peredam bising atau pengaturan cahaya yang nyaman.
Pelatihan Kesadaran Neurodiversitas: Meningkatkan kapasitas manajemen dan rekan kerja untuk memahami bahwa perbedaan cara berpikir adalah aset, bukan hambatan.
Penutup: Melepaskan Pesimisme, Merangkul Perubahan
Rasa sakit akibat diskriminasi di masa lalu memang sulit untuk dilupakan begitu saja. Namun, kita tidak boleh membiarkan rasa sakit tersebut berubah menjadi keputusasaan yang melumpuhkan. Masa depan dunia kerja yang kita impikan adalah masa depan yang memiliki "Jembar Mamanahan" atau keluasan hati dalam menerima segala bentuk keunikan manusia.
Bagi rekan-rekan sesama neurodivergen, teruslah menyuarakan hak-hak kalian dengan cara yang profesional dan bermartabat. Bagi para pemberi kerja, sadarilah bahwa inklusivitas bukan sekadar aksi amal, melainkan strategi cerdas untuk menciptakan inovasi yang berkelanjutan. Mari kita tinggalkan standar ableisme yang usang dan bersama-sama membangun dunia kerja yang benar-benar adil bagi semua jiwa yang ingin berkarya.

Posting Komentar