tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Mempraktikkan Jembar Mamanahan: Menanam Keadilan dalam Kebun Batin yang Luas

Pendahuluan: Melampaui Definisi Sabar yang Sempit

Membicarakan konsep Jembar Mamanahan sering kali terjebak pada definisi permukaan yang romantis. Dalam banyak percakapan sehari-hari, masyarakat kita sering menganggapnya sebagai sinonim dari kesabaran pasif. Ada kecenderungan untuk melihatnya sebagai kemampuan untuk terus-menerus mengalah demi menjaga kedamaian semu di permukaan. Namun, melalui perjalanan akademik dan refleksi personal saya, saya menemukan bahwa memahami Jembar Mamanahan semata-mata sebagai tindakan "berlapang dada" tanpa syarat adalah sebuah ketidakadilan. Hal ini terutama merupakan ketidakadilan terhadap diri sendiri dan integritas tubuh kita.

Jembar Mamanahan bukan sekadar tentang seberapa banyak beban yang bisa kita tanggung sebelum jiwa kita retak. Sebaliknya, ia adalah sebuah praktik aktif untuk membangun kapasitas ruang batin. Ruang ini harus mampu menampung realitas hidup yang kompleks tanpa kita harus kehilangan jati diri. Ini adalah tentang kedaulatan batin. Di dalam tulisan ini, saya ingin mengajak Anda melihat bagaimana konsep lokal Sunda ini bisa menjadi alat dekolonisasi. Kita bisa menggunakannya untuk merawat diri dan berinteraksi dengan dunia yang sering kali menuntut kita untuk menjadi produktif dengan cara yang tidak manusiawi.

Gambar ini memvisualisasikan konsep "kebun batin". Di dalam tubuh manusia yang tampak bening, terdapat berbagai fase alam yang berjalan bersamaan. Ada bagian yang tumbuh, mekar, dan juga yang gugur menjadi tanah. Ini mewakili kemampuan batin untuk menampung duka dan harapan tanpa saling menghancurkan. Cahaya yang masuk menggambarkan kesadaran diri yang jernih.

Keadilan untuk Tubuh dan Penetapan Batasan yang Sehat

Poin utama yang harus kita pahami adalah bahwa mempraktikkan Jembar Mamanahan berarti senantiasa bersikap adil pada diri sendiri dan tubuh. Tubuh kita bukanlah sebuah ruang kosong yang tidak memiliki reaksi. Tubuh adalah wadah fisik yang merekam setiap peristiwa. Ia mengingat trauma, menyimpan ketegangan, dan mencatat perlakuan tidak pantas yang kita terima dari lingkungan sekitar. Menjadi "lapang hati" tidak berarti kita membiarkan tubuh kita menjadi tempat penampungan bagi emosi negatif orang lain.

Bagi saya pribadi, Jembar Mamanahan adalah kemampuan untuk mengampuni orang lain agar kita bisa terus terlibat dalam kehidupan sosial. Namun, pengampunan tersebut harus berjalan beriringan dengan penetapan batasan atau boundaries. Mengampuni tidak berarti kita harus menghapus ingatan atau meniadakan konsekuensi dari sebuah tindakan. Justru, dengan memberikan umpan balik yang jujur kepada orang lain mengenai perlakuan mereka, kita sedang membangun dunia yang lebih layak untuk ditinggali.

Jika kita hanya diam saat diperlakukan tidak pantas, kita sebenarnya sedang melakukan pengabaian diri atau self-neglect. Ruang batin yang luas atau jembar justru membutuhkan struktur batasan yang kuat untuk melindungi isinya. Bayangkan sebuah wadah yang besar. Jika wadah itu tidak memiliki dinding yang kokoh, ia tidak akan bisa menampung air dengan baik. Air tersebut akan tumpah atau wadahnya akan hancur. Batasan adalah dinding yang memungkinkan batin kita memiliki volume untuk menampung kasih sayang tanpa harus hancur oleh tekanan dari luar. Keadilan pada tubuh berarti kita mendengarkan kapan tubuh merasa sesak dan kapan tubuh merasa aman.

Memahami Emosi sebagai Aliran dan Bukan Residu Fisik

Banyak orang memiliki anggapan keliru bahwa memiliki hati yang luas berarti kita tidak pernah merasa marah atau sedih. Ini adalah pandangan yang berbahaya bagi kesehatan mental. Emosi yang dipendam tidak akan hilang begitu saja dari sistem saraf kita. Emosi tersebut akan bertransformasi menjadi manifestasi fisik di dalam tubuh. Ia sering kali muncul sebagai ketegangan di area bahu, sakit kepala yang terjadi terus-menerus, atau perilaku reaktif yang sulit kita kendalikan secara sadar.

Di sinilah pentingnya memiliki keterampilan komunikasi dasar sebagai fondasi dari Jembar Mamanahan. Memiliki kedewasaan untuk merawat emosi berarti kita memiliki kemampuan untuk menerima emosi tersebut saat ia datang. Kita mengakuinya sebagai bagian dari realitas yang valid dan kemudian kita "mengalirkannya". Mengalirkan emosi berbeda dengan memendamnya di dalam hati. Mengalirkan emosi berarti menyalurkan energi tersebut melalui kata-kata yang jujur, melalui ekspresi artistik, atau melalui tindakan fisik yang adil bagi kesehatan tubuh.

Proses pengaliran ini adalah hal yang memungkinkan terjadinya pemulihan dari luka batin. Seseorang yang memiliki batin yang luas adalah mereka yang salurannya lancar. Mereka tidak menyimpan endapan sampah emosional dari masa lalu. Endapan tersebut biasanya membuat batin menjadi terasa sempit dan penuh sesak. Ketika saluran emosi itu lancar, barulah kita bisa memiliki kapasitas yang cukup untuk benar-benar mendengarkan orang lain. Kita bisa memberikan umpan balik yang konstruktif karena kita tidak lagi terdistraksi oleh rasa sakit yang tersumbat di dalam diri.

Metafora Kebun: Menampung Paradoks di Dalam Jiwa

Saya sangat menyukai metafora kebun untuk menjelaskan konsep ini. Saya sering membayangkan Jembar Mamanahan seperti mengelola sebuah kebun yang dirawat dengan penuh kasih sayang. Di dalam sebuah kebun yang sehat, terdapat berbagai petak dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada satu petak yang khusus digunakan untuk pembenihan, ada petak untuk perawatan tanaman yang sedang tumbuh, ada area untuk tanaman yang sedang berbuah, dan tentu saja ada masa untuk panen. Selain itu, ada juga sudut untuk kompos. Tempat ini adalah tempat di mana dedaunan yang busuk dan sampah organik diolah menjadi nutrisi untuk pertumbuhan di masa depan.

Dalam analogi ini, emosi negatif seperti duka, kemarahan, atau rasa kecewa adalah bagian dari ekosistem kebun tersebut. Mereka tidak harus kita buang secara paksa dari batin kita. Mereka cukup ditempatkan di "petak" yang tepat agar bisa bertransformasi menjadi kebijaksanaan. Memiliki batin yang luas berarti kita menyediakan ruang untuk masing-masing fase ini. Anda bisa merasa sangat hancur karena sebuah kegagalan di satu petak batin, namun di saat yang sama, Anda tetap bisa produktif dan penuh harapan di petak lainnya.

Kemampuan untuk menampung paradoks ini sangat penting dalam dunia akademik dan kehidupan sosial kita. Sering kali, dunia luar memaksa kita untuk memilih satu sisi saja. Kita ditanya apakah kita sedang berduka atau sedang bekerja. Kita ditanya apakah kita sedang marah atau kita sudah memaafkan. Jembar Mamanahan mengajarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks. Kita bisa menjadi keduanya secara bersamaan. Kebun batin kita cukup luas untuk menampung duka yang sangat dalam tanpa harus mematikan bibit harapan yang baru saja kita tanam. Kasih sayang dalam merawat kebun ini berarti kita tidak menghakimi satu petak karena petak lainnya sedang mengalami musim gugur.

Dekolonisasi Batin dan Rebut Kembali Kedaulatan Waktu

Dunia modern saat ini sering kali menuntut kita untuk selalu dalam kondisi "siap pakai". Sistem ekonomi dan sosial kita mengharapkan kita untuk segera pulih dari masalah agar kita bisa kembali berkontribusi pada produktivitas massal. Standar ini sering kali terasa sangat tidak adil dan bersifat kolonial. Hal ini karena standar tersebut mencoba menyeragamkan kecepatan pemulihan setiap individu. Ia mengabaikan kearifan lokal tentang waktu, ritme tubuh, dan proses penyembuhan yang bersifat organik.

Mempraktikkan Jembar Mamanahan adalah sebuah bentuk perlawanan atau resistance. Dengan memilih untuk tidak terburu-buru, kita sedang menjaga kedaulatan diri. Dengan memilih untuk mendengarkan kebutuhan tubuh yang sedang lelah, kita sebenarnya sedang melakukan dekolonisasi terhadap batin kita. Kita merebut kembali otoritas atas cara kita merasakan sesuatu dari tangan dunia luar yang serba cepat.

Kesadaran diri yang terbangun melalui kelapangan hati ini memungkinkan kita untuk menjalani hidup dengan sepenuhnya. Kita tidak lagi mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa takut atau reaksi impulsif. Sebaliknya, kita mampu mengambil keputusan yang berkesadaran dan memiliki informasi yang cukup dari dalam diri. Keputusan yang lahir dari batin yang luas biasanya jauh lebih bijaksana. Ia akan mempertimbangkan kesejahteraan banyak pihak secara adil. Ini mencakup kesejahteraan diri sendiri, orang lain, hewan, alam, dan bahkan elemen-elemen hidup maupun non-hidup di sekitar kita. Inilah yang disebut dengan membangun dunia yang lebih layak.

Menulis sebagai Ritual untuk Merawat Kebun Batin

Lalu, bagaimana langkah praktis untuk mulai membangun kebun batin ini? Salah satu cara yang paling sederhana namun sangat efektif adalah melalui tindakan mencatat atau menjurnal. Di tengah kesibukan penelitian akademik atau pekerjaan sosial yang berat, kita sering kali kehilangan jejak atas apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri kita. Kita menjadi asing dengan emosi kita sendiri.

Saran saya kepada Anda adalah mulailah mencatat perilaku batin Anda setiap hari. Anda tidak perlu langsung menjadi seorang analis yang hebat untuk tulisan tersebut. Anda tidak perlu membedahnya dengan teori-teori sosiologi atau psikologi yang rumit pada saat itu juga. Cukup tuliskan apa yang Anda rasakan secara jujur. Tuliskan apa yang membuat tubuh Anda merasa tegang dan apa yang membuat Anda merasa lega. Setelah itu, tulis dan tinggalkan catatan tersebut. Biarkan catatan itu "mengendap" seperti benih yang sedang tidur di dalam tanah kebun Anda.

Beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian, kembalilah dan baca entri diari tersebut. Anda akan menemukan bahwa Anda membacanya dengan wawasan hidup yang sudah bertumbuh. Anda akan melihat pola-pola lama dengan perspektif yang lebih matang. Wawasan ini akan membantu Anda melihat bagian mana dari batin Anda yang masih terasa sempit dan bagian mana yang sudah mulai meluas. Dari sanalah, Anda bisa mulai merencanakan perubahan-perubahan kecil dalam hidup Anda. Perubahan tersebut akan didasarkan pada data yang jujur dan keadilan bagi diri Anda sendiri.

Penutup: Menciptakan Dunia yang Lebih Welas Asih

Jembar Mamanahan pada akhirnya bukan hanya tentang mencapai kedamaian individu untuk diri sendiri. Ia adalah sebuah prasyarat utama untuk membangun komunitas yang sehat dan tangguh. Ketika kita masing-masing mampu merawat kebun batin kita sendiri dengan baik, kita akan menjadi individu yang lebih mampu berkolaborasi secara jujur. Kita menjadi lebih adil dalam melihat perbedaan pendapat karena kita tidak merasa terancam.

Kita tidak akan lagi membawa luka batin yang tersumbat dan tidak terolah ke dalam ruang-ruang diskusi publik atau meja perundingan kebijakan. Luka yang tidak terolah sering kali menjadi kebijakan yang menindas. Namun, batin yang luas akan melahirkan kebijakan yang welas asih. Mari kita mulai hari ini dengan satu tindakan kecil yang berani. Berikanlah ruang bagi satu emosi yang selama ini mungkin Anda tekan atau Anda abaikan. Akui keberadaannya dengan jujur. Alirkan emosi itu melalui media yang tepat. Dan tetaplah berikan umpan balik yang adil kepada dunia di sekitar Anda. Dengan cara itulah, kita sedang menanam benih keadilan, satu petak batin pada satu waktu.


Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer