tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Zen dan Seni Menyelamatkan Planet: Menemukan Kebebasan di Tengah Perubahan

Pendahuluan: Sebuah Perjalanan ke Dalam Diri

Gambar diciptakan oleh AI

Saat ini, saya sedang menjalani minggu ketujuh dari kursus "Zen and the Art of Saving the Planet" yang diselenggarakan oleh Plum Village. Tujuh minggu mungkin terdengar seperti waktu yang singkat dalam skema kehidupan yang luas, namun bagi lanskap batin saya, ini terasa seperti sebuah perjalanan melintasi benua yang luas dan berbukit.

Saya memulai kursus ini tidak dalam keadaan yang stagnan, melainkan di tengah pusaran perubahan relasional yang signifikan—sebuah perpisahan (breakup). Seringkali, kita melihat perpisahan atau perubahan hubungan sebagai sebuah gangguan, sebuah anomali yang harus segera diperbaiki agar kita bisa "kembali bekerja". Namun, pengalaman ini mengajarkan saya sebaliknya. Justru di tengah keruntuhan struktur emosional yang lama inilah, saya menemukan ruang untuk benar-benar merangkul diri sendiri. Praktik-praktik yang diajarkan dalam kursus ini bukan sekadar teori, melainkan menjadi penopang yang membimbing saya menuju kesadaran penuh (mindfulness) dan cinta kasih (loving kindness).

Kebahagiaan sebagai Fondasi Ekologis

Salah satu pertanyaan paling mendalam yang muncul selama saya merenungkan video-video pembelajaran dari Thich Nhat Hanh (Thay) adalah tentang esensi kebebasan dan kebahagiaan. Seringkali, narasi tentang penyelamatan lingkungan atau aktivisme iklim diwarnai dengan ketakutan, kemarahan, dan kepanikan. Namun, Thay menawarkan perspektif yang radikal: Untuk hidup di planet ini, dan terlebih untuk menyelamatkannya, kita membutuhkan hati yang bahagia.

Ini mungkin terdengar kontraintuitif bagi logika aktivisme konvensional. Bagaimana kita bisa bahagia saat bumi sedang terbakar? Namun, justru di situlah kuncinya. Cara kita merespons situasi planet saat ini adalah cerminan langsung dari keadaan batin kita. Jika kita bertindak dari tempat yang penuh kecemasan dan amarah, tindakan kita—betapapun berniat baiknya—dapat membawa energi kekerasan yang halus. Sebaliknya, dengan memupuk wawasan (cultivating insights) melalui kegembiraan dan kebebasan batin, kita membawa kualitas penyembuhan ke dalam tindakan kita. Menyelamatkan planet bukan lagi beban yang menghancurkan, melainkan ekspresi cinta yang meluap.

Membangun Landasan Etis Melalui Meditasi

Wawasan bukanlah sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit; ia adalah hasil panen dari benih yang kita tanam setiap hari. Melalui praktik meditasi harian, saya belajar untuk mengumpulkan kebijaksanaan sedikit demi sedikit. Dalam keheningan duduk, kita tidak melarikan diri dari dunia, tetapi kita sedang membangun sebuah fondasi etis yang kokoh.

Etika ini melampaui aturan moral konvensional; ia adalah kesadaran mendalam bahwa kesejahteraan saya tidak terpisah dari kesejahteraan planet. Membangun fondasi etis berarti memasukkan bumi ke dalam setiap pertimbangan keputusan kita. Ini adalah proses internalisasi bahwa setiap napas, setiap langkah, dan setiap konsumsi adalah tindakan politis sekaligus spiritual. Saya menyadari bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam, tetapi saya juga belajar untuk bersabar dengan diri sendiri. Membangun praktik, kebiasaan, dan identitas baru membutuhkan waktu. Seperti pohon yang membutuhkan musim untuk tumbuh, kita pun harus membiarkan diri kita tumbuh sebagaimana alam mengalir. Tidak perlu terburu-buru, yang diperlukan hanyalah ketekunan yang lembut.

Wawasan Tentang "Non-Action" (Tanpa Tindakan)

Poin paling transformatif yang saya pelajari minggu ini adalah mengenai konsep "non-action" dalam konteks perlawanan (resistance). Dalam dunia yang mengagungkan kesibukan, kita sering merasa bersalah jika tidak "melakukan" sesuatu secara fisik setiap saat untuk memperjuangkan apa yang kita yakini.

Namun, kebijaksanaan Zen mengajarkan bahwa saat kita melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan atau perusakan lingkungan, kita diingatkan bahwa kita tidak harus melakukan semua bentuk perlawanan tersebut melalui tubuh fisik kita sendirian. Ada bahaya besar dalam aktivisme yang mengandalkan kelelahan fisik semata.

"Non-action" di sini bukan berarti pasif atau apatis. Ini adalah tindakan yang lahir dari hati nurani yang jernih dan tenang, bukan dari reaktivitas. Ini tentang memilih satu hal yang benar-benar penting bagi kita, dan melakukannya dengan kesadaran penuh. Lebih jauh lagi, ini tentang membangun komunitas. Ketika kita memiliki komunitas (Sangha), kita tidak perlu memikul beban dunia di pundak kita sendiri. Kita membiarkan hati nurani kolektif yang menggerakkan tindakan komunitas tersebut. Ini adalah bentuk tindakan yang lebih alami, lebih berkelanjutan, dan lebih selaras dengan cara kerja alam semesta.

Menyelamatkan planet, pada akhirnya, adalah tentang kembali ke ritme alam, dimulai dari ritme batin kita sendiri. Di tengah perubahan hidup saya pribadi, saya belajar bahwa merawat diri sendiri dengan penuh kasih sayang adalah langkah pertama yang tak terelakkan untuk merawat Ibu Bumi.


Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer