tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Ketika "Inspiratif" Menjadi Racun: Membongkar Mitos Supercrip dan Penindasan Sesama Disabilitas


Dalam narasi umum tentang disabilitas, kita sering disuguhi cerita-cerita kepahlawanan yang klise. Cerita tentang seseorang yang "melampaui batas," "mengalahkan keterbatasan," atau "tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan." Media arus utama menyukai narasi ini. Masyarakat non-disabilitas menyukainya karena membuat mereka merasa nyaman.

Namun, bagi komunitas disabilitas itu sendiri, narasi ini sering kali menjadi pedang bermata dua yang mematikan.

Konsep ini dikenal dalam studi disabilitas sebagai Supercrip (Super Cripple/Si Cacat Super). Pada permukaannya, ia tampak seperti pujian. Namun di balik layar, ia adalah fondasi dari Ableisme Terinternalisasi yang membuat penyandang disabilitas saling menindas satu sama lain.

Pernahkah Anda, sebagai penyandang disabilitas, merasa dihakimi oleh rekan sesama disabilitas karena Anda meminta istirahat? Pernahkah Anda dituduh "manja" atau "kurang berjuang" oleh senior yang memiliki disabilitas serupa? Jika ya, Anda sedang berhadapan dengan manifestasi buruk dari mitos Supercrip.

Artikel ini akan membedah fenomena tersebut, mengapa itu terjadi, dan bagaimana kita bisa memutus rantainya.

Apa Itu Stereotip "Supercrip"?

Istilah Supercrip pertama kali dipopulerkan dalam sosiologi dan studi disabilitas untuk menggambarkan representasi penyandang disabilitas yang dianggap "sukses" hanya jika mereka mampu melakukan hal-hal luar biasa yang, ironisnya, membuat orang lupa bahwa mereka memiliki disabilitas.

Sosok Supercrip digambarkan sebagai individu yang tidak pernah mengeluh. Mereka bekerja dua kali lebih keras dari orang non-disabilitas. Mereka mendaki gunung dengan kursi roda, mereka bekerja lembur saat sakit kronis kambuh, atau mereka menyembunyikan kelelahan sensorik (sensory overload) demi terlihat profesional.

Masalah utamanya bukan pada prestasi mereka. Masalahnya adalah ketika pencapaian luar biasa tersebut dijadikan standar minimal bagi semua penyandang disabilitas lainnya.

Mitos ini mengajarkan bahwa satu-satunya cara untuk menjadi penyandang disabilitas yang "berharga" adalah dengan menyangkali rasa sakit dan kebutuhan tubuh sendiri.

Dari Inspirasi Menjadi Penindasan: Mekanisme Ableisme Terinternalisasi

Bahaya terbesar dari mitos Supercrip bukanlah pandangan orang luar, melainkan ketika pandangan itu diadopsi oleh penyandang disabilitas itu sendiri. Ini disebut Ableisme Terinternalisasi (Internalized Ableism).

Ketika seseorang telah menelan mentah-mentah narasi bahwa "sukses sama dengan menderita dalam diam," mereka akan mulai memproyeksikan standar itu kepada orang lain. Inilah cikal bakal Kekerasan Lateral (penindasan antar sesama anggota kelompok marjinal).

Berikut adalah pola pikir seorang Supercrip yang telah menjadi penindas:

  1. Validasi Lewat Penderitaan: "Aku dulu bekerja saat sakit parah di rumah sakit saja bisa selesai tepat waktu. Kenapa kamu yang cuma sakit sedikit minta perpanjangan waktu?" Bagi mereka, penderitaan adalah lencana kehormatan. Mereka merasa valid hanya jika mereka menderita.

  2. Ketakutan akan Stigma Kolektif: Mereka takut jika ada satu penyandang disabilitas yang meminta akomodasi (misalnya tenggat waktu fleksibel), maka semua penyandang disabilitas akan dianggap lemah oleh masyarakat umum. Mereka menindas Anda demi "menjaga nama baik" komunitas di mata orang non-disabilitas.

  3. Kecemburuan Bawah Sadar: Melihat Anda berani menetapkan batasan (boundaries) dan merawat diri sering kali memicu rasa iri pada diri mereka. Mereka iri karena mereka tidak mengizinkan diri mereka sendiri untuk istirahat. Kemarahan mereka sebenarnya adalah kesedihan karena mereka telah mengabaikan diri sendiri terlalu lama.

Tanda-tanda Anda Sedang Berhadapan dengan Pola Pikir Supercrip

Sangat penting untuk mengenali pola ini agar Anda tidak terjebak menyalahkan diri sendiri. Berikut adalah tanda-tanda red flag dalam komunitas atau interaksi personal:

  • Gatekeeping Penderitaan: Adanya kompetisi siapa yang paling menderita (Oppression Olympics). Jika penderitaan Anda tidak seberat mereka, aspirasi Anda dianggap tidak valid.

  • Anti-Akomodasi: Mereka menganggap permintaan aksesibilitas (seperti WFH, waktu tambahan, atau ruang tenang) sebagai bentuk kemanjaan atau privilese, bukan hak asasi.

  • Glorifikasi Produktivitas: Menilai harga diri seseorang semata-mata dari seberapa produktif mereka secara ekonomi atau akademik, mengabaikan kesehatan mental dan fisik.

  • Nada Bicara Merendahkan: Menggunakan frasa seperti "Jangan jadikan disabilitasmu sebagai alasan" atau "Harusnya kamu bisa lebih kuat."

Cara Mengatasi dan Melindungi Diri

Jika Anda menjadi target dari perilaku ini, ketahuilah bahwa itu bukan salah Anda. Anda sedang berhadapan dengan seseorang yang terluka oleh sistem, dan mereka melukai Anda sebagai respons trauma mereka. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil:

1. Kenali, Jangan Serap

Langkah pertama adalah deteksi. Katakan pada diri sendiri: "Ini adalah suara ableisme terinternalisasi, bukan fakta tentang kemampuanku." Pisahkan kritik mereka dari harga diri Anda. Komentar mereka adalah cerminan ketakutan mereka, bukan cerminan kelemahan Anda.

2. Tolak Standar yang Tidak Realistis

Anda tidak perlu menjadi inspirasi bagi siapa pun. Anda hanya perlu bertahan hidup dan sejahtera. Menolak menjadi Supercrip adalah tindakan revolusioner. Merawat diri, tidur cukup, dan meminta bantuan bukanlah kelemahan. Itu adalah kebijaksanaan mengelola energi.

3. Tetapkan Batasan Tegas (Safeguarding)

Jika interaksi tersebut terjadi di ruang komunitas, laporkan. Jika terjadi secara personal, Anda berhak memutus akses. Jangan berdebat dengan seseorang yang menjadikan penderitaan sebagai identitas. Anda tidak bisa menyembuhkan trauma mereka dengan mengorbankan kesehatan mental Anda sendiri.

4. Cari Komunitas yang Aman

Tidak semua komunitas disabilitas itu toksik. Carilah lingkaran yang mempraktikkan Keadilan Disabilitas (Disability Justice), yang menghargai tubuh yang rentan dan mengakui bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda. Carilah teman yang berkata "Istirahatlah," bukan "Ayo kerja lebih keras."

Penutup: Menjadi Manusia Biasa adalah Hak

Menjadi penyandang disabilitas di dunia yang tidak dirancang untuk kita memang berat. Kita tidak perlu menambah beban itu dengan tuntutan untuk menjadi manusia super.

Mari kita normalisasi menjadi penyandang disabilitas yang "biasa saja". Yang kadang lelah, yang kadang butuh bantuan, yang kadang tidak produktif, dan yang tetap berharga bukan karena apa yang kita hasilkan, tapi karena keberadaan kita sebagai manusia.

Melepaskan jubah Supercrip mungkin membuat kita terlihat kurang "inspiratif" di mata dunia, tapi itu akan membuat kita jauh lebih manusiawi dan bahagia di mata diri sendiri.


Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer