Saya mau berbagi renungan bersama pembaca yang budiman. Ini adalah tentang ketergantungan. Dalam mode ketergantungan, diri berpikir bahwa seseorang atau hal atau benda menjadi satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan. Karenanya, diri berupaya keras untuk menjaga dan mempertahankan bahkan tanpa memperhatikan dan menghormati keputusan dan batasan orang lain.
Berdasarkan pengalaman saya, ada kesulitan untuk membedakan antara ketergantungan dan menjangkau seseorang saat membutuhkan. Satu hal yang saya perhatikan dari ketergantungan, perhatian menjadi terpaku pada satu hal sehingga muncul dorongan untuk melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Sementara di saat membutuhkan, diri masih bisa memperhatikan dan menghormati keputusan orang lain di saat ternyata orang yang diminta tidak bersedia. Saat menanggapi itu, diri bisa berhenti dan mencari dukungan ke orang yang lain.
Saya menemukan dua istilah untuk dipelajari bersama.
Definisi dan ciri-ciri ketergantungan emosional
Pertama, ketergantungan emosional terjadi saat seseorang mengandalkan pasangan atau teman nya untuk memenuhi hampir semua kebutuhan (Raypole, 2020). Ketika seseorang mengalami kesusahan, seseorang mungkin segera menjangkau orang lain sebelum mencoba mengelola emosi sendiri.
Berikut adalah tanda-tanda ketergantungan emosional yang dituliskan Raypole di web healthline:
- Pandangan ideal tentang pasangan Anda atau hubungan
- Keyakinan bahwa hidup Anda tidak memiliki makna tanpa mereka
- Keyakinan bahwa Anda tidak dapat menemukan kebahagiaan atau keamanan sendirian
- Ketakutan yang terus-menerus akan penolakan
- Kebutuhan konstan akan kepastian
- Perasaan hampa dan cemas saat menghabiskan waktu sendirian
- Membutuhkan mereka untuk membangun harga diri, kepercayaan diri, dan harga diri Anda
- Perasaan cemburu atau posesif
- Kesulitan mempercayai perasaan mereka untuk Anda
Kedua, kodependensi. Kodependensi adalah cara berperilaku dalam hubungan di mana seseorang terus-menerus memprioritaskan orang lain di atas diri sendiri, dan diri menilai suasana hati diri berdasarkan bagaimana orang lain berperilaku (Raypole, 2016).
Berikut adalah tanda-tanda kodependensi pada seseorang:
- kebutuhan mendalam untuk persetujuan dari orang lain
- Harga diri yang tergantung pada apa yang orang lain pikirkan tentang Anda
- Kebiasaan mengambil lebih banyak pekerjaan daripada yang dapat Anda tangani secara realistis, baik untuk mendapatkan pujian atau meringankan beban orang yang dicintai
- kecenderungan untuk meminta maaf atau disalahkan untuk menjaga perdamaian
- pola menghindari konflik
- kecenderungan untuk meminimalkan atau mengabaikan keinginan Anda sendiri
- kekhawatiran berlebihan tentang kebiasaan atau perilaku orang yang dicintai
- kebiasaan membuat keputusan untuk orang lain atau mencoba "mengelola" orang yang dicintai
- suasana hati yang mencerminkan bagaimana perasaan orang lain, bukan emosi Anda sendiri
- Rasa bersalah atau cemas saat melakukan sesuatu untuk diri sendiri
- Melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin Anda lakukan, hanya untuk membuat orang lain bahagia
- mengidealkan pasangan atau orang yang dicintai lainnya, seringkali sampai pada titik mempertahankan hubungan yang membuat Anda tidak terpenuhi
- ketakutan yang luar biasa akan penolakan atau pengabaian
Tanggapan pribadi mengenai ketergantungan emosional dan kodependensi
Perbedaan antara ketergantungan emosional dan kodependensi dijelaskan oleh Raypole (2020) sebagai berikut:
Kodependensi terjadi ketika seseorang mengabaikan kebutuhan pribadi untuk mengurus kebutuhan orang yang dicintai.
Ketergantungan emosional dapat menyerupai kodependensi jika seseorang mengabaikan kebutuhan emosional pribadi untuk memprioritaskan emosi pasangan atau teman.
Yang saya pahami dari ketergantungan emosional adalah ketika diri mengutamakan menjangkau dukungan emosional kepada orang lain terlebih dahulu di saat itu sebenarnya bisa diatasi sendiri. Sementara kodependensi adalah mengabaikan kebutuhan pribadi untuk memenuhi kebutuhan teman atau pasangan.
Tampaknya, saat disadari, diri mulai bisa paham kedaruratan dan dampak yang bisa terjadi jika diri membiarkan kondisi itu. Perawatan diri lebih utama, menjangkau profesional dan terapi serta menguji realitas. Mencatat jurnal dan mengekspresikan diri melalui kesenian bisa membantu. Pembaca budiman yang merasa punya pergumulan soal ketergantungan emosional dan/atau kodependensi bisa buka tautan berikut:
Emotional Dependency: What It Looks Like and How to Stop It (healthline.com)
Are You Codependent? 13 Signs of Codependency (psychcentral.com)
Jika kamu pengguna bahasa Indonesia, kamu bisa gunakan fitur terjemah yang tersedia di peramban atau menggunakan situs penerjemah.
Pemulihan Pribadi dengan ketergantungan emosional dan kodependensi
Saya memahami bahwa perjalanan panjang pemulihan pribadi yang saya lalui punya tema utama “bertumbuh dan melepaskan”. Untuk bisa melepaskan beberapa hal dan orang yang menjadi ketergantungan, saya mundur jauh ke belakang untuk mengenali dari mana saya belajar pola ketergantungan. Terapi seperti CBT (Cognitive Behavior Therapy) sangat membantu untuk mengurai emosi dan pikiran hingga menemukan keyakinan inti yang menciptakan pola ketergantungan.
Banyak hal yang tidak dimengerti dan itu membuat marah. Gak nyaman tetapi setelah melaluinya saya sadar bahwa proses itu perlu. Karena sepanjang saya bertumbuh di masa lalu, saya tak diberikan kesempatan untuk merasakan dan memaknai emosi yang saya alami. Saya sudah terlalu lama dididik bahwa merasakan dan menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan, sehingga saya memendamnya sampai terasa sakit dan sesak di dada. Budaya sekitar saya mendorong saya untuk mati rasa dan hanyut dalam ketiadaan harapan untuk hidup dan diterima.
Di saat menemukan seseorang yang tepat yang bisa mengafirmasi diri, diri mulai bermekaran. Itu adalah pengalaman yang luar biasa dan merangkul dalam hidup. Namun, pada waktu itu saya belum mengerti bahwa persahabatan bisa saja berakhir. Diri kemudian merasakan kehancuran dan mulai mencari alasan untuk membuat perangkap supaya teman itu berada di sisi senantiasa.
Saya didorong untuk belajar hidup mandiri dengan membuka peti emosi dan kenangan yang sudah sesak kepenuhan dan terkunci. Isi peti itu membuncah dan diri lari ketakutan dengan isi dari peti itu. Sementara sebagian diri yang sudah lama terperangkap di dalam peti tampak merengek dan minta dirawat.
Di saat keberanian sudah terkumpul, diri mulai merapikan isi peti yang berserakan. Kemudian menyusun nya di rak kenangan dan emosi yang seharusnya, tidak lagi di dalam peti yang disembunyikan jauh-jauh dari kantor pikiran. Ada rantai-rantai yang bisa membelenggu diri, itu terkunci di antara map kenangan dan emosi. Untuk melepasnya kita perlu mengurai rantai emosi dan kenangan itu untuk bisa menerima dan menyimpan nya dengan rapi di rak kenangan dan emosi. Rantai itu biasa disebut trauma.
Trauma menciptakan pola kaku dalam kebiasaan dan tanggapan terhadap peristiwa hidup. Ketergantungan adalah buah dari itu. Dari proses panjang selama bertahun-tahun, saya diingatkan bahwa saya baik dan mampu sejak awal. Saya membangun kapasitas diri untuk merawat dan menyelesaikan traum-trauma masa hidup saya yang membelenggu. Untuk bisa merangkul keterlemparan nasib, saya bersikap terbuka dan siap untuk perubahan. Perubahan terjadi selama berangsur-angsur melalui kebiasaan kecil yang sederhana.
Untuk pembaca budiman yang baru memulai perjalanan pemulihan pribadi, jalan di hadapan mungkin sepi dan sendirian. Perjalanan itu mengantarkan diri kepada seseorang yang selama ini dirindukan: diri sendiri. Bagian diri yang selama ini ditolak dan kurang perawatan, Ini menjadi kesempatan besar untuk belajar keterampilan baru dalam merawat emosi dan mengatasi trauma pribadi. Di perjalanan yang sepi tersebut, kita bisa mempertimbangkan untuk melibatkan profesional kesehatan jiwa dalam perjalanannya untuk memberi terang jalan di hadapan dan langkah yang bisa dilakukan.
Saya diingatkan, bahwa diri pribadi tidak bisa memaksakan seseorang yang memutuskan selesai dalam perjalanan hidupnya untuk bersama. Begitu juga sebaliknya. Dari perjalanan panjang, saya merangkul kenangan dan emosinya, harap dan doa paling baik untuk teman meskipun tidak akan berpapasan lagi. Ini adalah hadiah kebaikan dalam hidup.
Mari kita dengarkan bersama "seperti takdir yang kita tulis" oleh Nadin Amizah.
Postingan bertema Renungan ini ditulis oleh Kalaupadi. Dukung kami dengan beri uang jajan dengan klik nihbuatjajan.com/kalaupadi
Referensi
Raypole, C. (2016, Mei 17). Are You Codependent? Here Are the Key Signs of Codependency. Psych Central. https://psychcentral.com/lib/symptoms-signs-of-codependency
Raypole, C. (2020, Mei 8). Emotional Dependency: What It Looks Like and How to Stop It. Healthline. https://www.healthline.com/health/emotional-dependency
Posting Komentar