Di saat kita tidak bisa melihat apa-apa di jagad buana, sebuah dunia saat kita melihat hanya gelap. Ada satu cara untuk melihat dan menemukan arah pulang. Yaitu tutup mata dan terhubung lah dengan nurani. Kegelapan yang dilihat adalah makna bahwa nurani kita diselubungi oleh emosi-emosi. Sehingga kita tidak bisa melihat di jagad buana. Karena jagad buana merefleksikan dunia batin kita.
"Hanya orang bernurani yang bisa melihat wujud di dunia ini."
Yakinlah dari kekuatan terdalam. Izinkan diri untuk melepas emosi yang selama ini digenggam dan dirantai kuat oleh tubuh melalui trauma. Melepaskan ikatan rantai artinya mewujudkan kembali dunia di jagad buana. Ini adalah pemandangan yang kita lihat pertama. Lepaskan emosinya, ampuni diri sendiri atas perasaan yang muncul akibat perlakuan atau peristiwa yang terjadi. Setelahnya perwujudan kenangan itu akan memudar perlahan, rantai trauma lepas satu per satu dari tubuh kita.
Maka, saat kita coba membangkitkan nurani sekali lagi. Maka dunia dan pemandangan yang semula gelap tak berwujud, akan mewujud nyata di hadapan. Bukalah mata dengan keyakinan bahwa kita akan menemukan jalan pulang.
Dalam potongan Kisah ini, ada sebuah jagad dimana seseorang hilang dan tak ditemukan. Mereka bisa saja terjebak oleh dedemit dari alam gaib. Namun untuk orang yang telah mengaji diri, jagad buana bukanlah halangan. Tantangan memang, bagi Sari untuk melepaskan kekakuan yang terikat dengan dirinya sejak lama. Sebagai putri dari pemangku adat Sunda, beban yang ia pangku itu luar biasa berat.
Air mata mengalir, sambil mengikuti aliran sungai di jagad buana. Sari melihat bahwa air ini mengalir ke suatu tempat yang terhubung dengan sebuah kampung adat yang berkerabat dengan masyarakat adat Sari.
Kemana aliran sungai ini mengalir dan membawa anak-anak yang tersesat? Apa ada karuhun/leluhur yang tinggal dunia ini? Ataukah ada pesan dari karuhun yang luput dari perhatian Sari?
Hingga Sari tiba dan melihat gunung tinggi menjulang menuju bulan. Ada sebuah rumah kecil di bulan. Dan itulah, pemandangan Nini Anteh yang Sari dengar dari dongeng yang diwariskan turun temurun.
Posting Komentar