Pada hari Jumat (30 Desember 2022) pukul 19.30, saya menyaksikan pertunjukan drama tari “Jabang Tutuka: Birth of the Blazing Knight” di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Bandung. Alamatnya bisa kamu lihat di https://goo.gl/maps/F5siaomsEmjtoDJK7.
| Poster Pertunjukan Jabang Tutuka (sumber: ISBI Bandung) |
Saya rasanya beruntung banget karena dapat kursi di saat reservasinya mau penuh. Ya, nyaris banget gak dapat kursi, katanya. Namun, ketika datang, ternyata banyak kursi kosong di dekat saya.
Pertunjukan Jabang Tutuka adalah bagian dari ISBI Heart Festival. Diadakan 16 – 30 Desember 2022. Tajuknya adalah Rumaksa Miara Pakaya. Terdiri dari kegiatan Trauma Healing Cianjur, Lomba Cosplay Wayang, Pameran & Live Painting Wayang, dan Pertunjukan Wayang Orang (Humas ISBI Bandung, 2022).
| Poster Kegiatan ISBI Heart Festival (sumber: ISBI Bandung) |
Dalam pembukaan festival, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “rumaksa miara pakaya” adalah menjaga, melestarikan, dan memelihara wawasan kebudayaan. Ini merupakan gagasan dari Profesor Een bersama dosen-dosen muda untuk merespons gempa Cianjur.
| Sambutan pemandu acara (sumber: pribadi) |
Ketua Pelaksana Dr. Mohamad Zaini Alif.,S.Sn.,M.Ds. memberikan sambutan. Beliau bercerita bahwa setiap orang memiliki Chandradimuka-nya masing-masing. Kegiatan ini menjadi kontribusi ISBI kepada masyarakat langsung.
| Dr. Mohamad Zaini Alif.,S.Sn.,M.Ds. memberikan sambutan (sumber: pribadi) |
Prof. Dr. H. Een Madiani, M.Hum. memberikan sambutan dan menjelaskan bahwa beliau terinspirasi oleh wayang orang. Wayang wong menjadi Warisan Budaya Tak Benda agar milenial mengenal wayang orang priangan. Cosplay wayang sudah dilaksanakan dan menunjukkan antusiasme pemuda dalam kegiatan.
| Prof. Dr. H. Een Madiani, M.Hum. memberikan sambutan (sumber: pribadi) |
Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum. menceritakan dalam sambutannya bahwa ISBI mengakhiri akhir tahun dengan apresiasi karya pertunjukan, meskipun dalam suasana liburan. Rupanya, banyak agenda kampus yang menumpuk di akhir tahun. ISBI berupaya menjadikan Wayang Wong Priangan menjadi Warisan Budaya Tak Benda sebagai kontribusi keilmuan. Ini pula menjadi upaya dalam membangun empati dan kepedulian masyarakat, serta menyentuh hati dan kebersamaan.
| Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum. memberikan sambutan (sumber: pribadi) |
Menafsirkan pertunjukan dengan analisis arketipe Jungian
Saya menyaksikan pertunjukan. Diceritakan bahwa Jabang Tutuka lahir untuk menghadapi tirani Naga Percona. Lalu Jabang Tutuka kalah dan dilatih di kawah chandradimuka dan berubah menjadi Gatot Kaca.
Pengamatan dan analisis yang saya lakukan menggunakan metode Analisis Jungian. Kegiatan analisis interpretasi adalah menghidupkan sumber daya yang kaya dari arketipe-arketipe dan narasi yang dikembangkan dari metode latihan Jung (Winborn, 2018).
Saya memperhatikan gambaran-gambaran yang disebut arketipe. Arketipe bersifat universal, model bawaan dari manusia, perilaku, dan kepribadian yang berperan dalam mempengaruhi perilaku manusia (Cherry, 2022). Teori psikiater Swiss Carl Jung menyarankan bahwa arketipe ini adalah bentuk kuno dari pengetahuan bawaan manusia yang diturunkan dari nenek moyang kita (dalam Cherry, 2022).
Karena Jabang Tutuka adalah cerita yang maskulin, penting untuk memperhatikan arketipe maskulin yang dihadirkan dalam cerita ini. Saya pun menghadirkan analisis Raja, Prajurit, Penyihir, dan Kekasih (dalam bahasa Inggris King, Warrior, Magician, Lover). King, Warrior, Magician, Lover adalah survei eksplorasi implikasi dari penelitian ini untuk memahami jiwa maskulin (Moore & Gillette, 1990).
Naga Percona dikenal dengan kesaktiannya. Menjadi simbol tirani dalam cerita ini. Dalam penjelasan Archetypal Character Arcs, Pt. 12: The King’s Shadow Archetypes - Helping Writers Become Authors (Weiland | @KMWeiland, 2021), Tirani adalah sosok yang tidak pernah menyerah. Sang Tiran akan membawa kekuatannya ke liang kubur—dan Kerajaannya bersamanya. Dengan demikian, betapapun baiknya dia mengelola urusan Kerajaan yang sebenarnya (dan banyak yang melakukannya), dia pada akhirnya menjadi kutukan bagi Kerajaannya dan rakyatnya. Raja sejati menyingkir untuk memberi ruang bagi kehidupan baru; Sang Tirani memblokir kehidupan itu dan pada akhirnya dapat memberikan Kerajaannya hanya kematian, bahkan jika dia tidak secara langsung menginginkannya.
| Adegan pembukaan Jabang Tutuka (sumber: pribadi) |
Kemudian pertunjukan dilanjutkan dengan adegan melahirkan. Hiduplah Jabang Tutuka yang ditakdirkan oleh para dewa untuk bisa mengalahkan Naga Percona. Kemudian Jabang Tutuka diambil oleh tokoh dengan arketipe orang tua yang bijak. Orang tua yang bijak hadir dalam budaya sunda sebagai sesepuh atau tetua adat. Dalam cerita Jabang Tutuka, si old wise man ini adalah seseorang yang diutus oleh Dewa untuk mendidik Jabang Tutuka.
| Para Dewa (sumber: pribadi) |
Saat saya menyaksikan, saya mendapatkan wawasan tentang kekurangan anggaran. Itu dikarenakan latar belakang panggungnya tidak ada sehingga, mungkin buat beberapa orang, gambaran imajinasi kurang terdukung. Bagus untuk menampilkan tarian karena ini adalah drama tari. Namun, dapat sedikit perhatian kalau misalkan propertinya diperkuat, ini akan membantu orang membayangkan cerita dan terlibat dalam cerita secara lebih penuh.
Yang saya takjub dari pertunjukan ini adalah lagu dan efek suaranya. Rasanya sinematik, dan ini bisa lebih kuat dengan visualisasi dan properti latar yang sesuai. Saya memahami karya tari ini sebagai langkah awal untuk modernisasi tari Wayang Wong supaya lebih diterima oleh generasi milenial. Ini adalah inovasi yang bagus dan menjadi embrio teater musikal tari Priangan. Kenapa ada musikal? Saya tiba-tiba terbayang gaya musikal broadway saat nonton.
Kembali ke cerita. Saya menyaksikan adegan-adegan anak dididik oleh orang tua yang bijak. Anak didorong untuk tumbuh dan berkembang. Jabang Tutuka hadir sebagai arketipe anak. Arketipe ini menanamkan rasa ingin tahu, bermain, dan energi pada anak laki-laki – sifat-sifat yang penting untuk pembelajaran dan perkembangan (Brett, 2011).
Sang tiran, si Naga Percona menunjukkan demonstrasi kuasa melalui kekuasaan. Saat menghadapi Jabang Tutuka, ia melakukan serangan tanpa ampun. Ini menunjukkan bahwa sang Tiran membuktikan ketidakpercayaannya sendiri dan (ironisnya) hubungannya yang tidak dewasa dengan kekuasaan dengan melakukan segala yang dia bisa untuk mempertahankan semua yang dia miliki (Weiland | @KMWeiland, 2021). Naga Percona menunjukkan kuasa dengan kekerasan dan kontrol terhadap bawahan-bawahannya, ia menghabisi siapapun yang menghalangi jalan kekuasaannya, yang dirasakan dirinya sebagai hidupnya dirinya.
Jabang Tutuka akhirnya mati terbunuh oleh Naga Percona. Lalu apa yang terjadi? Saya kemudian salah fokus dengan penampilan gerbang manusia yang menawan saat adegan ibu Jabang Tutuka meratapi kepergian Jabang Tutuka.
Jabang Tutuka kemudian dibawa oleh para dewa ke kawah kawah chandradimuka. Kemudian ia dihidupkan kembali. Penghidupan kembali ini, buat manusia berhubungan dengan perkembangan diri. Seperti yang saya kutip sebagai berikut:
Agar psikologi manusia terwujud bagi manusia tertentu, perlu ada kematian. Kematian-simbolis, psikologis, atau spiritual-selalu merupakan bagian penting dari setiap ritual inisiasi. Dalam istilah psikologis, anak laki-laki Ego harus "mati". Cara-cara lama untuk menjadi dan melakukan serta berpikir dan merasakan harus secara ritual "mati", sebelum manusia baru dapat muncul. Pseudo-inisiasi, meskipun membatasi Ego anak laki-laki, sering memperkuat perjuangan Ego untuk mendapatkan kekuasaan dan kendali dalam bentuk baru, bentuk remaja yang diatur oleh remaja lain. Inisiasi transformatif yang efektif benar-benar membunuh Ego dan keinginannya dalam bentuk lamanya untuk membangkitkannya kembali dengan hubungan bawahan baru ke kekuatan atau pusat yang sebelumnya tidak dikenal. Ketundukan pada kekuatan energi maskulin yang matang selalu melahirkan kepribadian maskulin baru yang ditandai dengan ketenangan, kasih sayang, kejernihan visi, dan generativitas. - (Moore & Gillette, 1990)
Bangkitnya kembali Jabang Tutuka menjadi Gatot Kaca adalah simbol ritual inisiasi. Jabang Tutuka mati kemudian digantikan dengan jiwa baru yakni Gatot Kaca. Ia kemudian punya kekuatan dan daya untuk mengalahkan Naga Percona. Satu hal yang menarik dari pertarungan antara Gatot Kaca dan Jabang Tutuka adalah efek lampu berkedip yang memberikan kesan stop motion. Dan seperti pada cerita pahlawan pada umumnya, tirani berhasil dikalahkan dan perdamaian di bumi kembali diraih.
| Pertarungan melawan Naga Percona (sumber: pribadi) |
Bicara soal keadilan dan perdamaian, menghadapi tirani sebenarnya kerja kolektif. Ini mewujudkan satu entitas pahlawan yang melawan satu tirani besar yang jahat. Jika ini adalah arketipe yang diperhatikan bersama oleh tim produksi dan aktornya, ini adalah wawasan kelompok dan harapan bahwa tirani yang nyata dalam hidup bisa diatasi bersama-sama, melalui pesan dari karya pertunjukan ini.
Jika suatu masyarakat ingin melepaskan diri dari cengkeraman para tiran, kekuasaan harus dibawa ke sisi kebebasan. Tetapi jenis kekuatan yang dibutuhkan untuk mencapai prestasi ini tidak sama dengan kekuatan yang mendukung tiran karena semakin banyak orang yang mengembangkan kemampuan untuk mendominasi, memanipulasi, dan memaksa orang lain, hanya akan menyebabkan satu kelompok tiran digantikan oleh yang lain. Tiran dikalahkan oleh lebih banyak orang yang mengembangkan kekuatan pribadi mereka dan kemudian menggunakan kekuatan ini untuk hidup bebas dan melawan rantai tirani - (The Psychology of Power – How to Dethrone Tyrants, 2020).
Ada satu hal menggelitik muncul di akhir saat penampilan berakhir. Mungkin karena saya memperhatikan struktur oligarki yang sering muncul dalam wacana di media. Ada sebuah pertanyaan soal kebalikan makna simbol. Apakah Gatot Kaca menjadi alat dari para dewa elit? Saya tertawa sendiri saat mendapatkan wawasan ini. Namun, inilah yang muncul jadi wawasan saat akhir pertunjukan.
Alhasil, pertunjukan Jabang Tutuka adalah seni yang asyik dalam membantu saya merenung dan berpikir. Mungkin ini adalah salah satu kegiatan reflektif yang jarang dilakukan orang. Namun, ini bermakna bagi saya. Kebanyakan orang mungkin fokus memperhatikan keindahan (memang saya memperhatikan estetika juga dan disinggung di pertengahan postingan ini), tetapi yang jadi perhatian utama peran arketipe apa saja yang dimainkan dalam pertunjukan ini.
Secara keseluruhan, pertunjukan ini sangat maskulin dengan tokoh utama laki-laki yang mendominasi. Dengan satu-satunya tokoh utama perempuan, yaitu ibu dari Jabang Tutuka. Perhatian soal ibu menjadi kuat oleh penggarap utama bersama aktor-aktornya. Nilai ibu, meskipun sekilas menjadi sentral, karena ia ditanamkan dengan simbol kelahiran, perawatan, dan duka kehilangan anak. Meskipun sekilas, pendewasaan sosok ibu terlihat dari proses duka pelepasan anak. Karena pendewasaan anak, didukung juga dengan duka pelepasan ibu. Di saat ibu tidak bisa melepaskan anaknya, anak akan terikat dan tidak bisa bertumbuh dan mengaktualisasikan dirinya.
| Sosok ibu di pertunjukan Jabang Tutuka (sumber: pribadi) |
Saya ucapkan selamat kepada teman-teman di Institut Seni Budaya Indonesia atas suksesnya penampilan Jabang Tutuka. Saya menantikan kelahiran inovasi-inovasi di karya-karya berikutnya.
| Penutupan (sumber: pribadi) |
Referensi
Brett. (2011, Agustus 23). The Four Archetypes of the Mature Masculine: The Boyhood Archetypes (Part I). The Art of Manliness. https://www.artofmanliness.com/character/behavior/the-four-archetypes-of-mature-masculinity-the-boyhood-archetypes-part-i/
Cherry, K. (2022, Desember 16). Which Jungian Archetype Are You? Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-are-jungs-4-major-archetypes-2795439
Humas ISBI Bandung. (2022, Desember 20). ISBI Heart Fest 2022. ISBI Bandung. https://www.isbi.ac.id/index.php/46-event/2487-ev-20122022
Moore, R. L., & Gillette, D. (1990). King, warrior, magician, lover. Harper San Francisco.
The Psychology of Power – How to Dethrone Tyrants. (2020, Juli 19). https://academyofideas.com/2020/07/the-psychology-of-power-how-to-dethrone-tyrants/
Weiland | @KMWeiland, K. M. (2021, April 26). Archetypal Character Arcs, Pt. 12: The King’s Shadow Archetypes. Helping Writers Become Authors. https://www.helpingwritersbecomeauthors.com/archetypal-character-arcs-pt-12-the-kings-negative-counter-archetypes-the-puppet-and-the-tyrant/
Winborn, M. (2018). Interpretation in Jungian Analysis: Art and Technique (1 ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315164489
Posting Komentar