Rabu (30 November 2022) saya menyaksikan pertunjukan tari yang bertajuk “The Creativity of Mask Dance: Tembang Asmara di Purnama” oleh Studio Tari Indrawati Lukman di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat (https://goo.gl/maps/bZ995KEdnok3FECbA). Ini merupakan karya seni unggulan untuk memperingati 54 tahun Studio Tari Indrawati Lukman.
| Pertunjukan belum dimulai |
Saya masuk di saat pembukaan, bersyukur tidak ketinggalan pertunjukan tari pertama. Tarian pertama adalah Sasi Kirana, karya ibu Indrawati Lukman. Saya beberapa kali dengar tentang merawat tradisi dan menghormati budaya yang sudah diwariskan secara turun temurun.
Saya menyaksikan fenomena bulan purnama diwujudkan melalui tari. Saya teringat bahwa dalam budaya Sunda ada upacara nyawang bulan. Penggunaan simbol topeng panji dirasakan pribadi secara somatik sebagai diri yang suci dan bersih, diperkuat dengan gambaran bulan purnama. Penghayatan dan perenungan pribadi ibu Indrawati Lukman tampaknya sudah berjalan cukup panjang, ini merupakan simbol kolektif orang sunda. Ada makna mencintai alam semesta, juga menghayati aliran energi tubuh yang muncul sepanjang terang bulan. Ini mengingatkan saya tentang kalender bulan sunda, yang mana bulan purnama di tanggal 7 – 9 suklapaksa (fase bulan terang) menjadi sesuatu yang sakral dan dapat dihayati oleh tubuh secara nyata.
Setelah pertunjukan tari pembukaan. Penonton diperkenalkan kepada Studio Tari Indrawati Lukman, beserta ibu Indrawati Lukman. Diceritakan pula perjalanan awal beliau di saat menjadi murid dari bapak Cece Somantri, hingga membangun dan mengembangkan Studio Tari Indrawati Lukman saat ini. Ibu Indrawati Lukman berkata bahwa ini adalah tradisi dan budaya yang perlu dirawat dan diteruskan oleh generasi muda. Melalui Studio Tari Indrawati Lukman, Ibu Indrawati telah berupaya mewariskan tradisi dan budaya tari Sunda kepada murid-muridnya. Ada penari pemula dan penari terampil yang kini jumlahnya sudah ribuan orang.
| Ibu Indrawati Lukman |
Untuk pertunjukan ini, tarian topeng menjadi inspirasi dan dasar dalam pergelaran ini.
Berikutnya, kami dipersembahkan sebuah pertunjukan drama tari yang berjudul “Tembang Asmara di Purnama”. Untuk karya ini, ibu Indrawati Lukman memberikan kesempatan kepada koreografer dan seniman-seniman muda untuk menciptakan karyanya sendiri.
Salah satu koreografer yang saya kenal adalah Fier Fitri. Menurut saya, dia adalah koreografer perempuan yang sangat baik. Saya ingat bahwa dia telah mengembangkan suatu metodologi penciptaan tari yang berdasarkan keadilan sosial melalui pertunjukan tugas akhir magisternya yang berjudul “Lara”.
Pengalaman menonton pergelaran drama tari kali ini adalah penuh wawasan. Saya mulai menyadari bahwa saya bisa menangkap pesan-pesan secara somatik dari pertunjukan ini. Saya merasakan kesedihan dan keprihatinan. Kalau saya pribadi mengasosiasikan pesan ini sebagai memperhatikan orang-orang dengan kepedulian dan perhatian yang lemah terhadap budaya dan tradisinya sendiri.
Konsep mengenai identitas diri saya muncul ke permukaan. Saya disodorkan dengan pemahaman bahwa orang-orang Sunda sudah berubah dan berkembang. Ternyata, masih ada yang peduli, seperti ibu Indrawati Lukman dan teman-teman, yang berupaya untuk merawat ingatan dan simbol kolektif tersebut. Ingatan kolektif yang mewujud dalam tarian, musik, kostum, dan artistik lainnya, merupakan seperangkat pesan. Kita bisa fokus kepada pesan tersirat dalam cerita, ataupun menyelam ke dalam makna kontekstual. Layaknya menyorot cahaya putih ke prisma, memunculkan warna-warna yang bisa kita perhatikan satu per satu.
Dari cerita yang disampaikan dalam pertunjukan tari, saya menjadi teringat diri saya sendiri. Topeng yang ditampilkan dalam pertunjukan ini menunjukkan tentang bagaimana orang lain melihat diri. Saat putih dan suci, seperti topeng panji, orang tampak sebagai baik. Namun saat mendapatkan musibah dan si pangeran kehilangan belahan jiwanya, topengnya menjadi buruk rupa. Ini menunjukkan bahwa peristiwa buruk bisa saja merusak apa yang ada di dalam, sekaligus mengubah persepsi dan pandangan orang lain terhadap diri. Perhatian dari para kreator muda tampaknya jelas dan ditampilkan dengan baik.
Setelah bencana hebat dan mengalami kehilangan, sosok pasangan tua bijak hadir: abah dan ambu. Mereka menjadi mentor dari tokoh utama. Ini menguatkan pemahaman diri dari tokoh utama tentang apa yang dirasa benar dan apa yang perlu diperjuangkan.
Si tokoh utama kemudian menghadapi langsung si sosok tirani yang telah menawan belahan jiwa. Saya memahami sudut pengalaman dari si tirani, dia punya kebutuhan dan dengan menculik serta menawan adalah cara yang dia pelajari. Si tokoh utama pada akhirnya, seperti biasa, akan berhasil dan mendapatkan kembali si belahan jiwa. Ini menjadi sesuatu hal baik bahwa benar untuk memperjuangkan hal yang direnggut dan dirasakan benar untuk mengambil kembali.
Namun, di sisi lain, ada keprihatinan tentang kenapa dan bagaimana ada si tirani yang sebelumnya sudah belajar memenuhi kebutuhannya dengan cara menculik dan kekerasan lainnya. Ini merefleksikan bagaimana saya memperhatikan lingkungan sekitar. Bahwa dalam mencapai keadilan sosial, tidak hanya menghukum si penjahat. Namun juga tentang membangun ekosistem yang mendorong non kekerasan dan pemulihan buat semua orang.
Pemahaman tentang si X adalah orang jahat telah membuat seseorang merasa berhak untuk menghukum melebihi dari apa yang dilakukan oleh si pelaku. Di dalam keseharian, ini menjadi justifikasi tindak kekerasan pada orang yang berbeda atau tidak sesuai dengan diri. Yang saya rasakan sebagai menindas dan tidak menyehatkan jiwa, karena kecurigaan yang tidak sehat membuat orang kehilangan koneksi dengan manusia lainnya.
Yang saya hayati dari pemikiran kreator-kreator muda dalam pertunjukan utama ini adalah kamu berhak untuk bangkit setelah jatuh terpuruk. Sesuatu yang buruk mungkin terjadi, diri mungkin mengalami kekerasan atau kejahatan. Namun, pada waktunya, duka itu akan berakhir dan kita akan diberikan kekuatan untuk bangkit. Ini merupakan masalah klasik yang dialami pemuda masa kini. Saya senang bahwa pesan yang diberikan melalui pertunjukan ini sangat familiar, bahkan di saat kata-kata absen atau sedikit disampaikan (karena ini drama tari, dan juga narasi disampaikan dalam bahasa Sunda yang mungkin kurang dipahami oleh banyak orang).
Saya mengapresiasi kesempatan dan kekuatan yang dibagikan oleh ibu Indrawati Lukman kepada kreator-kreator muda ini. Bahwa pada saatnya, pemuda akan muncul dan melanjutkan perjalanan tradisi dan budayanya, melalui cara khasnya pemuda. Zaman berubah, maka tradisi dan budaya juga. Dengan tanpa kehilangan akar dan hubungan dengan para leluhur, ini lah spirit yang saya rasakan dari pertunjukan the creativity of mask dance: Tembang Asmara di Purnama.
| Seluruh seniman yang terlibat |
Saya ucapkan terima kasih kepada Fier atas terbangunnya renungan yang bermakna ini. Semoga perjalanan Studio Tari Indrawati Lukman berikutnya mewujudkan partisipasi pemuda yang lebih bermakna. Ini merupakan pengalaman awal saya melihat sebuah studio tari tradisi memberikan kesempatan partisipasi bermakna kepada pemuda yang terlibat di dalamnya.
| Saya dan Fier |
Posting Komentar