tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Renungan Singkat Lagu Bertahan Fabio Asher dan Motivasi untuk Bangkit

Bicara soal bertahan, saya mau membucin. Beberapa bulan belakangan ini, saya merasa so fucked up. Apalagi beberapa hari ke belakang. Di waktu saya menyadari betapa buruknya dampak dari kesulitan-kesulitan yang saya hadapi selama beberapa bulan ini.

Kesal? Memang. Siapa yang gak kesal, saya yakin, mungkin, beberapa pekan terakhir adalah pekan-pekan apes sedunia. Apa itu kecelakaan, di-ghosting, kena scam, terjebak dalam insiden perundungan, pencurian, dan masih banyak lagi. Pada satu waktu, saya pernah menggerutu dengan kesal. “Aku kapok, aku gak mau lagi?!” Begitulah, sambil meringis dan menangis.

Saya ingat mengalirkan emosi itu wajar dan penting. Karena itu pertanda kesembuhan, bukan tanda kesakitan atau kelemahan. Memang ya, proses mengalirkan emosi memang sakit dan tidak nyaman. Dengan mengizinkan diri mengalirkan emosi, saya bisa menyeimbangkan perasaan dan kembali berpijak. Ini berkebalikan dengan keyakinan yang kayaknya umum soal emosi itu harus ditahan supaya terlihat kuat. Namun, itu sebenarnya tindakan memasang bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

Peristiwa-peristiwa buruk yang sudah terjadi, membuat diri lumpuh dan tersungkur. Rasanya nelangsa banget, kemudian dilanjutkan dengan episode-episode perasaan kegagalan yang mengundang perasaan galau berat. Sepertinya memang ada kebenaran, bahwa diri sendiri bertumbuh. Saya belajar sesuatu, memang, seperti biasanya. Saya pun mulai menerima proses-proses emosional yang begini, yang awalnya dulu saya selalu hindari. Ketika saya paham bagaimana emosi bekerja, saya mempercayai proses itu dan bertindak berdasarkan wawasan diri.

Mendengarkan Lagu Bertahan Fabio Asher

Saya memulai pencarian tentang bertahan, yang muncul berulang adalah lagunya Fabio Asher yang berjudul “Bertahan Terluka”. Kamu bisa dengarkan cuplikan lagunya di bawah.

Saya mengutip sebagian lirik yang beresonansi dengan pengalaman saya...

Andaikan kau tahu rasa sayang ku melebihi rasa sakitku ini

Mungkin kau takkan pernah menyangka

Mengapa ku tetap disini oh

Saya pernah berada dalam kondisi di mana saya berusaha bertahan menghadapi gejolak emosi yang sangat besar saat di-ghosting oleh seseorang yang saya anggap penting. Emosinya tak tertahankan, saya mencoba bertahan. Namun, saya sadar bahwa emosi saya penting untuk dirawat. Oleh karena itu, saya ambil waktu untuk diri saya sendiri dan bertanya tentang “langkah keadilan apa yang bisa saya ambil mengenai perasaan yang saya alami?” Saya mendapatkan wawasan ada beberapa hal yang perlu saya lakukan, seperti mendonasikan barang-barang, perjalanan kaki yang panjang, dan memotong rambut. Barulah setelah melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, saya bisa mengalirkan emosi dan mengembalikan diri saya ke pijakan. Saya sebut kegiatan-kegiatan yang saya lakukan tadi sebagai ritual pelepasan emosi. Kegiatannya bervariasi tergantung pengalaman dan kebutuhan pribadi.

Saya mendapatkan wawasan dari kegiatan-kegiatan itu bahwa emosi yang saya alami tidak sekedar punya saya. Perilaku ghosting beserta dampak emosional yang dirasakan diri adalah pesan yang ingin disampaikan oleh si pelaku. Emosi yang dirasakan oleh kita saat di-ghosting adalah keinginan si pelaku. Saya berhenti di saat menyadari bahwa “ternyata inilah yang dia ingin saya rasakan.”

Saat terhubung kembali sebulan lebih kemudian, muncul kembali dorongan untuk menjali pertemanan kembali. Namun ternyata itu adalah hal yang tidak mungkin. Dikarenakan prinsip pribadi dan tekanan sosial yang dialami oleh masing-masing. Sehingga pengalaman ini menjadi so fucked up buat saya pribadi. Diskriminasi dan stigma berdasarkan identitas memang masih ada dan ternyata memang ada orang yang terpaku pada nilai-nilai dan pembedaan yang merendahkan orang lain yang berbeda.

Lakukanlah semaumu

Sampai kau lelah menyakitiku

Sebisa ku tak kan mengusikmu

Ku akan mencoba mengerti dirimu

Pada akhirnya, saya sendiri lah yang mengerti si pelaku lebih dulu. Saya berterima kasih kepada pelatihan mendengarkan secara welas asih yang pernah saya ikuti. Saya jadi bisa berempati hingga ikut mengalami penderitaan orang lain. Dengan wawasan ini, saya mencapai kebijaksanaan untuk senantiasa berpijak pada diri sendiri dan melakukan hal-hal yang dirasa benar. Saya pun sadar bahwa saya mungkin akan hidup dalam kebohongan jika terus-terusan berusaha mempertahankan persahabatan dengan orang yang sejak awal tidak berintegritas. Sedih dan marah banget yang saya rasakan, tetapi ya mau bagaimana lagi. Berkomunikasi dengan efektif dan sehat telah mencegah saya membalas kekerasan ghosting dengan kekerasan yang lain.

Memulihkan diri di saat diri merasa telah mengacaukan segalanya 

Bagaimana caranya bangkit di saat diri merasa so fucked up? Saya mengumpulkan jawaban-jawaban menarik dari How to recover in life when it seems like you've fucked up everything – Quora. Pertanyaan utamanya adalah: Bagaimana Anda bisa pulih dalam hidup ketika sepertinya Anda telah mengacaukan segalanya?

Jessy Cox menjawab: Ada tombol unfuck untuk sebagian besar hidup; Namanya, berbalik arah dan berjalan berlawanan arah.

Itu tidak berhasil untuk semuanya: Seperti yang biasa dikatakan orang tua saya, Anda tidak dapat menarik kembali kata-kata atau perbuatan. Tapi itu akan berhasil untuk sebagian besar situasi yang tidak penting (tagihan, keterampilan kerja, perbaikan hidup, dll). Hal yang sulit adalah: hubungan dengan orang lain. Itu terkadang tidak mungkin diperbaiki.

Bernàrd Cribbénès menjawab: Sejujurnya, waktu menyembuhkan. Hal-hal mungkin tampak sangat buruk saat ini, tetapi Anda mungkin akan merasakan hal yang berbeda dalam beberapa minggu atau bulan. Anda pasti akan melihat hal-hal yang sangat berbeda satu tahun dari sekarang, dan dua tahun dari sekarang Anda akan menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Tapi hal-hal tampaknya benar-benar buruk sekarang. Itu karena dalam keadaan pikiran Anda saat ini, Anda memperkuat hal-hal buruk. Anda "mengerikan dan membuat bencana" setiap pikiran dan ide Anda. dan menerima skenario terburuk sebagai satu-satunya hasil yang mungkin bagi Anda.

Pikirkan kembali ketika Anda masih kecil. Ada saat-saat ketika Anda berpikir bahwa dunia melawan Anda dan semuanya buruk, hanya karena orang dewasa tidak mengizinkan Anda memiliki mainan, atau begadang. Atau mungkin Anda dalam kesulitan karena telah melakukan beberapa hal nakal. Tapi itu berlalu. Sekarang Anda dapat melihat bahwa itu adalah pemikiran yang kekanak-kanakan. Anda memiliki hal-hal yang meledak di luar proporsi. Suatu hari Anda akan dapat melihat kembali waktu ini dan melihatnya dengan cara yang sama.

Jika keadaan benar-benar buruk, temui dokter dan lihat apakah Anda bisa mendapatkan obat anti depresan. Ini tidak jahat atau membuat ketagihan seperti yang mungkin Anda pikirkan, ini dapat membantu Anda melewati masa-masa sulit ke masa depan ketika Anda dapat melihat sesuatu dengan lebih jelas.

Semoga beruntung. Percaya pada dirimu sendiri.

Dmitry Yarygin menjawab: Mulailah membangun kembali diri Anda sendiri.

  1. Temukan apa yang paling Anda hargai dalam hidup. Hobi, jenis pekerjaan, dan persahabatan apa yang Anda hargai

  2. Mulailah mengeksekusi perubahan itu dan beradaptasi dengannya

Sebenarnya hanya 2 hal itu, namun mungkin sulit untuk mengakui pada diri sendiri bahwa Anda perlu melakukan semuanya dari awal.

Tapi lebih baik melakukannya sekarang daripada nanti.

Semoga beruntung!

Itulah tiga jawaban motivasi yang menurut saya menarik dan sesuai dengan apa yang saya dan teman-teman mungkin alami. Kita sudah mengalami hal-hal buruk dalam kehidupan kita. Kita bisa kalah hari ini, tetapi kita bisa coba lagi besok.

Tulisan ini mengikuti Tema Minggu ke-49 2022 #1minggu1cerita “Bertahan”



Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer