Di saat saya sedang asyik membaca konten-konten tentang kesehatan jiwa. Saya berhenti pada wawasan baru tentang budaya dan literasi kesehatan jiwa. Di dalam perjalanan tumbuh kembang saya, informasi mengenai disabilitas dan kesehatan jiwa tidak tersedia. Kemiskinan sumber daya pengetahuan mengenai kesehatan jiwa dan disabilitas telah membuat orang-orang melakukan perlakuan-perlakuan yang tidak pantas dan tidak layak pada sesamanya. Itu mendorong semakin memburuknya kondisi kesehatan jiwa seseorang, termasuk diri saya yang menjadi korban kekerasan dan diskriminasi akibat stigma mengenai disabilitas dan kesehatan jiwa.
| diambil dari freepik.com |
Kesehatan Jiwa
Untuk kamu yang belum tahu, Kesehatan Jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain (Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan, 2016).
Ciri-ciri seseorang yang sehat jiwa adalah sebagai berikut:
Merasa senang terhadap dirinya serta
- Mampu menghadapi situasi
- Mampu mengatasi kekecewaan dalam hidup
- Puas dengan kehidupannya sehari-hari
- Mempunyai harga diri yang wajar
- Menilai dirinya secara realistis, tidak berlebihan dan tidak pula merendahkan
Merasa nyaman berhubungan dengan orang lain serta
- Mampu mencintai orang lain
- Mempunyai hubungan pribadi yang tetap
- Dapat menghargai pendapat orang lain yang berbeda
- Merasa bagian dari suatu kelompok
- Tidak “mengakali” orang lain dan juga tidak membiarkan orang lain “mengakali” dirinya
Mampu memenuhi tuntutan hidup serta
- Menetapkan tujuan hidup yang realistis
- Mampu mengambil keputusan
- Mampu menerima tanggung jawab
- Mampu merancang masa depan
- Dapat menerima ide dan pengalaman baru
- Puas dengan pekerjaannya
Itu adalah informasi sederhana yang bisa dijadikan pengantar untuk kita mengetahui kesehatan jiwa atau kesehatan mental. Teman-teman bisa mulai membangun pemahamannya tentang kesehatan jiwa.
Literasi Kesehatan Mental
Literasi kesehatan mental didefinisikan sebagai pengetahuan dan keyakinan mengenai gangguan-gangguan mental yang membantu rekognisi, manajemen, dan prevensi (Handayani dkk., 2020). Literasi kesehatan mental mendukung kita untuk memiliki sumber daya mengenai:
- pengetahuan tentang bagaimana mencegah gangguan mental,
- pengakuan kapan suatu gangguan berkembang,
- pengetahuan tentang opsi pencarian pertolongan dan perawatan yang tersedia,
- pengetahuan tentang strategi pertolongan mandiri yang efektif untuk masalah yang lebih ringan, dan
- keterampilan pertolongan pertama untuk mendukung orang lain yang mengalami gangguan mental atau berada dalam krisis kesehatan mental
Harapan saya soal membudayakan literasi kesehatan mental, mirip dengan apa yang tertulis dalam situs CPMH (2020) bahwa jika masyarakat terus dilatih kepekaan dan ditingkatkan ilmu pengetahuannya berkaitan dengan hal-hal tersebut, maka isu kesehatan mental akan semakin terbiasa didengar oleh masyarakat dan dapat menjadi bagian pembicaraan sehari-hari. Hal ini akan membantu masyarakat dalam mengakses bantuan yang dibutuhkan sehingga keterampilannya dalam mencari bantuan (help-seeking behavior) akan meningkat. Tidak hanya itu, individu akan lebih mudah dan tanggap dalam mengenali tanda-tanda stres yang berdampak buruk pada dirinya dan mempercepat akses pertolongan sesuai gejala yang dialami. Dengan meningkatnya literasi kesehatan mental, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan/masalah mental akan berkurang sehingga kesejahteraan masyarakat secara psikologis dapat tercapai.
Membudayakan Literasi Kesehatan Mental
Saya seringkali menemukan ungkapan-ungkapan di postingan media sosial yang menyinggung soal kesehatan jiwa. Ada ekspresi seperti “harus kuat, sabar, dan tabah dalam menghadapi cobaan hidup”. Kita didorong untuk tidak menunjukkan ekspresi kesusahan karena itu dianggap sebagai pertanda kelemahan atau kurang bersyukur. Beberapa orang ada yang mencoba tersenyum dan menjalani semuanya. Itu menjadi cara yang tersedia bagi mereka untuk menghidupi kesulitan hidup. Namun, saat gejala-gejalanya mengarah kepada gangguan jiwa yang serius, orang gagal dalam menyediakan informasi pertolongan kesehatan jiwa. Sebenarnya konsekuensi yang serius bisa dicegah, lewat deteksi dini yang bisa diperoleh saat seseorang memiliki literasi kesehatan mental yang memadai.
Dari situ, saya ambil kesimpulan sementara bahwa literasi kesehatan mental dan budaya kehidupan sehari-hari di sekitar saya belum terintegrasi. Keyakinan budaya mengenai kesehatan mental bisa saja menghambat seseorang untuk menjangkau pertolongan kesehatan jiwa dengan dalih kurang iman, kurang bersyukur, atau bahkan malu dicap gila karena ke profesional kesehatan jiwa. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya sistem dukungan untuk seseorang bercerita pada teman pendengar dan pendamping yang baik. Salah satu hal yang membuat tidak nyaman dari budaya di sekitar saya adalah adanya keharusan seorang teman untuk “memperbaiki” teman yang dinilai kurang baik. Saya merasa seperti dituntut untuk senantiasa menunjuk kelemahan dan kesalahan pribadi orang lain, menjadi penuh curiga dan kemudian memaksa diri sendiri untuk menutupi kelemahan dan kelemahan pribadi. Agak sulit menemukan seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi, tetapi menemukan teman yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi bukanlah sesuatu yang mustahil.
Budaya secara signifikan memengaruhi berbagai aspek kesehatan mental termasuk persepsi kesehatan dan gangguan, perilaku pencarian pengobatan, dan gaya koping (Njoku, 2020).
Membudayakan kesehatan mental adalah mengintegrasikan pengetahuan dan wawasan kesehatan mental dengan budaya yang sudah ada. Dengan artian, bahwa kita membangun budaya yang bisa mengenali masalah kejiwaan dan gangguan jiwa kemudian menyediakan sumber rujukan untuk dukungan, baik dari sumber umum maupun profesional kesehatan jiwa. Ketika sekitar absen atau bahkan menanggapi kasus kejiwaan dengan tidak sesuai, kita bisa mengupayakan pendidikan dan perubahan sosial, dan membangun budaya. Namun, untuk mencapai kebaikan yang mulia tersebut maka perubahan di tingkat pribadi perlu diupayakan terlebih dahulu, tentunya.
Semoga wawasan ini memantik ide dan motivasi buat kita semua.
Referensi
Center for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. (2020, September 29). Literasi Kesehatan Mental di Masyarakat, Apa Urgensinya? – Center for Public Mental Health. https://cpmh.psikologi.ugm.ac.id/2020/09/29/literasi-kesehatan-mental-di-masyarakat-apa-urgensinya/
Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan. (2016, Oktober 17). Sehat Jiwa. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. https://promkes.kemkes.go.id/content
Handayani, T., Ayubi, D., & Anshari, D. (2020). Literasi Kesehatan Mental Orang Dewasa dan Penggunaan Pelayanan Kesehatan Mental. Perilaku dan Promosi Kesehatan: Indonesian Journal of Health Promotion and Behavior, 2(1), 9. https://doi.org/10.47034/ppk.v2i1.3905
Njoku, C. (2020, Oktober 10). The relationship between culture and mental illness. Our Time. https://ourtime.org.uk/stories/the-relationship-between-culture-and-mental-illness/
Posting Komentar