Kamis (13 Oktober 2022), saya nonton film Inang. Film ini disutradarai oleh Fajar Nugros
dan dibintangi oleh Naysilla Mirdad, Dimas Anggara, Lydia Kandou, Rukman Rosadi,
dan masih banyak lagi.
Saya menonton filmnya di Trans Studio Mall Bandung. Dan berikutnya saya mengulas film Inang.
| Selfie di depan poster Inang (dokumentasi pribadi) |
Sinopsisnya bisa teman-teman baca di bawah:
Wulan, seorang kasir supermarket ditinggalkan oleh pacarnya setelah mengetahui soal kehamilannya yang di luar rencana. Wulan yang enggan mengambil jalur aborsi, membuatnya harus bertanggung jawab atas kandungannya sendirian. Kurangnya wawasan yang dimiliki Wulan membuat pencarian solusi dimulai secara online. Pencarian Wulan membawanya ke sebuah grup di sosial media yang mengaku sebagai kelompok relawan pro-life yang fokus membantu ibu hamil yang mengalami situasi kurang beruntung. Dari kelompok itu, Wulan akhirnya bertemu dengan keluarga kaya yang bersedia mengadopsi anaknya setelah lahir. Pertemuan itu, mengantarkan Wulan untuk tinggal bersama keluarga kaya tersebut hingga hari persalinan tiba. Tanpa sepengetahuan Wulan, keluarga kaya tersebut memiliki rencana rahasia yang keji untuk Wulan dan jabang bayinya pada hari kelahiran.
Setelah menonton film Inang, saya lebih merasakan adanya gabungan dari horor psikologis, kosmik, dan pembunuhan. Isu menghororkan kearifan lokal, “Rebo Wekasan” muncul sebagai ritual yang menumbalkan bayi baru lahir beserta ibunya.
Sementara ritual aslinya, penjelasannya adalah sebagai berikut (Gumelar, 2022).
Rebo Wekasan merupakan istilah yang merujuk pada salah satu hari di minggu terakhir bulan Safar yakni di hari Rabu. Istilah lain yang merujuk pada Rabu terakhir di bulan Safar ini diantaranya yakni Rebo Kasan atau Rebo Pungkasan. Mengenai Rebo Wekasan ini, banyak mitos atau keyakinan yang beredar di masyarakat bahwa pada hari tersebut dihubungkan dengan malapetaka dan bencana. Oleh karenanya, pada hari tersebut masyarakat melakukan ritual keagamaan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Ritual keagamaan yang dilakukan pun beragam, dari mulai shalat, dzikir hingga berdoa. Amalan lainnya adalah membaca ayat-ayat Al-Quran yang dikenal dengan ayat selamat.
Tampaknya penjelasan berbeda jauh dengan konsep Rebo Wekasan yang disajikan dalam film.
Saya serasa ditampar dengan realita budaya perkosaan dan patriarki yang berada dalam masyarakat. Dari isu kehamilan yang tidak direncanakan, pasangan seksual tidak mau bertanggung jawab, dan utamanya adalah tentang tidak tersedianya informasi kesehatan seksual dan reproduksi, juga soal penggunaan kontrasepsi. Ada juga beberapa adegan kekerasan seksual yang ditampilkan dari menepuk pantat bawahan, dan menggunakan relasi kuasa untuk meminta bawahan kerja melayani atasan secara seksual.
Tampaknya sutradara ingin memperkenalkan kepada penonton tentang masalah sosial yang ada di sekitar. Simbol dan adegan yang ditampilkan adalah representatif dan membuat orang dengan literasi langsung merasa klik bahwa “oh ini isu yang saya kerjakan sehari-hari.” Saya juga merasa kesal menyadari bahwa masalah sosial yang disodorkan itu menghadapi hambatan struktural dan budaya dalam penyelesaiannya.
Ketika teman-teman saya mengharapkan film yang sadis dan mewujudkan ketakutan langsung seperti dikejar-kejar ataupun aksi melawan langsung terornya. Sebenarnya teror yang diberikan adalah semu, sesuatu yang melampaui kesadaran kita sebagai manusia. Itu sebabnya saya sebut ada horor kosmik yang hadir dalam film Inang.
Si pelaku kejahatan, terjebak dalam realitas takdir bahwa anaknya akan mati di usia 10 tahun. Maka untuk mempertahankan kehidupan si anaknya, maka mereka harus menumbalkan seorang perempuan dengan anaknya yang baru lahir untuk menambahkan harapan hidup anaknya untuk 10 tahun ke depan. Sarkasmenya, mereka harus top-up nyawa anak mereka tiap 10 tahun sekali. Jika tidak, maka si makhluk kosmik ini akan memberikan nasib buruk kematian buat si anak itu.
Si makhluk kosmik ini dihadirkan dalam wujud monster yang menari dalam mimpinya si peran utama. Kita disodorkan pengalaman-pengalaman kecemasan dan mimpi buruk. Setelah di awal, kita disodorkan trauma masa kecil yang belum selesai, kemudian kita diberikan pengalaman teror psikologis yang nyata. Si peran utama sadar betul bahwa dirinya dalam kondisi yang tidak aman.
Kesadaran tentang realitas takdir, juga tindakan koping yang maladaptif dengan bersedia melakukan tumbal buat si makhluk kosmik, telah membentuk si pelaku sebagai pembunuh yang manipulatif. Dengan si tokoh utama sebagai orang ketiga yang akan ditumbalkan, si anak dari keluarga pelaku kejahatan, menyadari ada yang salah dari kedua orang tuanya dan berusaha memutuskan mata rantai kutukan keyakinan keluarga dengan menyelamatkan si pemeran utama. Bahkan dengan mengorbankan kehidupannya sendiri.
Di dalam kehidupan nyata, realitas tentang si makhluk kosmik ini pernah saya saksikan dalam kehidupan seorang yang berusaha melakukan segalanya untuk melindungi keluarganya. Bahkan di saat dia sadar dan tahu bahwa ada yang kurang sesuai atau kurang pantas dari keluarganya. Kesadaran seperti ini diwariskan dan dimiliki bersama dalam sebuah kolektif. Bisa dalam keluarga kecil, bahkan sebuah komunitas. Itu adalah trauma yang menimbulkan penafsiran yang kurang sesuai tentang dunia, sebuah delusi.
Dalam film ini, delusi itu terwujud dengan keyakinan membunuh orang lain demi top up nyawa anak. Tidak dapat menerima kalau si anak memang usianya ditakdirkan cuma segitu. Karena di film, realitasnya, ada entitas yang bisa melayani top-up nyawa maka itulah yang mereka lakukan. Jika realitas seperti itu hadir dalam realitas hidup saya saat ini, ini merupakan pengalaman hidup yang mengerikan ketika penumbalan dibolehkan buat top up nyawa, atau top up uang dan jabatan. Mungkin inilah yang disorot oleh sutradara tentang delusi kolektif yang sebenarnya hadir di masyarakat kita.
Keyakinan dan trauma itu bisa diberikan dan diwariskan lewat interaksi. Setelah lama dimanipulasi dan menyaksikan bagaimana si anak yang menolong dia mendapatkan nasib buruk. Alhasil, tidak ada isu mental yang benar-benar beres. Orang hidup penuh trauma, dan berakhir melanjutkan apa yang dilakukan pelaku padanya. Ini adalah dinamika penindasan dan lingkaran setan kekerasan yang terjadi bahkan di sekitar kita.
Untuk orang-orang yang mengerti horor kosmik, film ini adalah sebuah penderitaan psikologis dan spiritual. Meskipun ada beberapa gestur “love” saat menjentikkan jari yang terlihat lucu, pengalaman manipulasi dan isu trauma yang belum selesai menjadi kental. Film ini memberikan penyadaran atas realitas sosial di sekitar kita bahwa banyak ketidakadilan hadir di sekitar kita, dan itu diperkuat oleh delusi kolektif.
Referensi
Gumelar, A. (2022, September 20). Apa Itu Rebo Wekasan? Berikut Penjelasan Mengenai Rabu Terakhir di Bulan Safar | NU Online Jabar. https://jabar.nu.or.id/keislaman/apa-itu-rebo-wekasan-berikut-penjelasan-mengenai-rabu-terakhir-di-bulan-safar-5xfIQ
Posting Komentar