Pada Minggu libur akhir pekan lalu, saya menikmati akhir pekan dengan jalan-jalan. Berada sehari-hari di rumah itu menjenuhkan. Saya memerlukan berkunjung ke tempat yang lebih jauh dari jangkauan saya sehari-hari. Saya janjian dengan teman untuk ketemu di sekitaran alun-alun kota Bandung. Memang hari ini ada uang jajan lebih dari kegiatan pelatihan yang pada pekan ini aku ikuti. Aku mau memberikan penghargaan pada diriku sendiri karena bisa selamat melalui pekan yang berat ini: sinusitis yang melelahkan, serta pemulihan pasca perpisahan sepihak.
Kopi darat di Jurnal Risa
Sebenarnya ini bukanlah tujuan pertama kedai
kopi yang akan saya kunjungi. Saya awalnya mau ke Ambigu Coffee, tetapi malah
nyasar karena titik lokasi di Google Maps nya gak akurat. Alhasil, setelah tiga
puluh menit berputar-putar sekitaran Alun-alun Kota Bandung, saya banting setir
perjalanan melewati jalan Asia Afrika, terus masuk ke Braga. Dan akhirnya tertarik
masuk Jurnal Risa Coffee.
Yang saya tahu, tempat ini penuh dan mengantre.
Tempatnya memang bagus dan asyik juga. Saya sekedar tahu kalau Jurnal Risa itu
diambil dari sebuah kanal Youtube Risa dengan konten hantu-hantuan. Saya gak ikuti
karena konten tersebut tidak relevan bagi saya tetapi yang menarik bagi saya
adalah pemasarannya. Bagaimana konten itu bisa laku dan bermanifestasi ke dalam
bentuk bisnis lain seperti kafe.
Saya sendiri merasa seperti rakyat jelata yang
gak bisa apa-apa. Diskriminasi karena autisme, ekspresi gender yang berbeda,
apalagi.... Sudah bikin saya merasa terasing, bahkan dengan diri saya sendiri.
Saya sudah lama kehilangan kepercayaan diri tentang apa yang saya bisa,
kepribadian saya sudah terkoyak oleh orang-orang yang tak paham. Itu termasuk
orang tua sendiri, yang kini respons nya sudah membaik. Ternyata saya masih
memproses kekesalan yang terakumulasi di masa lalu.
Saat masuk ke Jurnal Risa Coffee, saya
disambut oleh pelayan. Saya ditanya oleh pelayan mau datang dengan berapa orang.
Saya jawab, “2 orang.” Saya beruntung dapat diberikan tempat makan segera.
Berbeda dengan orang lain yang mengantre. Mungkin juga karena yang menunggu itu
datang dengan lebih dari dua orang.
Saya memesan, agak kaget dengan harga menunya.
Saya pikir itu wajar karena saya tidak sekedar membayar makanan, saya pun membayar
pemandangan di kafe, serta pelayan yang ramah ini. Di meja kasir pun tersedia
tips jika pelanggan senang dengan pelayanan di Jurnal Risa Coffee. Saya yang
tidak makan MSG sempat tanya, “apa tersedia masakan non MSG?” Kasir menjawab
bahwa itu bisa didukung dengan menambahkan catatan. Jadi tidak usah khawatir
soal MSG. Pembayaran pun mudah sekali, bisa membayar dengan QRIS.
Informasi kafenya bisa kamu cari tahu di sini Jurnal
Risa Coffee - Google Maps.
Tak lama setelah menunggu, teman saya datang.
Ternyata ia membawa satu orang teman lagi. Saya tanya pada pelayan, apa bisa
pindah meja. Beruntung hadir lagi, saya mendapatkan meja untuk empat orang. Itu
muat lah ya buat bertiga. Kami bertiga duduk dan bercerita, sambil makan dan
ngopi (meskipun saya pesan susu).
Sekitar dua jam percakapan berlangsung di
antara kami. Saya suka dengar musik yang dimainkan. Pas banget. Saya juga
mengambil foto yang khas banget ada di sana. Teman saya berkomentar, “wajah-wajahnya
orang Sunda banget.” Wah iya, “memang, karena Jurnal Risa dari Bandung,” jawab
ku.
Teman saya berpamitan pulang. Dia dari Jakarta,
dan menawarkan pada saya boleh menginap jika saya berkunjung ke Jakarta. Saya
senang bisa terhubung dengan teman baru dan mendengarkan cerita dengan welas
asih. Dia akan melanjutkan perjalanan ke sebuah perpustakaan di daerah
Arcamanik. Itu terkenal dengan penelitian di bidang agraria.
Panggilan Pameran 2 Kiai Akhir Zaman
Saat jalan kaki melewati gedung Galeri Pusat
Kebudayaan, saya terhenti. Di depan gedung, terlihat ada seorang bapak-bapak
tua sedang melukis. Kemudian nampak poster pameran di depannya. Nama Acep Zamzam
Noor terlihat tidak asing bagi saya. Saya ingat beberapa teman pernah membaca
puisinya. Juga sekilas dosen pecinta seni dan sastra saya bercerita tentang Acep
Zamzam Noor yang merupakan pelukis.
Dalam pameran ini, ditampilkan karya dari Acep
Zamzam Noor dan Ahmad Faisal Imron. Kuratornya adalah Isa Perkasa. Saya
langsung masuk saja, seperti tersedot masuk ke dalam. Di resepsionis, saya mengisi
lembar kehadiran. Saya langsung mengapresiasi karya seni rupa yang dipajang di
sana.
Saya merasa bahwa karya yang dipajang menyiratkan
suatu yang dalam dan juga keras. Saya terpikirkan bahwa daerah Bandung dan
sekitarnya adalah daerah yang nyaman dengan sumber daya memadai, dulunya. Namun,
yang terasa jahat dan tidak bikin nyaman adalah orang-orangnya, sistem sosial
serta budayanya... Membuat budaya pengekangan dan itu mempengaruhi penghayatan
religi dan spiritual di sekitaran sini.
Saya memang merasakannya di diri saya sendiri
bahwa ada jejak kekerasan dan penindasan yang membalut praktik agama dan
spiritual. Penyingkapan lewat karya seni, membuat perhatian saya semakin jelas
dan nyata soal itu. Trauma agama, penindasan berbasis agama.... Begitulah
renungan yang muncul sepanjang mengapresiasi karya-karya seni rupa dari Acep
Zamzam Noor dan Ahmad Faisal Imron.
Renungan saya diafirmasi lewat poster kritik
yang dipasang di dinding. Pengekangan dan budaya, keberagaman... itu kata kunci
yang saya ingat. Saya pun jadi ingat bahwa belakangan ini saya sedang
mengerjakan draf karya pertunjukan tari lintas iman. Awalnya, saya pikir itu
akan selesai dalam waktu dua sampai tiga pekan, tetapi itu memakan waktu lebih
panjang. Saya sedang mempelajari embodied tafsir untuk saat ini untuk
menambahkan referensi di proyek pertunjukan saya.
Refleksinya cukup bikin saya melanglangbuana. Saat
saya mau beli merchandise pameran, ibu resepsionis minta tolong pada
saya untuk buatkan konten media sosial. Saya pikir bahwa saya sedang luang
waktu. Saya bersedia untuk membuat konten media sosial.
Ibu resepsionis bertanya pada saya, “apa mau
kuliah seni?” Saya jawab, “iya saya mau ambil S1 lagi. Sebelumnya saya S1
Psikologi. Namun karena S2 saya memerlukan pengalaman seni maka saya memutuskan
ambil S1 lagi.” Kemudian saya ditawari untuk menjadi relawan bilamana ada
kegiatan-kegiatan pameran di Bandung. Saya bersedia.
Berikut adalah konten media sosial yang saya
posting di Instagram:
Juga informasi pameran nya
Konser Kolaborasi Musik Sufistik
Saya sudah niatkan untuk berjalan kaki ke
rumah. Pas keluar beberapa langkah, saya melihat sebuah poster konser. Sontak
saja saya tertarik dan tanya pada resepsionis, “apa konsernya sudah mulai?”
Saya segera masuk dan ambil tempat duduk.
Tampaknya di dalam sedang sambutan dari dinas pariwisata
dan kebudayaan Kota Bandung. Saya sebut “sufistik” karena pertunjukan musiknya
sangat Zen buat saya. Sebelum tampil, bapak pemusik bilang untuk tutup pintu dan
benar-benar fokus pada musik yang dimainkan. Saya merinding saat mendengarnya.
Sepertinya, lagunya merasuk ke dalam jiwa.
Saya mengizinkan diri saya untuk ikut terlibat.
Saya memang terbiasa mendengarkan musik setiap harinya. Saya ambil kesempatan
untuk mendengarkan lagu yang jarang saya dengarkan. Ini menjadi inspirasi baru
buat saya. Hal yang menarik dari pertunjukan ini adalah adanya kolaborasi musik
Turki dan musik Sunda. Nama bapak pemusik itu adalah Latif Bolat. Beliau adalah
cendekiawan dan pemusik. Katanya beliau akan bawa pulang pengalaman kolaborasi
ini untuk dibagikan di Turki.
Petualangan Akhir Pekan
Petualangan di akhir pekan ini adalah
perjalanan melipir semua. Saya benar-benar mengizinkan diri saya untuk spontan
dan masuk ke tempat-tempat yang tidak terduga dan dapat pelayanan yang penuh
keberuntungan juga. Prosesnya lumayan, agak sebel di awal karena bagaimana pun
juga emosi dan trauma itu prosesnya terus jalan sambil hidup ini terus berlanjut.
Saya gembira bisa melalui perjalanan ini dengan baik dan bisa tiba di rumah
dengan selamat. Saya pun senang bisa jalan kaki sampai 11.041 langkah.
Memulai kembali pekerjaan di hari Senin.
Selamat bekerja dan menulis lagi yes!
Posting Komentar