tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Bagaimana saya mengenali Ableism

Dua pekan lebih berlalu sejak saya kembali tinggal di Bandung. Saya gembira karena kehidupan di sini terasa lebih baik. Saya ingat juga bahwa saya dan orang-orang di sekitar saya di sini sudah berproses cukup panjang melalui konflik untuk saya bisa benar-benar hidup dengan santai seperti saat ini. Dua pekan terakhir terasa berat karena saya menyelesaikan bagasi besar yang saya bawa dari tempat saya tinggal sebelumnya.

Melepaskan pekerjaan memang bukanlah hal yang mudah. Orang lain mungkin bisa berpindah dari satu tempat kerja ke tempat yang lainnya dengan mudah. Namun ketika keterikatan sudah terbentuk di dalam lingkungan keluarga, seseorang perlu memproses duka perpisahan sebelum siap menuju tujuan kerja berikutnya.

Saya habiskan waktu untuk menyegarkan diri saya sendiri. Saya bermain Pokemon Go, berjalan di sekitar sini, bermain Immortal Souls di gawai, dan berolahraga dengan peralatan beban milik adik saya. Kegiatan membantu saya untuk melepaskan penat dan mengembalikan diri saya kepada pijakan. Saya bisa larut dalam keseruan permainan, sambil menyimpan pergumulan yang berat itu untuk nanti.

Beberapa teman saya hubungi untuk berbagi cerita. Kebanyakan dilakukan secara daring di media sosial. Ada beberapa juga yang ditemui secara luring, sekalian siaran di radio Metrum. Poster kegiatan nya ada di bawah.


Pada siaran di Metrum Radio, saya dan teman-teman membaca cerita dan berbagi tentang kesiapan untuk melalui transisi dalam hidup. Saya merasa bahwa keputusan yang saya ambil itu benar. Karenanya, saya bersiap untuk menderita. Banyak wawasan baru dan dukungan yang saya terima. Ternyata saya gak sendirian selama ini (dan masih terus diingatkan).

Mengidentifikasi Kekerasan yang Dialami

Sejak awal saya berpindah kembali ke Bandung, saya kesulitan dalam mengartikulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di tempat bekerja sebelumnya. Ada suatu yang dirasakan kuat bahwa saya direndahkan akan kebutuhan khusus saya. Saya sudah mencoba memutar balik kenangan dan berpindah-pindah perspektif, terutama tentang sistem. Saya bertanya pada diri saya sendiri, “kenapa saya tidak terdukung di sana?” Jawaban dari renungan tersebut adalah diskriminasi ableism.

Saya kutip dari yoursay.suara.com (2020) tentang pengertian ableism:

Ableism adalah istilah untuk fenomena sosial yang menggambarkan sikap diskriminatif dan kekeliruan cara pandang serta prasangka seseorang terhadap seorang penyandang disabilitas. Sikap Ableism juga menitikberatkan perlakuan tidak setara terhadap individu hanya karna disabilitas yang disandangnya. Seorang Ableist, orang yang mempraktikan sikap ableism, mengkarakterkan seorang penyandang disabilitas sebagai individu yang lebih rendah dibandingkan yang bukan penyandang disabilitas.

Saya mulai mengumumkan identitas saya sebagai orang dengan autisme dan ADHD sejak Januari 2022. Saya ingat ibu saya bercerita bahwa saya telah menunjukkan gejala-gejala autisme dan ADHD sejak kecil. Ibu saya mendapatkan informasi itu dari majalah langganan. Sayangnya, akses menuju psikiater dan psikolog pada saat itu terbatas, sehingga sampai saat saya menulis postingan ini, saya masih belum mendapatkan pemeriksaan.

Saya pun hidup dalam pemulihan pasca skizofrenia. Mengenai kesehatan jiwa, ini sudah terdiagnosis sejak 2016 dan saya sembuh di 2018. Setelah sembuh dari skizofrenia, saya berjuang mengatasi kecemasan, depresi, serta gangguan stres pasca trauma. Gejala-gejala ini muncul dan aku sudah berlatih dengan tekun untuk meningkatkan keterampilan mengatasinya. Saya mempraktikkan pemulihan pribadi dan dari situ juga saya memiliki kebebasan untuk menentukan penanganan yang akan dilakukan pada saya.

Dari kondisi-kondisi tersebut, bisa dikatakan saya memiliki kebutuhan khusus yang masuk dalam kelompok intelektual dan mental. Saya bisa bekerja produktif dalam batasan yang sehat dan aman. Sementara bekerja di sana, tempat tinggal pribadi dan tempat bekerja bercampur. Sehingga banyak sekali batasan yang telah diterobos. Meskipun di sana sudah dibuat protokol terinformasi trauma untuk mendukung kondisi saya yang sensitif trauma, itu tidak bisa dilakukan juga karena keluarga angkat di sana ternyata masih berjuang dengan trauma mereka sendiri.

Ternyata itu yang selama ini saya pikirkan dan rasakan. Saya telah mengalami diskriminasi ableism. Diskriminasi itu sudah terjadi sejak awal dan memuncak di akhir.

Meskipun saya sudah meminta validasi dari beberapa teman tentang ableism yang saya alami, saya masih merasa tidak cukup. Itu karena ada keyakinan dari diri saya sendiri bahwa apa yang saya rasakan dan pikiran adalah tidak valid. Keyakinan itu adalah keliru, dampak dari trauma. Perhatian ini muncul beberapa hari setelah saya tiba di Bandung.

Baru-baru ini, saya sudah menyelesaikan surat perpisahan saya kepada teman-teman di pekerjaan yang saya tinggalkan. Saya pun sudah memutuskan untuk tidak lagi terlibat sebagai sukarelawan, meskipun lowongan itu tersedia bagi saya. Dan tulisan ini adalah proses yang ingin saya bagikan bahwa butuh waktu bagi diri saya sendiri untuk benar-benar mengenali apa yang telah terjadi. Mengartikulasikan apa yang saya pikirkan telah membantu saya mengenali dan memahami apa yang terjadi. Cara yang saya lakukan dirasa tepat karena dengan terlepas dari lingkungannya, saya bisa lepas juga dari dinamika penindasan (salah satunya ableism). Karena dinamika penindasan menyebabkan seseorang menjadi sulit menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Di saat ini, saya sedang prihatin karena kesulitan mendapatkan kerja karena ableism. Saya merasa terlalu banyak orang awam yang tidak mengerti kondisi saya dan bagaimana memperlakukan saya dengan baik dan layak di tempat kerja. Saya semacam frustrasi kalau orang yang tidak paham kebanyakan artinya ada yang gak beres dalam pendidikan. Tampaknya memang banyak sekali yang perlu dibenahi dan diadvokasi.

Referensi

Apriyani, T. (2020). Ableism, Sang Pembunuh Karakter Berdarah Dingin. https://yoursay.suara.com/news/2020/01/08/095301/ableism-sang-pembunuh-karakter-berdarah-dingin

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer