Dua pekan lebih berlalu sejak saya kembali tinggal di Bandung. Saya gembira karena kehidupan di sini terasa lebih baik. Saya ingat juga bahwa saya dan orang-orang di sekitar saya di sini sudah berproses cukup panjang melalui konflik untuk saya bisa benar-benar hidup dengan santai seperti saat ini. Dua pekan terakhir terasa berat karena saya menyelesaikan bagasi besar yang saya bawa dari tempat saya tinggal sebelumnya.
Melepaskan pekerjaan memang bukanlah hal yang
mudah. Orang lain mungkin bisa berpindah dari satu tempat kerja ke tempat yang
lainnya dengan mudah. Namun ketika keterikatan sudah terbentuk di dalam
lingkungan keluarga, seseorang perlu memproses duka perpisahan sebelum siap
menuju tujuan kerja berikutnya.
Saya habiskan waktu untuk menyegarkan diri
saya sendiri. Saya bermain Pokemon Go, berjalan di sekitar sini, bermain
Immortal Souls di gawai, dan berolahraga dengan peralatan beban milik
adik saya. Kegiatan membantu saya untuk melepaskan penat dan mengembalikan diri
saya kepada pijakan. Saya bisa larut dalam keseruan permainan, sambil menyimpan
pergumulan yang berat itu untuk nanti.
Beberapa teman saya hubungi untuk berbagi cerita.
Kebanyakan dilakukan secara daring di media sosial. Ada beberapa juga yang
ditemui secara luring, sekalian siaran di radio Metrum. Poster kegiatan nya ada
di bawah.
Pada siaran
di Metrum Radio, saya dan teman-teman membaca cerita dan berbagi tentang kesiapan
untuk melalui transisi dalam hidup. Saya merasa bahwa keputusan yang saya ambil
itu benar. Karenanya, saya bersiap untuk menderita. Banyak wawasan baru dan dukungan
yang saya terima. Ternyata saya gak sendirian selama ini (dan masih terus diingatkan).
Mengidentifikasi Kekerasan yang Dialami
Sejak awal
saya berpindah kembali ke Bandung, saya kesulitan dalam mengartikulasi tentang
apa yang sebenarnya terjadi di tempat bekerja sebelumnya. Ada suatu yang
dirasakan kuat bahwa saya direndahkan akan kebutuhan khusus saya. Saya sudah
mencoba memutar balik kenangan dan berpindah-pindah perspektif, terutama
tentang sistem. Saya bertanya pada diri saya sendiri, “kenapa saya tidak
terdukung di sana?” Jawaban dari renungan tersebut adalah diskriminasi ableism.
Saya kutip
dari yoursay.suara.com
Ableism adalah istilah untuk fenomena sosial yang menggambarkan
sikap diskriminatif dan kekeliruan cara pandang serta prasangka seseorang
terhadap seorang penyandang disabilitas. Sikap Ableism juga
menitikberatkan perlakuan tidak setara terhadap individu hanya karna
disabilitas yang disandangnya. Seorang Ableist, orang yang mempraktikan
sikap ableism, mengkarakterkan seorang penyandang disabilitas sebagai
individu yang lebih rendah dibandingkan yang bukan penyandang disabilitas.
Saya mulai mengumumkan identitas saya sebagai orang dengan autisme dan ADHD sejak Januari 2022. Saya ingat ibu saya bercerita bahwa saya telah menunjukkan gejala-gejala autisme dan ADHD sejak kecil. Ibu saya mendapatkan informasi itu dari majalah langganan. Sayangnya, akses menuju psikiater dan psikolog pada saat itu terbatas, sehingga sampai saat saya menulis postingan ini, saya masih belum mendapatkan pemeriksaan.
Saya pun
hidup dalam pemulihan pasca skizofrenia. Mengenai kesehatan jiwa, ini sudah
terdiagnosis sejak 2016 dan saya sembuh di 2018. Setelah sembuh dari
skizofrenia, saya berjuang mengatasi kecemasan, depresi, serta gangguan stres
pasca trauma. Gejala-gejala ini muncul dan aku sudah berlatih dengan tekun
untuk meningkatkan keterampilan mengatasinya. Saya mempraktikkan pemulihan pribadi
dan dari situ juga saya memiliki kebebasan untuk menentukan penanganan yang
akan dilakukan pada saya.
Dari
kondisi-kondisi tersebut, bisa dikatakan saya memiliki kebutuhan khusus yang
masuk dalam kelompok intelektual dan mental. Saya bisa bekerja produktif dalam
batasan yang sehat dan aman. Sementara bekerja di sana, tempat tinggal pribadi
dan tempat bekerja bercampur. Sehingga banyak sekali batasan yang telah
diterobos. Meskipun di sana sudah dibuat protokol terinformasi trauma untuk
mendukung kondisi saya yang sensitif trauma, itu tidak bisa dilakukan juga
karena keluarga angkat di sana ternyata masih berjuang dengan trauma mereka
sendiri.
Ternyata itu yang selama ini saya pikirkan dan rasakan. Saya telah mengalami diskriminasi ableism. Diskriminasi itu sudah terjadi sejak awal dan memuncak di akhir.
Meskipun saya sudah meminta validasi dari beberapa teman tentang ableism yang saya alami, saya masih merasa tidak cukup. Itu karena ada keyakinan dari diri saya sendiri bahwa apa yang saya rasakan dan pikiran adalah tidak valid. Keyakinan itu adalah keliru, dampak dari trauma. Perhatian ini muncul beberapa hari setelah saya tiba di Bandung.
Baru-baru ini,
saya sudah menyelesaikan surat perpisahan saya kepada teman-teman di pekerjaan
yang saya tinggalkan. Saya pun sudah memutuskan untuk tidak lagi terlibat
sebagai sukarelawan, meskipun lowongan itu tersedia bagi saya. Dan tulisan ini
adalah proses yang ingin saya bagikan bahwa butuh waktu bagi diri saya sendiri
untuk benar-benar mengenali apa yang telah terjadi. Mengartikulasikan apa yang
saya pikirkan telah membantu saya mengenali dan memahami apa yang terjadi. Cara
yang saya lakukan dirasa tepat karena dengan terlepas dari lingkungannya, saya
bisa lepas juga dari dinamika penindasan (salah satunya ableism). Karena
dinamika penindasan menyebabkan seseorang menjadi sulit menyadari apa yang
sebenarnya terjadi.
Di saat ini, saya sedang prihatin karena kesulitan mendapatkan kerja karena ableism. Saya merasa terlalu banyak orang awam yang tidak mengerti kondisi saya dan bagaimana memperlakukan saya dengan baik dan layak di tempat kerja. Saya semacam frustrasi kalau orang yang tidak paham kebanyakan artinya ada yang gak beres dalam pendidikan. Tampaknya memang banyak sekali yang perlu dibenahi dan diadvokasi.
Referensi
Apriyani, T. (2020). Ableism, Sang Pembunuh Karakter Berdarah Dingin. https://yoursay.suara.com/news/2020/01/08/095301/ableism-sang-pembunuh-karakter-berdarah-dingin
Posting Komentar