Kemudian jika tiba-tiba Abimantrana tersenyum keji, terjadilah pembengkokan realita. Iya akan mengubah nasib kebanyakan orang dan kita langsung melihat bahwa banyak orang yang melihat cahaya nya seketika berubah. Seorang penyihir tiba-tiba menjadi tukang, seorang yang lemah menjadi kuat dan sebaliknya, dan masih banyak lagi.
Yang Abimantrana baru temukan adalah bahwa kristal itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Ia harus memecahkan sebagian dari dirinya yang tertangkap dalam kristal. Itu adalah daya prima yang tertanam di situ, dilindungi, dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya. Karena memang selama ini kristal itu ada di dalam Abimantrana, untuk bisa utuh maka kristal itu harus dipecahkan.
Saat kristalnya pecah, Abimantrana bertarung dengan dirinya sendiri yang lebih kuat. Abimantrana kewalahan. Ia belajar sesuatu yang baru pada akhirnya. Potongan itu bukan untuk diperangi, melainkan dirangkul... Abimantrana memeluk bagian dirinya dan perlahan bagian itu melebur menyatu dalam diri Abimantrana.
Tak menyangka bahwa sesuatu yang selalu dianggap lain dan bukan manusia, sebenarnya adalah bagian dari diri yang dilindungi secara tidak sadar. Bagian itu menjadi kristal, tercegah untuk menerima pengalaman dari dunia. Ada keyakinan tidak sadar bahwa dunia ini tidak aman dan nyaman maka harus mengamankan bagian diri tersebut. Tidak nyaman untuk secara tidak sadar menyedot semua luka trauma dan emosi. Orang kelelahan mentalnya dan kewalahan juga. Kondisi ini menarik diri untuk terus sendirian dan berkutat dengan emosi sekunder yang bukan berasal dari diri sendiri. Lelah juga untuk terus menerus mengalirkan emosi yang terserap. Tidak semua perlu diserap dan perlu ada pijakan untuk kembali ke saat ini dan tempat ini.

Posting Komentar