tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

Kamu Ternyata Gak Sendirian

Pada beberapa hari belakangan sampai hari ini, aku bergumul dengan kenangan trauma yang terpicu oleh seseorang. Wawasan baru yang aku dapatkan adalah ternyata ada orang yang mendukung dan menolong ku sepanjang perjalanan hidup ku. Di saat aku sekolah, dan kemudian di masa-masa kuliah. Pengalaman trauma sebelumnya membuat aku belajar bahwa aku sendirian dan tidak ada yang mau menemani dan mendukung aku. Meskipun sebenarnya ada yang mendampingi aku, aku tidak bisa menyadari adanya itu. 

Aku sudah berulang kali melatih diri sendiri untuk bisa menyadari itu. Untuk menghargai kehadiran orang yang sebenarnya hadir untuk mendukungku. Di beberapa kesempatan, aku memahami bahwa aku butuh waktu sendiri untuk mengenali luka yang aku punya dan menyembuhkan nya. Setelah proses itu selesai, maka saya bisa kembali bangkit dan kemudian menyadari orang-orang yang sebenarnya ada di sekitar ku, mendukung ku.

Butuh waktu berapa lama untuk diriku sadar soal itu? Jika dihitung sejak aku memulai perjalanan pemulihan ini, waktunya adalah 6 tahun. Waktu yang selama itu, penuh ketekunan dan penasaran. Aku merasakan keindahan hidup saat pertama kali bisa menyadari kehadiran orang yang mendukung ku. Dan kemudian hidupku mulai merasa lebih ringan, terus menerus, berangsur-angsur.

Bergumul dengan perasaan kesepian bukanlah sebuah hal yang mudah. Perasaan kesepian itu adalah respon trauma, menunjukkan pada diri bahwa ada trauma dalam diri sendiri. Awalnya, aku berusaha mencari kegiatan atau sosok untuk mengganti perasaan kesepian. Namun, tidak bisa. Perasaan itu senantiasa hadir saat aku sedang sendiri. Itu adalah proses diri yang tidak bisa dihindari. Meskipun berusaha kuat dihindari, momen sendiri akan datang lagi dan itu adalah kesempatan untuk bertumbuh.

Aku ingat bahwa aku dulu pernah menolak untuk mencari dukungan. Ada penjelasan soal kenapa orang gak mencari dukungan. Dan berikut adalah poin-poinya (Why So Many People Fail To Seek Help | Burning Tree West, n.d.):

1. Mereka takut. Sulit untuk mengambil langkah maju ke masa depan ketika Anda tidak dapat membayangkan seperti apa masa depan itu. Banyak orang yang berjuang dengan penyakit mental atau kecanduan menjadi takut mengambil lompatan menuju pemulihan – dan itulah yang menahan mereka.

2. Stigmatisasi diri. Masyarakat menempatkan begitu banyak stigma pada kecanduan dan penyakit mental. Kecanduan sering dikategorikan sebagai "kelemahan" atau "kegagalan moral pribadi", sementara penyakit mental dapat dikaitkan dengan "gila". Sayangnya, stigma yang sangat menyakitkan – dan tidak benar – ini dapat diterima dan dipercaya oleh seseorang jika tidak didukung.

3. Mereka tidak melihat bahwa mereka membutuhkan bantuan. Sulit untuk percaya bahwa Anda memerlukan bantuan ketika Anda tidak melihat masalah di sana, dan terkadang individu mungkin merasa bahwa mereka memiliki segalanya di bawah kendali – bahkan jika mereka tidak melakukannya.

4. Mereka tahu bahwa mereka membutuhkan bantuan, tetapi mereka belum siap untuk mencarinya. Ini adalah langkah menuju mencari bantuan, dan dukungan berkelanjutan diperlukan untuk memotivasi seseorang untuk mengambil langkah itu dan menyiapkan perawatan.

5. Ketidakpercayaan terhadap pengobatan. Ini mungkin juga berasal dari stigma; mereka yang kecanduan dan/atau penyakit mental mungkin takut bahwa mereka akan dihakimi oleh terapis mereka dan orang lain dalam tim perawatan kesehatan mereka – dan mereka lebih suka menghindari situasi potensial ini dengan tidak mencari bantuan.

6. Mereka percaya bahwa mereka tidak akan pernah menjadi lebih baik. Sayangnya, ada banyak orang yang percaya bahwa karena faktor genetik, rasa malu, trauma, dll., mereka tidak akan pernah menjadi lebih baik. Dalam banyak kasus, gejala penyakit mental dapat memperburuk jenis pemikiran ini – yang hanya membuat lebih sulit bagi seseorang untuk mengambil langkah menuju pemulihan.

Saat bergumul dengan kesepian, aku bertemu dengan pemikiran dan keyakinan diriku sendiri. Mereka muncul dan menyatakan dirinya. Hadir dan ada dalam penghayatan, terwujud secara alami. Proses penyembuhan dan kesempatan untuk tumbuh memang hadir. Awalnya menolak, kemudian lama-lama juga paham bahwa itu hadir untuk mengingatkan diri tentang diri.

Wawasan baru yang ku dapat adalah perasaan kesepian yang ku alami hadir, kemudian menunjukkan keyakinan tentang “aku tidak layak punya teman yang baik”. Aku ingat ada seseorang yang berteriak itu pada ku. Itu ternyata jadi trauma buat ku. Kemudian aku mengalirkan emosinya keluar dari badan dan melihat lagi kenangan itu. Gara-gara peristiwa trauma itu aku belajar bahwa aku gak layak mendapatkan dukungan dan kasih sayang dari orang-orang sekitar. Itu mewujud dalam ketidakmampuan aku untuk merasakan dukungan sosial. Dukungan sosial yang dirasakan mengacu pada bagaimana individu memandang teman, anggota keluarga, dan orang lain sebagai sumber yang tersedia untuk memberikan dukungan material, psikologis, dan keseluruhan pada saat dibutuhkan (Ioannou et al., 2019). 

Untuk benar-benar siap dalam menerima dukungan orang, perlu tanya ke dalam diri sendiri:

1. Apa yang dibutuhkan?

2. Siapa yang bisa dimintai pertolongan?

3. Bagaimana caranya meminta pertolongan?

4. Bagaimana aku tahu bahwa kebutuhan itu terpenuhi?

Perlu pijakan konkret soal itu. Hati-hati bila kebutuhan yang didefinisikan malah merujuk pada lubang kecil sebesar Tuhan. Diri bisa terus meminta “kebutuhan” tanpa benar-benar memenuhi kebutuhan. Yang dibutuhkan adalah sesuatu tindakan yang nyata yang jelas, bukan perasaan yang abstrak dan tidak dapat diukur. Yang agak sulit bagiku adalah saat mengkomunikasikan kebutuhan. Awalnya rasa kurang nyaman karena tidak dididik untuk melakukan itu. Aku sadar bahwa menawarkan dan meminta pertolongan adalah keterampilan hidup dasar. Ketika keterampilan diri terbangun, dari sosial, dan yang lainnya, ketangguhan bisa terwujud.

Aku sudah menemukan ketangguhan diri setelah menyelenggarakan pelatihan pohon kehidupan. Kemudian bersambut dengan peristiwa yang memicu trauma di sini. Dari peristiwa itu, aku berpikir perlu membangun batasan baru dengan orang-orang di sini. Bahwa aku sudah perlahan-lahan melepaskan dukungan untuk pemulihan dan penyembuhan trauma. Aku juga ingat bahwa konflik dengan keluarga asal sudah teratasi dan batasan yang aman sudah dibangun.

Gak menyangka kalau aku menjadi orang yang tangguh sekaligus hati-hati dalam bertindak dan memperlakukan diri dan orang lain.

Referensi

Ioannou, M., Kassianos, A. P., & Symeou, M. (2019). Coping with depressive symptoms in young adults: Perceived social support protects against depressive symptoms only under moderate levels of stress. Frontiers in Psychology, 9(JAN), 2780. https://doi.org/10.3389/FPSYG.2018.02780/BIBTEX

Why So Many People Fail To Seek Help | Burning Tree West. (n.d.). Retrieved May 23, 2022, from https://www.burningtreewest.com/why-so-many-people-fail-to-seek-help/


Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer