Aku terbangun dari mimpi tentang ibu ku. Emosi takut ku rasakan. Dalam mimpi itu, aku memberanikan diriku untuk menghadapi ibu ku dan bicara yang sesungguhnya tentang apa yang terjadi. Nyatanya, memang ada sebagian besar dari diriku yang aku simpan untuk diriku sendiri dan beberapa teman terpercaya.
Beberapa saat setelah aku bangun, aku ingat kejadian kekerasan yang sudah terjadi beberapa waktu sebelumnya. Aku merasakan marah, kenapa emosinya baru dirasakan sekarang padahal kejadiannya sudah lewat. Aku merasa tidak stabil dan izinkan diriku untuk kembali berpijak. Setelah beberapa lama, aku mengafirmasi diriku bahwa kejadian kekerasan itu benar telah terjadi. Aku butuh bicara terhadap orang yang melakukan kekerasan kepada ku. Aku memberanikan diriku untuk mengirimkan pesan saya soal peristiwa kekerasan yang telah terjadi dan apa yang aku butuhkan. Seperti apa yang aku lakukan dalam mimpi.
Kemudian aku bisa ingat kembali tentang trauma masa kecil yang berhubungan dengan mengelola uang. Waktu itu kondisinya gak nyaman dan bahkan sudah cukup lama merasa gak aman soal keuangan. Aku membangun kebiasaan menabung untuk beli kebutuhan pribadi atau barang yang diinginkan. Namun, uangnya dipaksa oleh seseorang untuk disimpan di dirinya. Seringkali uangnya terpakai dan gak kembali. Itu adalah pengalaman trauma. Aku bisa mengenali bahwa itu adalah dampak kemiskinan yang dialami oleh orang tersebut. Itu mempengaruhi kehidupan aku sekarang.
Aku kembali bertanya soal mimpi semalam. Aku ingat kembali soal sosok anima yang pernah dijelaskan oleh Jung. Anima adalah arketipe yang mengungkapkan fakta bahwa laki-laki memiliki minoritas kualitas feminin (Stead, 2019). Dari pemahaman ku, gambaran anima ini hadir dari bagaimana interaksi aku dengan ibu sepanjang hidup ku. Aku kadan sebut sosok itu sebagai ibu batin yang mengasuh anak batin. Seperti yang dikatakan oleh (2019) bahwa dalam setiap pria ada seorang wanita, dan dalam setiap wanita ada seorang pria; atau lebih tepatnya, ada gambaran tentang pria/wanita ideal, yang, pada umumnya, dibentuk sebagian oleh pengalaman ibu/ayah kita, dan oleh pengaruh budaya dan warisan.
Ibu batin ini mewujud sebagai ibu monster yang mengabaikan anak batin pada refleksi sekitar tahun 2016 – 2017. Saat ibu batin hadir untuk mengasuh aku, aku kembalikan ibu batin untuk mengasuh anak batin. Dengan demikian ibu batin bisa mengenali realitas dan mengasuh anak batin yang terluka penuh borok, begitulah gambaran yang aku lihat dan itu mempengaruhi bagaimana aku melihat diriku sendiri. Pengalaman nya berbeda pada mimpi semalam bahwa ibu batin menampakkan diri sebagai ibu yang menggunakan kain batik dan kebaya. Terlihat lebih berbudaya dan kelas atas. Kemudian dia dengan tenang menerima permintaan ku untuk bicara. Tampaknya gambaran ibu batin berubah sepanjang perkembangan dan pertumbuhan hidup ku.
Stead (2019) menjelaskan lebih lanjut sebagai berikut:
Ekspresi positif dari anima mungkin termasuk kepekaan dan empati, kapasitas untuk hubungan cinta, perasaan untuk alam. Tetapi jika anima ditolak — yaitu, jika seorang pria menekan karakteristik yang mungkin dianggap feminin klasik — anima menjadi cacat: perasaan dan emosi digantikan oleh kemurungan, sentimentalitas, histeria; kesetiaan menjadi posesif; estetika menjadi sensualitas; kelembutan menjadi efeminasi; imajinasi menjadi sekedar berfantasi.
Bagiku pribadi, krisis anima untuk masa kekinian perlu untuk ditafsirkan kembali. Karena diriku sendiri punya pendekatan baru bahwa efeminasi bukan menjadi suatu kelemahan bagi seorang laki-laki. Karena pada era saat ini, ekspresi setiap orang dihargai dan orang boleh menentukan identitas pribadinya dengan lebih merdeka. Bagi saya sendiri, ekspresi positif anima yang ku sadari lewat mimpi semalam menunjukkan padaku bahwa aku kini lebih terbuka dan empatik pada orang-orang di sekitar serta berani untuk menyuarakan bahwa ada ketidakadilan yang aku alami.
Belakangan ini, aku memikirkan soal luka ibu dan bagaimana aku berproses untuk sembuh dari nya. Webster (2021) menyampaikan bahwa kita mungkin ditekan untuk mengabaikan perasaan kita dan menyalahkan diri sendiri, oleh orang-orang yang menyangkal luka Ibu mereka sendiri dalam ungkapan-ungkapan berikut:
- “Dia tidak melakukannya dengan mudah. Jangan membebaninya lagi.”
- “Ibumu mencoba yang terbaik. Kau tahu dia mencintaimu.”
- “Fokus pada kebaikan dalam hubungan. Kamu hanya punya satu ibu.”
Aku pernah mendapatkan ungkapan-ungkapan seperti itu dari orang lain, banyak sekali. Aku jadi mengetahui bahwa mungkin mereka belum selesai dengan luka ibu mereka. Ibu ku pernah mengatakan hal yang serupa karena konten video ku di Instagram. Perkataan itu berlanjut sampai ungkapan, “lihatlah apa yang kamu perbuat, kamu sudah buat ibu mu menangis.” Aku menjawab dengan santai kalau ibu mau menangis itu boleh karena itu tanda kesembuhan bukan kesakitan. Aku lanjut menanyakan pada ibu, apa yang ibu butuhkan. Aku jelaskan pula bahwa lebih baik untuk bilang kebutuhan dan aku juga tambahkan bahwa “selama ini ibu menggunakan emosi ibu untuk mengendalikan orang lain”. Aku sudah cukup soal itu, saatnya menangis sepuasnya, begitulah yang ku pikirkan saat itu. Dari situ, akhirnya ibu cerita soal kebutuhannya. Aku juga menunjuk ungkapan ibu, dan dia menjawab kalau dia tidak mau memproses luka lama, tidak mau ingat lagi bahkan untuk penyembuhan dari itu. Dan dari situ, aku menyadari bahwa perlu ada batasan yang jelas antara aku dan ibu dikarenakan ketidaksiapan beliau untuk menyembuhkan traumanya sendiri. Sementara aku terus memproses trauma untuk belajar keterampilan baru dan bisa melanjutkan kehidupan ku sendiri. Di akhir percakapan antara aku dan ibu, ibu bilang padaku bahwa beliau ingin aku untuk bisa terus melanjutkan kehidupan, mengaktualisasikan diri, dan meninggalkan bekas dunia – karya untuk kemanusiaan. Aku tahu bahwa untuk aku bisa mencapai itu, aku perlu tumbuh dan berkembang. Termasuk menyelesaikan trauma-trauma yang ibu wariskan kepada ku. Itulah titik awal kemerdekaan diri ku dari jerat yang ada di dalam batin ku. Jerat itu dibuat oleh ibu batin ku yang terluka. Saat terlepas, aku menjadi terbebas.
Soal batasan di dalam keluarga, Webster (2021) bercerita...
“Bagi keluarga saya, seorang anak yang menciptakan batasan tampaknya menunjukkan rasa tidak hormat, kurangnya cinta, dan upaya untuk mengendalikan. Saya selalu merasakan ini dengan sangat tajam, tetapi itu tidak pernah benar-benar diartikulasikan. Konflik terbuka dengan ibu saya ini membuatnya sangat jelas bahwa persepsi saya lebih benar daripada yang bisa saya bayangkan.”
Memiliki batasan yang kuat dan membatasi interaksi dengan orang yang tidak sadar adalah bentuk mengibui diri kita sendiri (Webster, 2021). Seperti yang sudah disepakati oleh aku dan ibu ku sebelumnya. Aku dan ibu berhasil membuat batasan baru dalam berinteraksi, yaitu dengan berhenti menggunakan emosi sebagai alat kendali dan belajar untuk mengungkapkan kebutuhan. Ibu ku tidak mampu untuk mendidik literasi emosional kepada anak-anaknya. Itu disebabkan karena di Indonesia pada tahun 2000an informasi tentang pengasuhan aman tidak tersedia untuk khalayak umum. Banyak orang tua yang belum selesai dengan dirinya sehingga secara gak sadar mewariskan trauma-traumanya kepada anak-anaknya. Sehingga beban generasi yang ditimpakan pada generasi ku cukup berat. Untuk bisa melanjutkan kehidupan yang layak dan aman, generasi ku perlu belajar untuk menyembuhkan diri dari trauma dan menghentikan siklus penindasan generasi di diri dan keluarganya. Saat dukungan telah terbentuk di lingkungan kecil, beban mungkin terasa lebih ringan.
Wawasan baru yang ku dapatkan pada hari ini adalah gambaran ibu batin berubah bersamaan dengan proses pendewasaan diri sendiri. Ibu batin yang dulunya serupa monster laba-laba yang menjerat anak-anaknya kini menjelma jadi seorang ibu dengan kain batik dan pakaian kebaya yang bersedia mendengarkan anaknya soal apapun, bahkan hal yang bagi dirinya gak berkenan. Karena ibu bijak yakin bahwa dirinya bisa menjadi pendamping yang baik bagi anak-anaknya.
Referensi
Stead, H. J. (2019, October 2). 4 Carl Jung Theories Explained: Persona, Shadow, Anima/Animus, The Self | by Harry J. Stead | Personal Growth | Medium. https://medium.com/personal-growth/4-carl-jung-theories-explained-persona-shadow-anima-animus-the-self-4ab6df8f7971
Webster, B. (2021). Discovering the Inner Mother. HarperCollins Publishers.
Posting Komentar