Seorang narsis menaruh dirinya di puncak prioritas semua orang, bahkan melalui manipulasi sekalipun. Menyadari bahwa seorang narsis ternyata tumbuh dan hidup dalam diri merupakan sesuatu yang cukup melelahkan. Melahap kebesaran fiktif dan menerima diri secara radikal, telah membawa ku pada kesadaran ini. Bahwa si narsis telah menciptakan suatu mekanisme yang cukup baik hanya untuk melindungi dan mengamankan diriku saja. Ini disertai potensi yang bisa jadi mematikan untuk diri sendiri. Seakan racun yang terus mematikan fungsi tubuh. Ini merupakan sesuatu yang awalnya untuk mengobati diri sendiri.
Bagaimana narsis bisa hadir dalam diri sendiri. Saya menyaksikan dengan samar bahwa ada pengaruhnya dari pengasuhan. Kemudian ini berkembang dan menguat sebagai respon dari peristiwa-peristiwa hidup yang kurang beruntung, melewati bencana kehidupan, menanggung trauma dari pengalaman maupun yang diwariskan dari pengasuh.
Ketika narsis disadari, diri yang rapuh bisa dirasakan dengan baik. Bahwa ada hal yang selama ini dilindungi dengan sangat kuat. Penemuan ini dibantu dari refleksi tentang kesusahan aku tentang seseorang. Ada kualitas diri yang terpantul dari diri orang lain. Melihat orang lain membuat saya melihat diri saya sendiri, seorang narsis yang kesusahan melindungi dirinya sendiri dari peristiwa pengalaman hidup yang menyakitkan.
Bagaimana pun juga, perasaan dan pengalaman perlu untuk dialami secara penuh. Pengalaman hidup yang seperti itu mendorong adanya perkembangan dan wawasan hidup yang baru. Menumpu keyakinan salah lewat pengetahuan-pengetahuan yang salah atau kurang sesuai menciptakan penerimaan realitas yang tidak sesuai juga. Ada proses panjang yang menyebabkan pola narsis hadir dalam seseorang.
Ingat sebuah kasus lalu ketika jadi relawan kesehatan jiwa. Dalam sebuah percakapan, seseorang berkata bahwa gangguan kepribadian itu adalah hal yang cukup sulit disadari oleh penyintasnya sendiri. Penyangkalan yang kuat, itulah salah satu penyebabnya. Memang benar, berdasarkan pengalaman ku, bahwa penyangkalan adalah wujud dari perlindungan diri. Perlindungan diri terbentuk sebagai bagian dari respon terhadap peristiwa hidup. Bersamaan dengan itu, emosi yang terpendam di dalam menciptakan nilai-nilai keyakinan yang membentuk kepribadian seseorang.
Mengurai emosi biasa dilakukan sehari-hari. Itu sebabnya nilai-nilai keyakinan bisa dipecah dengan mudah. Bagiku, beberapa tahun sudah berlalu sejak berlatih dan melakukan pengaliran emosi. Sehingga apa yang membelenggu bisa pecah dan terurai.
Pergumulan seorang narsis adalah mentransformasikan pola perlindungan menjadi pola pertumbuhan.
Posting Komentar