tiqUNlKhA9rYA6EcjzIC9JgyYepNTgUokUaq6D7G
Terjemahan

kini aku bisa memilih


Aku baru sadar bahwa keyakinan akan keharusan membuat aku kehilangan kesempatan untuk memilih. Karena keyakinan akan keharusan, semua pilihan menjadi telah ditentukan sebelumnya. Aku terpaku pada sebuah jalur yang aku gak tahu ke mana arahnya. Sementara, aku tahu bahwa hidup gak sesempit yang aku yakini.

Untuk merespon tema 1minggu1cerita mengenai pilih, aku membagikan refleksi terbaru aku mengenai pilihan dan kesempatan.

Pemahaman ini aku temukan setelah mengurai trauma pendidikan yang ternyata disebabkan oleh ibuku. Waktu itu, aku merasa tidak punya kesempatan untuk memilih apakah aku mau ikut sekolah agama atau tidak. Aku merasa dijerumuskan ke tempat bagai neraka itu. Ketika kondisi kesehatan mental ku menurun karena tidak dapat mengatasi situasi di sekolah agama, ibu tidak mampu mendeteksi itu dan berpegang teguh atas keyakinan yang kurang sesuai padaku  bahwa aku harus bersekolah agama. Kejadian ini berulang secara terus menerus dari pilihan masuk SD, memilih ekskul ketika SMP, dan banyak pilihan hidup lainnya. Bahkan ketika aku dipaksa melanjutkan kuliah di kondisi mental ku yang kurang baik sehingga aku membutuhkan cuti. Kebutuhan aku diabaikan begitu saja.

Kepribadian ku terbunuh oleh ketidakberdayaan ini. Aku mengembangkan keyakinan bahwa aku perlu menentukan rencana ku dari awal. Namun berakhir kacau karena aku tidak memberikan diriku kesempatan untuk memilih. Sama seperti yang ibuku lakukan padaku.

Setelah aku sadar pola kaku trauma yang begini, aku mengizinkan diriku untuk tidak berpegang teguh pada tujuan hidup yang sudah ku tentukan sebelumnya. Aku belajar untuk terbuka terhadap undangan yang hidup berikan pada ku. Prosesnya, tentu saja tidak mudah dan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. 

Mungkin salah satu hal yang baru ku pelajari adalah menolak permintaan orang, termasuk permintaan ibu yang memaksa. Aku udah lelah dijejali ekspektasi yang berlebihan buat aku. Ditambah diriku yang rentan trauma akibat ulah orang tua ku sendiri. Aku tidak akan membiarkan mereka (orangtua) menambah kesulitan dalam hidupku. Aku sudah cukup dengan trauma berkepanjangan yang mereka wariskan kepada ku yang aku tangani dan sembuhkan sendiri.

Sebagai penutup dari refleksi ini, kini aku punya kebebasan untuk memilih jalan hidupku sendiri. Begitu aja sih. Setelah proses panjang rekonsiliasi dengan orang tua, aku berhasil tiba di titik ini. Aku perlu memperhatikan kondisi kesehatan jiwaku juga fisikku. Supaya aku bisa melanjutkan kehidupan ke tahapan yang berikutnya.

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkomentar
Populer