Saatnya mengatakan "berhenti" atas kemelut dan keinginan irasional yang diminta anak batin. Dari rengekannya yang mengganggu di kala aku akan tidur, terdapat sebuah pesan bahwa aku perlu memulai untuk mempercayai orang lain. Trauma sudah melindungi aku dari ancaman orang lain ketika aku mulai percaya pada orang lain. Namun itu membuat aku kelelahan karena aku sendirian mengatasinya. Ketidakpercayaan ini membuat aku lelah. Aku sadar bahwa itu adalah respons trauma.
Seseorang mengirim pesan padaku, "bagaimana jika kamu mulai mempercayai orang lain?" Aku berpikir bahwa itu adalah ide yang bagus. Ketika pesan masuk, orang-orang mengirimkan aku pernyataan kasih sayang dan kepeduliannya. Aku terima secara penuh, secara perlahan-lahan. Aku mengingatkan pada diriku, bahwa diriku aman. Sehingga respons trauma untuk melindungiku tidak lagi diperlukan. Aku coba, dan yang hadir adalah waspada. Luka masih ada dan hadir dalam bentuk kewaspadaan. Aku pikir intensitasnya kurang dari ketakutan yang muncul sebelumnya.
Gejala fisik yang ku alami adalah sakit kepala. Interaksi dengan orang lain membuat ketegangan di kepala ini menjadi ringan berangsur-angsur. Pola kaku ini perlu ku atasi dengan belajar pola-pola yang penuh kemudahan.
![]() |
| brown and white wolf photo – Free Animal Image on Unsplash |

Posting Komentar