Pikiran-pikiran penuh cemas muncul sejak pagi hari. Gejala berikutnya datang, sakit kepala dan sulit berkonsentrasi. Rasanya pandangan diri ku dipenuhi kabut dan aku tidak tahu bagaimana untuk berpijak. Aku mulai berbicara sendiri menggerutu tentang hal-hal yang aku cemaskan. Aku merasa tidak aman, rasanya aku ingin kabur. Dan akhirnya, aku sadar.
![]() |
| Frame vector created by upklyak - www.freepik.com |
Praktik mengelola kecemasan perlu dilatih setiap hari. Aku baru tahu bahwa apa yang aku alami adalah kecemasan. Aku awal nemu kalau apa yang aku pikirkan bukanlah tentang apa yang terjadi padaku tetapi mengenai ketakutan-ketakutan ku tentang kegagalan yang mungkin terjadi di masa depan atau mengingat kembali betapa menyedihkannya diriku karena tidak dapat mengatasi suatu permasalahan dengan baik, atau pikiran tentang seseorang mungkin akan menyakiti aku.
Kini, aku merasa begitu pecundang karena secara tidak sadar tidak mau menghadapi ketakutan ku sendiri. Aku begitu malu dan kasihan pada diriku sendiri. Setelah sadar, barulah paham dan ambil kesempatan untuk mengalami polanya. Aku mengatasinya secara intuitif. Aku tanya pada diriku, “apa yang kamu mau lakukan?”. Kemudian aku melakukan serangkaian perawatan diri dari makan, mandi, buang air kecil dan juga besar.
Lalu setelah itu, aku mulai kembali berpijak dan kesadaran ku kembali ke tubuh ku. Aku ngeh kalau aliran darahku terfokus ke kepala ketika aku cemas dan dampaknya aku merasa kelelahan padahal fisik yang lain masih dalam kondisi prima. Aku merasa perlu mengarahkan perhatian aku pada tubuh ku dan menyadarinya supaya diriku terbiasa untuk berpijak setiap waktu. Aku kemudian sadar mengenai pola kecemasan yang aku alami dan apa penyebabnya. Dari keseluruhan pengalaman hari ini, aku belajar bahwa aku perlu membangun kebiasaan yang kurang cemas. Itu ku mulai hari ini.


Posting Komentar