Belakangan ini, aku menghadapi kesusahan. Perasaan kesepian melanda, aku berpikir bahwa aku tak berhak punya teman dan aku berhak untuk sendirian. Aku periksa pikiran ku sendiri, juga bagaimana tubuh ku merespon itu. Yang ku rasakan di tubuhku adalah sakit di area kepala. Ibarat terbentur setelah kecelakaan hebat. Aku tidak bisa fokus selama seharian ini. Aku berpikir bahwa aku tidak mampu mengatasi pengalaman ini. Itu adalah pola kaku trauma.
Sejauh ini, aku melakukan interaksi dengan teman secara baik. Aku memperhatikan batasan dan memberikan keamanan dan kenyamanan yang bisa ku upayakan. Kondisi kesusahan ini membuat aku lupa bahwa aku sudah punya lingkaran pertemanan yang bagus. Aku mendengarkan lebih dalam soal kesusahan ku. Diriku meminta untuk ditemani oleh seorang sahabat atau pasangan hidup. Aku hanya punya diriku saja untuk sekarang. Karenanya aku memahami bagaimana luka ini bisa muncul ke permukaan.
Aku mulai menerima bahwa ini adalah panggilan pertolongan dari diriku sendiri. Aku menyadari bentuk pikiran yang muncul, perasaan yang hadir, dan proses yang aku lalui. Secara gak sadar, aku berupaya untuk mengalihkan diriku dari pengalaman itu. Karena aku berpikir, secara tidak sadar, bahwa hal itu adalah hal yang menyakitkan. Aku tidak mau lagi kehilangan, dari situ aku merasa aku gagal sebagai seorang individu. Di sisi lain, aku sadar bahwa itu bukanlah kesalahan aku. Memang pada saat-saat tertentu, orang belajar bahwa suatu hubungan mungkin tidak akan berjalan lagi sehingga memutuskan untuk mengakhirinya saja. Peristiwa berpisahnya aku dengan beberapa orang, mengingatkan aku pada kesakitan yang berasal dari interaksi aku dengan pengasuh ku.
Aku tidak punya sumberdaya untuk mengatasi peristiwa-peristiwa dalam kehidupan. Aku tidak mampu memahami peristiwa yang terjadi sehingga terbentuklah pola-pola kaku kesusahan. Ini menunjukan betapa rapuhnya diriku. Pengasuhan kembali sudah diupayakan pengasuhan ulang pada diri sendiri. Diri sudah jadi lebih baik, tetapi pola kaku masih bertahan. Luka memang masih ada dan kambuh mungkin terjadi, seperti yang aku alami hari ini. Ketika kondisi seperti ini, aku berpikir tak apa mengatasi pikiran kesepian dengan sekedar menyapa teman atau sedikit bercanda dengan teman. Hubungan dan koneksi, yang paling sederhana pun perlu dirayakan dan dimaknai. Dengan begitu, perasaan kesepian tergantikan oleh perasaan terpenuhi... dan ini perlu untuk dilatih.

Posting Komentar